mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini25
mod_vvisit_counterKemarin12
mod_vvisit_counterMinggu ini52
mod_vvisit_counterMinggu lalu135
mod_vvisit_counterBulan ini247
mod_vvisit_counterBulan lalu430
mod_vvisit_counterTotal166515
Polling
Komentar anda tentang website PPSW Sumatra ini
 

Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) menggelar workshop peningkatan partisipasi perempuan dalam Musrenbang di Aula IPS Center, Kota Sigli, Kamis (19/2). Kegiatan tersebut sebagai upaya peningkatan kapasitas perempuan dalam membangun masyarakat serta partisipasinya dalam sektor pembangunan.

Sejumlah 20 perempuan dari Kecamatan Sakti, Pidie, berpartisipasi sebagai peserta dalam kegiatan tersebut. Peserta di harapkan dapat membangun komunikasi dalam usaha meningkatkan peran membangun masyarakat setelah mengikuti acara itu.

Ketua pelaksana, Erlina Juita S.Si, mengatakan selapas mengikuti acara tersebut, perempuan mampu memberi kontribusi terhadap pembangunan sektor perempuan. “Para peserta nantinya akan menyusun program yang akan ditawarkan dalam usaha pembangunan serta menjadi kontribusi dalam proses pembangunan di tingkat komunitasnya,” kata Erli kepada Harian Aceh, kemarin.

Kaum perempuan, kata Erli diharapkan membangun komunikasi antar pihak terutama perempuan dalam usaha memajukan pembangunan yang selama ini di terapkan di wilayahnya. Acara workshop tersebut berlangsung selama 2 hari, dengan difasilitasi Abdullah Abdul Muthalib dan Arman Fauzi dari Gerak Aceh.

Last Updated (Friday, 23 April 2010 14:27)

 

Perempuan Aceh harus mampu mebuat sejarah, melalui tulisan-tulisan yang dituangkan dalam buku. Selama ini, Aceh masih sangat minim partisipasi perempuan dalam menulis, baik penulisan tentang perempuan itu sendiri maupun menyangkut dengan kondisi mereka di tengah-tengah masyarakat.

Demikian diungkapkan Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), Endang Sulfiana, dalam Workshop Penulisan Buku, di Hotel The Pade, Banda Aceh, Selasa (2/06). Kegiatan tersebut hasil kerjasama dengan The Asia Foundation yang berlangsung selama lima hari, 1-5 Juni 2009.

Katanya, Aceh sangat kaya dengan sejarah, namun perempuan Aceh belum terlibat perannya dalam pengabdian sejarah tersebut yang di tuangkan dalam bentuk penulisan buku. Karena mereka para perempuan kurangnya kapasitas terutama dalam menulis.

“Begitu banyak sejarah Aceh yang mesti menjadi perhatian kita, cuma hal tersebut tidak mampu di tuangkan menjadi sebuah buku. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kapasitas perempuan dalam dunia tulis menulis” kata Endang di sela-sela acara yang diikuti 20 perempuan dari Bireuen, Pidie, dan Aceh Besar.


Last Updated (Friday, 23 April 2010 14:26)

 

Pada kamis (19/3) LSM PPSW yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan mengadakan dialog publik calon anggota legislatif dengan tema memilih yang cerdas memilih yang berkualitas digedung Multi Marga Bagansiapiapi, undangan telah di layangkan ke 34 Partai Politik yang mengusung caleg nya di Kab Rokan Hilir khususnya di Daerah Pemilihan 1, namun hanya 6 Partai politik yang berani datang untuk mau berdialog langsung dengan masyarakat umum diantaranya PKS, Partai Pakar Pangan, PNI Marhaenisme, Partai Patriot dan Partai Amanat Nasional, sekitar 30 menit acara berlangsung Partai PDK baru datang memenuhi undangan LSM tersebut.

Acara dimulai dengan pemaparan visi dan misi caleg dari masing masing partai, setiap caleg diberi kesempatan 15 menit untuk menerangkan visi dan misinya, adapun masing masing partai visi misinya hampir sama untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat baik itu dari segi pendidikan, pembangunan, berobat gratis dan penciptaan lapangan pekerjaan. Para undangan sangat antusias mendengar visi dan misi para caleg utusan partai tersebut, mereka berpendapat bahwa program yang diusung para caleg semuanya bagus bagus.

Pada saat giliran Partai PNI Marhenisme, H,Maslan,SH memberikan paparan politik garis perjuangan partainya, ia menerangkan bahwa PNI Marhaenisme adalah Partai yang sudah lama terbentuk sejak tahun 1927 oleh Presiden Soekarno, tekanan tekanan yang dilakukan oleh rezim orde baru terhadap PNI tidak membuat Partai PNI surut dan tetap eksis sampai sekarang, visi dan misi PNI terhadap keberpihakan kaum miskin sesuai dengan komitmen partai telah berlangsung lama karena paham Marhaen adalah ideologi untuk masyarakat miskin, program kami tidak muluk muluk, pembangunan gedung fisik didaerah apabila tidak sejalan dengan pembangunan ekonomi adalah pekerjaan sia sia, katanya.

Masyarakat sekarang butuh makan nasi bukan butuh makan semen, pasir atau batu. Makanya pengalokasian dana untuk masyarakat miskin sangat diperlukan baik itu bantuan untuk usaha ekonomi mikro maupun bantuan bantuan lain yang bersifat memberdayakan masyarakat miskin, dengan secara spontanitas para panelis memberikan aplaus kepada Pak Haji Maslan,SH. Harapan beliau apabila ada caleg legislatif yang memberikan uang pada saat pemilihan jangan dipilih calon tersebut, kalau dikasi ambil saja, karena biaya politik yang dikeluarkan untuk memberi uang saat hari pemilihan atau istilah serangan fajar akan diminta kembali dengan cara korupsi seandainya ia telah menjabat sebagai anggota DPRD.

Last Updated (Friday, 23 April 2010 14:34)

 
Translator


Internal Link
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Jakarta, Indonesia