Mengangkat Derajat Kaum Hawa

melek keuangan, pengrajin bunga, idawati2

Republika. Pontianak. Kaum perempuan dipacu untuk lebih mandiri dapat menyokong ekonomi keluarga.

Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Selain sebagai seorang istri dan ibu, tak jarang mereka berperan sebagai orang tua tunggal bagi anak anaknya. Hal tersebut bisa di sebabkan oleh berbagai alasan, seperti suami yang meninggal, atau bahkan sengaja di tinggalkan oleh suaminya dan tak lagi diberikan nafkah.

Melihat kondisi tersebut, para perempuan terpaksa harus berjuang mencari nafkah sendiri demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Namun sayangnya, tidak banyak kaum Hawa yang bisa memahami kekuangan keluarga. Berdasarkan data yang di keluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013, hanya ada sekitar 18,84 persen perempuan yang melek keuangan.

Padahal sebanyak 51 persen keuangan keluarga di pegang oleh perempuan . Citi Indonesia memahami betul akan kondisi yang di alami oleh kaum Hawa tersebut. Sehingga, melalui program CSR Citi Peka yang telah hadir sejak 2011 lalu, mereka berinisiatif untuk membuat sebuah program pendidikan keuangan untuk untuk perempuan yang bekerja sama dengan lembaga nirlaba Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Waninta (PPSW).

Menurut Eksternal Relation Officer Citi Indonesia Puni Anjungsari, Citi Indonesi secara rutin memberikan pendidikan manajemen keuangan bagi para perempuan yang tersebar di enam provinsi di indonesia, yaitu Aceh, Riau, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Kalimantan Barat. Para peserta mempelajar enam modul terkait program pendidikan keuangan yang di lakukan seminggu sekali selama dua jam per sesi, dan akan selesai selama enam bulan.

Program ini tidak di pungut biaya sepeserpun “Ini adalah bagian dari bakti kami kepada negeri. Tujuannya tak lain adalah untuk memberdayakan perempuan indonesia agar mereka mampu menciptakan penghasilan sendiri, tanpa harus mengandalkan suami atau anak-anaknya” ungkap Puni di Pontianak, pekan lalu.

Hingga saat ini, prgram Citi Peka telah menjangkau lebih dar 4000 perempuan Indosnesia. Di Pontianak, menurut pengurus Asosiasi PPSW Tri Endang Sulistyowati, sudah ada 1052 perempuan yang menjadi perserta program pendidikan keuangan ini. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka antusias menyambut hadirnya kegiatan pendidikan keuangan di sana.

Tri berharap, setelah lulus dari program pendidikan ini, mereka nantinya bisa membuat usaha mikro mandiri. Sehingga, otomatis dapat membantu perekonomian keluarga.

melek keuangan, pengrajin bunga, idawati1Rata-rata umur perempuan yang ikut program ini berkisar antara 36-40 tahun ke atas. Sejauh ini, sudah ada sembilan angkatan yang sudah di wisuda, kini merekapun sudah bisa membuat usaha mikronya sendiri di rumah. “Kami berharap program bisa terus di tingkatkan” katanya.

Direktur PPSW Borneo Reny Hiidjazie mengukapkan “Untuk Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak, jumlah peserta yang mengikuti program ini sebanyak 857 orang. Setelah mengikuti program ini, para peserta mengaku semakin terpacu untuk membuat usaha sendri, demi meningkatkan perekonomian keluarga.

Dengan mengikuti pelatihan keuangan dan membuat usaha sendiri, mereka kini bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perkulihan dan menabung untuk kebutuhan lainnya. Reni juga mengungkapkan “Pemrintah Daerah Pontianak juga sangat mendukung program pendidikan ini agar perempuan indonesia semakin mandiri”.

“Jika mereka mengalami kendala dalam permodalan,perintah kota juga berjanji siap membantu permodalan tersebut dengan perpanjangan tangan dari koperasi di wilayah masing-masing. Sehingga bisa memudahkan mereka untukmembuka usaha sendiri” jelasnya.

Sangat Membantu

Menanggapi program tersebut, salah satu alumni program pendidikan keuangan yang biasa disebut Sekolah Citi, Idawati (42 tahun ), juga telah berhasil membuat usaha mandiri dengan mendirikan bank sampah. Limbah sampah ini nantinya akan dibuat menjadi kreasi berupa vas bunga, kotak tissu, kontak hantaran, dan lainnya. Ide ini di dorong oleh rasa keperihatinannya terhadap sampah plasti k yang bertebaran dipinggir sungai kapuas yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Berkat ketekunannya ini, bank sampah yang ia buat sudah berjalan kurang lebih empat tahun dengan sepuluh orang anggota. Usahanya ini juga bukan tanpa hambatan, Idawati berkali-kali harus jatuh bangun menawarkan produknya ke pasaran.

“Berkat pendidikan keuangan dari Sekolah Citi, saya yang tadimya boros bisa lebih mengatur keuangan keluarga, bahkan dapat membuat usaha sendiri. Uang yang saya dapatkan juga bisa ditabung sedikit demi sedikt untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membantu pemasukan dari suami”ungkap Ida.

Sejak tahun 1998 lalu, Citi Peka sudah bermitra dengan 31 organisasi untuk melaksanakan lebih dari 23 program, dan menjangkau lebih dari 800 ribu individu.Tak hanya itu, Citi juga melibatkan lebih dari 90 persen karyawannya sebagai relawan dalam berbagai kegiatan bermasyarakat.

Oleh: Aprilia Safitri Ramadhani