Tabungan Kedaulatan Pangan

Festival Kedaulatan Pangan di Tanah Borneo

Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Borneo, Reny Hidjazie mengatakan tida bisa dipungkiri perempuan juga memiliki peran dalam setiap tahapan baik dalam produksi, pengolahan maupun penyiapan pangan.  “Namun sebagai kelompok yang berperan sentral dalam pangan perempuan masih terbatas akses dan kontrolnya terhadap sumberdaya pangan,” katanya kepada Pontianak Post usai menghadiri usai mengikuti Festival Pangan dan Peringatan Hari Perempuan Internasional, Minggu (8/3) di Halaman Kantor Camat Rasau Jaya.

Menurutnya, walaupun sudah terjadi perubahan kebijakan pertanian yang tadinya hanya menyasar kepada kelompok tani yang didominasi laki-laki, saat ini sudah mulai ada kesadaran untuk melibatkan kelompok petani perempuan dalam program-program pertanian. “Namun keterlibatan ini masih terbatas pada tingkat partisipasi saja, karena sebagian besar tanah pertanian masih atas nama laki-laki kendatipun dalam tahapan proses pertanian perempuan juga terllibat.  Pimpinan kelompok-kelompok tani juga masih didominasi oleh laki-laki,” paparnya.

Sejauh ini Reny menilai masih ada stereotype bahwa pertanian adalah urusan laki-laki, kalaupun perempuan terlibat sifatnya hanya membantu yang utamanya adalah pekerjaan di rumah tangga. “Padahal kenyataannya di lapangan tidak seperti itu perempuan juga memiliki peran besar. Karena kaum perempuan menanggung beban ganda dimana harus terlibat pada keseluruhan proses pertanian dan bertanggungjawab pada urusan domestik rumah tangga,” ungkapnya.

Reny menceritakan selama ini banyak  petani perempuan yang belum sejahtera. Menurut Reny, para petani perempuan ini menghasilkan dan menyediakan pangan, turun ke ladang dari jam 3 subuh, lanjut mengolah sawah, mengurus rumah, mengolah pangan untuk ketersediaan di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan  lainnya, namun selama ini sebagian besar dari petani perempuan tersebut belum mendapatkan hasil balik terhadap upaya  yang mereka usahakan.  “Misalnya masih banyak petani perempuan kita yang belum punya kesempatan sekolah tinggi, belum secara khusus tersedia pelayanan kesehatan untuk petani perempuan padahal mereka berisiko terkena dampak dari pestisida, yg beresiko terhadap kesehatan apalagi kesehatan reproduksinya, tingkat kesejahteraan yang rendah upah yg minim, lahanpun bukan atas namanya dan karena status dalam KTP nya sebagai ibu rumah tangga maka mereka tidak bisa mendapatkan akses program peningkatan kapasitas pemberdayaan dan kesejahtraan yang tersedia,” terangnya.

Untuk mendorong peran dan peningkatan pemberdayaan kaum perempuan tersebut, lanjutnya saat ini  PPSW Borneo tengah menggencarkan tabungan kedaulatan pangan disejumlah daerah di Kalimantan Barat.

Reny Hidjazie menerangkan, gerakan tabungan kedaulatan pangan ini membekali pada kader perempuan di wilayah kerjanya seperti di Kecamatan Rasau Jaya, Sungai Raya dan Sungai Kakap di Kabupaten  Kubu Raya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan perubahan iklim, gizi dan kesehatan dan budidaya tanaman pangan lokal berkelanjutan.

“Di Kubu Raya, khususnya wilayah Rasau Jaya sendiri, kami memiliki sekitar 11 kelompok binaan dengan 200 an kader yang akan dibimbing dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan, perubahan iklim, gizi kesehatan dan budi daya tanaman pangan lokal berkelanjutan,” kata Reny Hidjazie.

Sejauh ini Reny menilai masih ada stereotype bahwa pertanian adalah urusan laki-laki, kalaupun perempuan terlibat sifatnya hanya membantu yang utamanya adalah pekerjaan di rumah tangga. “Padahal kenyataannya di lapangan tidak seperti itu perempuan juga memiliki peran besar. Karena kaum perempuan menanggung beban ganda dimana harus terlibat pada keseluruhan proses pertanian dan bertanggungjawab pada urusan domestik rumah tangga,” ungkapnya.

Reny menceritakan selama ini banyak  petani perempuan yang belum sejahtera. Menurut Reny, para petani perempuan ini menghasilkan dan menyediakan pangan, turun ke ladang dari jam 3 subuh, lanjut mengolah sawah, mengurus rumah, mengolah pangan untuk ketersediaan di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan  lainnya, namun selama ini sebagian besar dari petani perempuan tersebut belum mendapatkan hasil balik terhadap upaya  yang mereka usahakan.  “Misalnya masih banyak petani perempuan kita yang belum punya kesempatan sekolah tinggi, belum secara khusus tersedia pelayanan kesehatan untuk petani perempuan padahal mereka berisiko terkena dampak dari pestisida, yg beresiko terhadap kesehatan apalagi kesehatan reproduksinya, tingkat kesejahteraan yang rendah upah yg minim, lahanpun bukan atas namanya dan karena status dalam KTP nya sebagai ibu rumah tangga maka mereka tidak bisa mendapatkan akses program peningkatan kapasitas pemberdayaan dan kesejahtraan yang tersedia,” terangnya.

Untuk mendorong peran dan peningkatan pemberdayaan kaum perempuan tersebut, lanjutnya saat ini  PPSW Borneo tengah menggencarkan tabungan kedaulatan pangan disejumlah daerah di Kalimantan Barat.

Reny Hidjazie menerangkan, gerakan tabungan kedaulatan pangan ini membekali pada kader perempuan di wilayah kerjanya seperti di Kecamatan Rasau Jaya, Sungai Raya dan Sungai Kakap di Kabupaten  Kubu Raya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan perubahan iklim, gizi dan kesehatan dan budidaya tanaman pangan lokal berkelanjutan.

“Di Kubu Raya, khususnya wilayah Rasau Jaya sendiri, kami memiliki sekitar 11 kelompok binaan dengan 200 an kader yang akan dibimbing dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan, perubahan iklim, gizi kesehatan dan budi daya tanaman pangan lokal berkelanjutan,” kata Reny Hidjazie.

Sejauh ini Reny menilai masih ada stereotype bahwa pertanian adalah urusan laki-laki, kalaupun perempuan terlibat sifatnya hanya membantu yang utamanya adalah pekerjaan di rumah tangga. “Padahal kenyataannya di lapangan tidak seperti itu perempuan juga memiliki peran besar. Karena kaum perempuan menanggung beban ganda dimana harus terlibat pada keseluruhan proses pertanian dan bertanggungjawab pada urusan domestik rumah tangga,” ungkapnya.

Reny menceritakan selama ini banyak  petani perempuan yang belum sejahtera. Menurut Reny, para petani perempuan ini menghasilkan dan menyediakan pangan, turun ke ladang dari jam 3 subuh, lanjut mengolah sawah, mengurus rumah, mengolah pangan untuk ketersediaan di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan  lainnya, namun selama ini sebagian besar dari petani perempuan tersebut belum mendapatkan hasil balik terhadap upaya  yang mereka usahakan.  “Misalnya masih banyak petani perempuan kita yang belum punya kesempatan sekolah tinggi, belum secara khusus tersedia pelayanan kesehatan untuk petani perempuan padahal mereka berisiko terkena dampak dari pestisida, yg beresiko terhadap kesehatan apalagi kesehatan reproduksinya, tingkat kesejahteraan yang rendah upah yg minim, lahanpun bukan atas namanya dan karena status dalam KTP nya sebagai ibu rumah tangga maka mereka tidak bisa mendapatkan akses program peningkatan kapasitas pemberdayaan dan kesejahtraan yang tersedia,” terangnya.

Untuk mendorong peran dan peningkatan pemberdayaan kaum perempuan tersebut, lanjutnya saat ini  PPSW Borneo tengah menggencarkan tabungan kedaulatan pangan disejumlah daerah di Kalimantan Barat.

Reny Hidjazie menerangkan, gerakan tabungan kedaulatan pangan ini membekali pada kader perempuan di wilayah kerjanya seperti di Kecamatan Rasau Jaya, Sungai Raya dan Sungai Kakap di Kabupaten  Kubu Raya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan perubahan iklim, gizi dan kesehatan dan budidaya tanaman pangan lokal berkelanjutan.

“Di Kubu Raya, khususnya wilayah Rasau Jaya sendiri, kami memiliki sekitar 11 kelompok binaan dengan 200 an kader yang akan dibimbing dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan, perubahan iklim, gizi kesehatan dan budi daya tanaman pangan lokal berkelanjutan,” kata Reny Hidjazie.

Sejauh ini Reny menilai masih ada stereotype bahwa pertanian adalah urusan laki-laki, kalaupun perempuan terlibat sifatnya hanya membantu yang utamanya adalah pekerjaan di rumah tangga. “Padahal kenyataannya di lapangan tidak seperti itu perempuan juga memiliki peran besar. Karena kaum perempuan menanggung beban ganda dimana harus terlibat pada keseluruhan proses pertanian dan bertanggungjawab pada urusan domestik rumah tangga,” ungkapnya.

Reny menceritakan selama ini banyak  petani perempuan yang belum sejahtera. Menurut Reny, para petani perempuan ini menghasilkan dan menyediakan pangan, turun ke ladang dari jam 3 subuh, lanjut mengolah sawah, mengurus rumah, mengolah pangan untuk ketersediaan di rumah dan melakukan beberapa pekerjaan  lainnya, namun selama ini sebagian besar dari petani perempuan tersebut belum mendapatkan hasil balik terhadap upaya  yang mereka usahakan.  “Misalnya masih banyak petani perempuan kita yang belum punya kesempatan sekolah tinggi, belum secara khusus tersedia pelayanan kesehatan untuk petani perempuan padahal mereka berisiko terkena dampak dari pestisida, yg beresiko terhadap kesehatan apalagi kesehatan reproduksinya, tingkat kesejahteraan yang rendah upah yg minim, lahanpun bukan atas namanya dan karena status dalam KTP nya sebagai ibu rumah tangga maka mereka tidak bisa mendapatkan akses program peningkatan kapasitas pemberdayaan dan kesejahtraan yang tersedia,” terangnya.

Untuk mendorong peran dan peningkatan pemberdayaan kaum perempuan tersebut, lanjutnya saat ini  PPSW Borneo tengah menggencarkan tabungan kedaulatan pangan disejumlah daerah di Kalimantan Barat.

Reny Hidjazie menerangkan, gerakan tabungan kedaulatan pangan ini membekali pada kader perempuan di wilayah kerjanya seperti di Kecamatan Rasau Jaya, Sungai Raya dan Sungai Kakap di Kabupaten  Kubu Raya dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan perubahan iklim, gizi dan kesehatan dan budidaya tanaman pangan lokal berkelanjutan.

“Di Kubu Raya, khususnya wilayah Rasau Jaya sendiri, kami memiliki sekitar 11 kelompok binaan dengan 200 an kader yang akan dibimbing dan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang kedaulatan pangan, perubahan iklim, gizi kesehatan dan budi daya tanaman pangan lokal berkelanjutan,” kata Reny Hidjazie.

Para pemimpin dan kader perempuan yang telah diberikan pendampingan tersebut lanjutnya akan berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada perempuan lainnya yang berada di lingkungan dan kelompoknya. “Mereka membudidayakan tanaman pangan lokal dengan prinsip-prinsip berkelanjutan untuk memutus ketergantungan pada pupuk dan obat-obatan kimia dan mengurangi pencemaran air, tanah dan udara,” jelasnya.

Setiap anggota kelompok kata Reny akan membudidayakan tanaman pangan di rumahnya masing-masing dan secara kolektif membuat kebun kelompok.  “Hasil dari panen sebagian untuk konsumsi keluarga dan sebagian disimpan dalam bentuk tabungan gerakan kedaulatan pangan,” jelasnya.

Di Rasau Jaya sendiri, kata Reny diketahui cukup banyak memiliki hasil bumi seperti  padi, jagung, sayur-sayuran dan tanaman hortikultura lainnya. Tidak sekedar membantu sang suami untuk bertani dan berkebun, realita di lapangan lanjutnya cukup banyak kaum hawa yang terlibat langsung untuk menyiapkan lahan, menanam, merawat hingga turut memanen hasil bumi yang ditanam. “Makanya kami lihat sangat penting untuk meningkatkan kaasitas dan peran kaum perempuan dalam memperjuangkan kedaulatan pangan ini,” jelasnya.

Camat Rasau Jaya, Suhartono menambahkan sangat mendukung upaya peningkatan kaum perempuan menuju realisasi kedaulatan pangan di Kubu Raya. Menurutnya, peningkatan kapasitas kaum hawa yang turut teroibat langsung dalam bidang pertanian sangat dibutuhkan sehingga dapat terwujud ketahanan pangan keluarga.  “Kami  sangat terbantu dengan adannya pendampingan bagi kau perempuan. Karena yang saya ketahui di Rasau Jaya ini juga banyak kaum perempuan membantu sanga suami bahkan menjadi kepala keluarga dan terlibat langsung mulai dari membuka lahan, ikut menanam, merawat hingga melakukan beragam aktivitas paska panen di lapangan. ini membuktikan perempuan juga memiliki peran sama untuk bisa mewujudkan kedaulatan pangan,” papar Suhartono.

via pontianakpost.co.id