Nurlaela, Perempuan Buruh Melinjo yang Menjadi Pelaku Usaha

“Saya ingin menjadi  wirausaha perempuan yang sukses dan dapat mengembangkan usaha, sehingga dapat mengangkat perekonomian keluarga maupun perempuan di lingkungan saya.” Harapan Nurlaela salah satu penerima manfaat dampingan Asosiasi PPSW

Tinggal di daerah terpencil di salah satu sudut kabupaten Pidie, Aceh, tak lantas membuat ibu 3 anak ini menyerah dengan keadaan ekonomi yang sulit. Nurlaela ibu rumah tangga berusia 48 tahun, kini beralih menjadi seorang pelaku usaha emping dari sebelumnya menjadi buruh tumbuk emping di pengepul sehingga mampu menjadi inspirasi bagi ibu-ibu di sekitarnya untuk berani berwirausaha.

Nurlaela adalah salah satu perempuan akar rumput di Aceh yang menjadi penerima manfaat pada program Pengembangan Bisnis Makanan melalui Kolaborasi Perempuan Pelaku Usaha Mikro dan Perempuan Muda Calon Pengusaha Milenial yang dilaksanakan oleh Asosiasi PPSW di daerah Aceh. Program ini merupakan program lanjutan yang didukung oleh BNP Paribas Management untuk meningkatkan Ekonomi para pelaku usaha perempuan akar rumput melalui pemasaran digital.

Nurlaela memiliki semangat yang besar untuk mengangkat perekonomian keluarganya. Sebelum membuka usaha emping, setiap harinya Nurlaela menjadi buruh tani di sawah orang pada pagi hari dan sorenya dia bekerja menjadi buruh geprek melinjo. Pendapatan Nurlaela sangat minim sekali, walaupun dia bekerja di 2 tempat setiap harinya kenyataannya penghasilan nya masih belum bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga nya. “Sebelum mengikuti program paribas ini, ibu nurlaila bekerja double job, pertama menggarap sawah orang lain, kemudian dia juga menerima buruh tumbuk melinjo orang” penjelasan Erlina direktur PPSW Aceh.

Bagi Nurlaela mencari uang sendiri dengan cara memproduksi emping bukan hanya sebatas membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi ingin dikenal sebagai pelaku usaha perempuan. Ketika mulai terlibat menjadi peserta dalam program paribas periode pertama, Ibu Nurlaila mulai memiliki motivasi agar tidak lagi menjadi buruh. Melalui PPSW Aceh, Nurlaela mulai mengenal kelompok dampingan daerah PPSW lainnya, sesama kelompok dampingan mereka saling support dan motivasi agar bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

“saya itu udah lama ingin sekali punya usaha emping sendiri, bukan lagi dapat upah sebagai penumbuk emping Toke. Kalau hanya mendapatkan upah dari Toke penghasilannya itu sangat kecil sekali tidak punya kesempatan untuk berkembang. Tetapi karena saya tidak punya modal untuk beli meninjo sendiri jadi saya masih menerima upah Toke saja” Cerita Nurlaela yang sudah lama ingin mempunyai usaha sendiri.

Asosiasi PPSW melihat bahwa Nurlaela memiliki potensi untuk menjadi pelaku usaha perempuan yang sukses bahkan bisa menjadi contoh di kampung nya, akan tetapi karena minim nya penghasilan keluarga tidak memungkinkan untuk memiliki modal untuk usaha sendiri. Oleh karena itu melalui PPSW Aceh Nurlaela diberikan stimulasi usaha sebesar Rp. 200.000 untuk membeli bahan baku pertama nya. Hari demi hari modal tersebut terus diputar nya sebagai modal usaha. Sehingga sekarang Nur Laila mulai rutin dan  merasa senang dan semangat melakukan produksi emping nya.  “Dulu masih numbuk punya orang, sekarang Alhamdulillah sudah punya usaha sendiri…” penjelasan Nur laila.