Si Jago Merah Lalap Warung Pak Bandi

ImageSekitar jam 14.30 saat asyik bekerja, kami dikagetkan dengan teriakan Mbak Marni, Bagian Kerumahtanggaan PPSW “kebakaran…kebakaran…kebakaran”. Sontak seluruh isi kantor PPSW dan PEKKA berhamburan keluar, ada yang tergopoh-gopoh sambil nenteng tas jinjingnya, ada yang santai aja keluar tapi lupa pake sendal atau sepatu.

Di luar asap putih tebal sudah memenuhi samping kiri kantor PPSW-PEKKA, ternyata warung kecil Pak Bandi yang menempel di pagar seberang kantor PPSW kebakaran. Orang-orang sekitar sudah hilir mudik sibuk menyiram sumber api yang semakin membesar. Tidak ketinggalan temen-temen PPSW-PEKKA, membantu mengangkut air, Anwar, staf PEKKA bahkan mengambil pemadam kebakaran yang tersedia di kantor PPSW dan menyemprotkan ke sumber api.


Mbak Marni mematikan listrik kantor PPSW, jaga-jaga kalo kebakarannya merembet menyambar tiang listrik. Sebagian teman-teman menghubungi telpon pemadam kebakaran DKI no 113, tapi jawabannya “tuuuuut,,tuuuuut..tuuuut” tanda sibuk tidak bisa dihubungi.

Keadaan semakin panik orang-orang sekitar ramai berdatangan, ada yang membantu menyiram, ada yang hanya menonton saja dari kejauhan, sehingga memacetkan jalan Swadaya Raya dari dua arah.

Alhamdulillah berkat kerja keras semuanya api bisa dipadamkan dan tidak menjalar ke rumah tetangga dan kantor PPSW-PEKKA. Wah…. spot jantung juga rasanya. Itu baru kebakaran kecil, bagaimana kalo kebakaran rumah, RT dan RW. Subhanallah, semoga tidak akan terjadi.

Pak Bandi mukanya pucat pasi melihat warungnya ludes dilalap api, lalu saya tanya “Pak katanya tadi lupa matiin kompornya ya”. “Ah tidak saya gak nyalain kompor dari pagi, kalo kemarin ia saya masak air untuk bikin kopi…” . Nah lho…. jadi kenapa bisa kebakaran ya…? Jangan-jangan ada yang sengaja membakar. Pak Bandi yang berfikiran begitu, karena katanya ada yang tidak suka dia mendirikan bangunan disitu. Lalu siapa? atau hanya fikiran Pak Bandi saja. Maklum dia sudah tua, mungkin saja memang lupa mematikan kompornya.

ImageApapun penyebabnya kini Pak Bandi sudah kehilangan harta dagangan yang sedikit demi sedikit dia belanjakan. Entah bisa atau tidak lagi dia berdagang kecil-kecilan, karena modalnya telah habis diluluh lantakkan si jago merah.

Hanya sedikit botol-botol minuman yang tersisa setelah kebakaran, itu dia pungut lagi saat air bekas siraman masih menetes di sisa-sisa puing kebakaran. Kasihan Pak Bandi, belau selama ini tidur di warung kecil tersebut, istrinya belakangan ini sedang berada di kampung halaman di Jawa Tengah.

Untuk sementara dia menumpang tidur di Gedung Arsip Perindustrian, sebelah kantor PPSW. Di kantor tersebut Pak Bandi menjadi tenaga bersih-bersih yang digaji jauh dibawah UMR. Sebenarnya dia punya anak laki-laki yang sudah berkeluarga dan mengontrak di lorong belakang warungnya yang kebaran. Tapi karena anaknya mengontrak hanya 1 petak ruangan, sehingga dia segan numpang tidur di kontrakan anaknya.

Untuk meringankan penderitaan Pak Bandi staf PPSW dan PEKKA memberikan bantuan berupa uang dan sudah diserahkan siang ini (31 Maret). Saat ditanya kedepannya pak Bandi bagaimana “Saya ingin mempunya gerobak dagangan atau kios yang bisa dipindah-pindah, kalau siang saya akan jualan di pinggir jalan, kalau malam saya pindahkan ke halaman Gedung Arisip”.

Untuk itu PPSW-PEKKA akan memberikan pinjaman  tanpa bunga sebagai modal membuat gerobak dan modal awal untuk membeli barang dagangan. Semoga kios Pak Bandi nanti semakin maju, dan semoga kebaikan teman-teman PPSW-PEKKA mendapat balasan pahala dari Allah SWT. Amin. (Shd)

Leave a Reply

Your email address will not be published.