Jamu Rumahan Antarkan 4 Anak Kuliah

Ibu Mahwiyah

Wanita Indonesia.co.id. Berawal dari coba-coba, Mahwiyah, 57 tahun, berhasil mengembangkan jamu produksi rumahan. Hasilnya, ia mampu membiayai kuliah tiga anaknya, termasuk si sulung yang tengah menempuh pasca sarjana.

Sebagai ibu, Mahwiyah khawatir ketika anak sulungnya, Lubena yang masih balita sulit makan. Padahal ia telah memberinya beragam obat yang bisa dibeli di pasaran. Namun tetap saja, putrinya tak juga doyan makan.

Mahwiyah lantas teringat kebiasaan orang tuanya di Jombang, Jawa Timur. Bila anak sulit makan maka dibikinkan jamu racikan berbahan temulawak. Ternyata berhasil, si sulung menjadi suka makan.

Hanya saja, karena rasanya tidak enak dari jamu tersebut menyulitkan bagi Mahwiyah saat harus memberikan ke anak-anak. Ia lantas mencoba-coba mencampurnya dengan bahan-bahan dari tanaman obat agar rasanya bisa diterima anak-anak.

”Ternyata berhasil. Anak-anak jadi suka, tidak harus dicekoki,” ungkap istri Eko Suharyono ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Sungai Dalam, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Keberhasilan itu membuat jamu buatan Mahwiyah terkenal di lingkungan rumahnya. Beberapa tetangga lantas memesan dibuatkan untuk anak-anak mereka.

Hanya saja, jamu buatan ibu tiga anak tersebut tidak mampu bertahan lama. Hari itu juga harus habis dikonsumsi, tidak bisa disimpan. Itulah yang membuat Mahwiyah gelisah. ”Saya ingin jamu yang buat bisa disimpan. Jadi kalau dibutuhkan tidak bingung harus membuatnya lebih dahulu,” katanya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, pada tahun 2005, Mahwiyah lantas mencoba mengolah bahan-bahan jamunya. Sebagai bahan uji coba, ia menggunakan jahe dengan gula yang mampu menjadi pengawet. Hasilnya? Gagal total. Bahkan tidak hanya sekali saja mengalami kegagalan.

”Saya gagal membuatnya sampai 15 kali,” ujar Mahwiyah sambil tersenyum. Berapa total bahan dan kerugian yang dialaminya sata mencoba-coba itu, ia tak menghitungnya.

Dari 15 kali kegagalan tersebut, Mahwiyah berhasil menemukan komposisi serta cara yang tepat untuk membuat jamu jahe instan. Dari pengalaman tersebut, ia lantas mencoba membuat jamu dengan bahan lain. Seperti kunyit, kunyit putih, temu lawak, kunyit asam, mengkudu dan lain-lain.

”Sampai sekarang saya membuat 13 macam jamu instan dalam bentuk serbuk. Saya juga membuat permen kunyit asam,” terang Mahwiyah. Semua jamu produksinya diberi nama Jamu Instan Hijriah.

Ekspor Jamu

Untuk memasarkan, awalnya Mahwiyah menitipkan ke toko-toko di sekitar rumah. Ia juga rajin ikut bazaar atau pameran.

”Untuk wilayah Pontianak saya pasarkan sendiri. Untuk wilayah Kalimantan Barat lainnya ada orang lain yang memasarkan,” kata istri karyawan perkebunan sawit ini.

Peluang mengembangkan wilayah pemasaran terbuka lebar setelah Mahwiyah diajak pemerintah daerah dan sebuah perusahaan telekomunikasi mengikuti pameran hingga ke Jakarta. ”Baru dua hari, jamu yang saya bawa haabis terjual. Padahal pamerannya tiga hari,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari pameran tersebut Mahwiyah bertemu pembeli tetap dari berbagai daerah. Mulai dari Batam, Bandung, Kalimantan Timur, Jawa Tengah. Bahkan dari luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia.

”Mereka ada yang membeli untuk dikonsumsi sendiri, ada yang juga untuk dijual lagi,” ungkap Mahwiyah.

Kini, dalam sehari, Mahwiyah memproduksi jamu antara 20-30 kg. ia dibantu tiga orang karyawan. ”Kadang ada anak sekolah yang magang di sini,” jelas wanita yang masih memproduksi jamunya di rumah.

Mahwiyah punya pengalaman pahit dengan anak sekolah yang magang. Pernah bahan jamunya sebanyak 6 kg gosong dan harus dibuang. ”Kebetulan saya ada acara dan anak magang itu meyakinkan saya kalau ia mampu,” sesalnya.

Sejak itu, Mahwiyah tidak pernah lagi melepas sendiri anak magang. Minimal ada karyawan tetap yang selalu mendampingi.

Selain menjaga proses produksi, untuk meningkatkan penjualan, Mahwiyah memastikan kemasan jamunya menarik. Ia membedakannya menjadi dua macam, yakni kemasan plastik dan botol. ”Bungkus plastik untuk kalangan menengah ke bawah. Sedang yang botol untuk konsumen menengah ke atas,” jelasnya.

Untuk mendapatkan kemasan yang bagus, Mahwiyah harus memasannya langsung dari Jakarta. Karena di Pontianak belum ada produsen kemasan yang sesuai. ”Saya pernah mencoba pakai kemasan dari sini. Ternyata tidak sekuat yang saya beli dari Jakarta,” akunya.

Khusus pengemasaan, Mahwiyah belajar secara khusus dalam sebuah pelatihan di Bandung selama 10 hari. Ia juga belajar tentang pemilihaan bahan, penanaman dan pengolahan jamu yang memenuhi standar kesehatan.

Mahwiyah mengaku, saat ini kendala utama adalah bahan baku yang sesuai kebutuhan. Pada musim penghujan, kadar air terlalu banyak. Dampaknya, kualitas jamu menjadi jelek. ”Serbuk jamu yang dihasilkan mudah berjamur,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya, Mahwiyah selektif memilih bahan. Jika musim panen, ia minta dikirimi contoh dan baru membeli bila kualitasnya sesuai. ”Saya belanja bahan sesuai ketersediaan saja. Kalau beli di pasar harus pintar-pintar memilih. Khusus kencur, hasil pertanian dari daerah tertentu tidak bisa digunakan. Untuk jamu hasilnya tidak bagus,” terang wanita yang memiliki seorang anak angkat ini.

Makin Sehat

Kini Mahwiyah merasakan manisnya jamu rumahan buatannya. Pendapatannya dari memproduksi jamu mencapai Rp 20-25 juta per bulan.

”Alhamdulillah bisa digunakan untuk biaya kuliah anak-anak. yang sulung sekarang S2 Planologi di UGM, yang nomor dua bekerja di BMKG setelah lulus dari Akademi Meteorologi dan Geofisika dan nomor tiga kuliah di Fakultas Tekni UMY, sedang tes masuk Fakultas Farmasi,” tutur Mahwiyah. Selain itu, ia juga membiayai kuliah anak angkatnya di Pontianak.

Mahwiyah beryukur telah mengikuti Pelatihan Pendidikan Keuangan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) dan Citibank di Pontianak pada 2011. Pasalnya ia pernah mengalami kerugian padahal merasa penjualan jamunya sedang bagus.

”Itu terjadi saat pembukuan keuangan masih buruk. Rasanya penjualan banyak, ternyata rugi. Karena pencatatan penjualan dan retur tidak rapi,” ungkap Mahwiyah.

Karena itulah Mahwiyah sangat menjaga pembukuannya. Kalau sedang sibuk dan tidaak sempat membuka buku besar, ia mencatat sementara di buku kecil yang selalu ia bawa. ”Kadang kan ada masanyaa saya malas membuka buku,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan pembukuan dan pengaturan keuangan yang baik ini, selain bisa membiayai kuliah anak-anaknya, Mahwiyah bisa menunaikan ibadah umrah bersama suami dan akan sulungnya.

Mahwiyah juga bersyukur karena dengan memproduksi jamu, ia merasa makin sehat. Sebelumnya, ia menderita maag. Dampaknya, ia mudah lelah dan tak mampu beraktivitas berat dan bepergian jauh.

”Saya rutin mengonsumsi kunyit putih dan jahe. Alhamdulillah bisa kemana-mana dan maag tidak pernah kambuh lagi,” ujar Mahwiyah sambil tersenyum.

Sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilannya, Mahwiyah ingin jamunya bisa membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Untuk itulah, ia berharap bisa meningkatkan produktivitas usahanya.

Mahwiyah telah membeli tiga kapling lahan tak jauh dari Bandara Supadio yang akan digunakan untuk menanam beragam tanaman obat. Dengan begitu ia tak lagi bergantung dari pihak lain.

”Saya juga berharap bisa memiliki mesin untuk mengemas jamu dalam bentuk sachet. Dengan begitu konsumen lebih mudah dalam mengonsumsinya seperti kopi instan. Sehingga masyarakat makin sehat dengan mengonsumsi minuman sehat,” harap Mahwiyah. *