Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Bantu Ciptakan Kesejahteraan

images_pendidikan keuangan pondok ranggon

Program pendidikan keuangan terbukti dapat menciptakan pengaruh positif terhadap keoptimisan dan kesejahteraan perempuan untuk menatap masa depan di usia tua.

Sejak 2010, Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) bekerjasama dengan Citi Peka (Peduli dan Berkarya) dan Citi Foundation menyelenggarakan program pendidikan keuangan bagi perempuan usia 40 tahun ke atas di 6 propinsi, yaitu Aceh, Riau, Banten, Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan Barat.

Pelatihan di dalam kelas dilakukan selama 6 bulan, dalam 24 kali pertemuan, setiap pertemuan dilakukan selama 2 jam dan difasilitasi olerh 2 orang tutor yang sebelumnya telah mengikut Training of Trainer.

Kelas yang disebut dengan Sekolah Citi oleh peserta ini, rata-rata diisi oleh 40 orang setiap kelasnya. Dalam perjalanannya tidak hanya perempuan yang berusia diatas 40 tahun yang mengikuti pelatihan, karena semestinya pendidikan keuangan itu diikuti oleh perempuan dibawah usia 40 tahun juga, agar mereka punya waktu yang lebih panjang dalam mempersiapkan keuangan untuk masa tuanya.

Hingga saat ini Asosiasi PPSW sudah melatih 9 angkatan peserta, dengan alumni berjumlah 4.184 orang, rinciannya sbb:

Angkatan Riau Aceh Jakarta Jawa Barat Banten Kalbar Jumlah
Angkatan 1 52 60 62 60 60 65 359
Angkatan 2 57 60 57 55 62 77 368
Angkatan 3 64 70 61 58 61 84 398
Angkatan 4 52 70 64 58 62 76 382
Angkatan Additional 70 70 115 255
Angkatan 5 54 70 70 56 70 105 425
Angkatan 6 60 69 62 56 88 89 424
Angkatan 7 124 140 125 84 76 120 669
Angkatan 8 69 68 182 83 93 100 595
Angkatan 9 60 108 141 309
Total 602 677 858 618 572 857 4184

Hasil penelitian terhadap dampak program tersebut memperlihatkan 44,1% dari peserta program mampu membuat rencana keuangan. Selain itu 37,5% mampu membuat rencana usaha ekonomi produktif dan 56,7% telah mandiri dan optimistis menghadapi hari tua.

Pengurus Asosiasi PPSW, Tri Endang Sulistyowati mengatakan saat ini yang menjadi perhatian utama dan tantangan sosial untuk Asia di tahun-tahun mendatang adalah memastikan keamanan ekonomi untuk para lansia.

“Perlindungan finansial dan sosial untuk perempuan lansia menjadi area spesifik yang membutuhkan perhatian semua pihak,” tambahnya.

Alumni yang telah dilatih pendidikan keuangan dan siap menghadapi masa tuanya, memang belum seberapa dibandingkan jumlah penduduk lansia di Indonesia tergolong yang terbesar kelima di dunia dan keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang. Sensus penduduk pada 2010 mencatat terdapat 18,1 juta penduduk lansia di Indonesia.

Untuk itu perlu dilakukan kerjasama dengan semua pihak agar semakin banyak perempuan di Indonesia yang dapat mempersiapkan masa tuanya sejak dini. Saat ini Asosiasi PPSW dengan lembaga keuangan, lembaga pendidikan, swasta dan LSM telah membantuk Jaringan Asosiasi Perempuan Tangguh Indonesia (Indonesian Empowered Women Association).

Tujuannya yaitu mewujudkan perempuan Indonesia yang mandiri dan sejahtera secara finansial, lembaga anggotanya adalah Senior Club Indonesia, Federasi Serikat Perempuan Basis Indonesia, Mercy Corps, Micra, UKM Center-UI, CAS-UI, PPKM Indonesia, Pekka, Ombudsman, PPSW Pasoendan, PPSW Jakarta , PPSW Sumatra dan PPSW Borneo

Prinsip kerja jaringan ini adalah Partisipatif, respect, solidaritas, transparan, non diskriminasi, profesional, akuntabel, integritas dan kerjasama. (sumber: finansial.bisnis.com dan diolah)