Rapat Tahunan 2016, Persiapan Menuju Musyawarah Besar

Rapat Tahunan Asosiasi PPSW 2016

Asosiasi PPSW pada tanggal 17-19 Februari 2016 melaksanakan Rapat Tahunan 2015 yang diselenggarakan di Kantor Asosiasi PPSW. Kegiatan yang diikuti oleh lembaga anggota dan badan-badan dalam Asosiasi PPSW, dihadiri oleh 25 orang peserta tersebut untuk mengevaluasi perkembangan organisasi dan program selama tahun 2015 dan melakukan perencanaan kerja tahunan tahun 2016.

Beberapa agenda penting pada Rapat Tahunan kali ini antara lain, laporan kemajuan (progress) kegiatan maupun keuangan masing-masing lembaga anggota dan badan-badan Asosiasi tahun 2015, menyusun langkah strategis Asosiasi PPSW, mempersiapkan Musyawarah Besar (Mubes) tahun mendatang.

Kegaitan tambahan dalam Rapat Tahunan kali ini adalah membahas perencanaan BDS untuk menunjang pendanaan kegiatan lembaga anggota dan Sekretariat PPSW, karena saat ini donor semakin berkurang. Disamping itu juga membahas tentang perkembangan wilayah kerja baru PPSW yaitu Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kemudian merumuskan perencanaan kegiatan dan keuangan mengacu pada perencanaan strategis 1 tahun, baik ditingkat lembaga masing-masing maupun ditingkat Asosiasi PPSW.

Dari hasil laporan tahunan lembaga anggota dan badan-badan Asosiasi PPSW tersebut, Wali Amanah sebagai fasilitator dalam kegaitan tersebut mencatat beberapa hal penting, antara lain bahwa Asosiasi PPSW merupakan LSM perempuan yang konsisten mengembangkan masyarakat basis dari tahun 1986 hingga saat ini, dengan anggota dampingan lebih dari 31.000 orang. Tidak banyak LSM perempuan yang bertahan tetap melakukan pengorganisasian masyarakat hingga saat ini.

Banyak aset yang dimiliki oleh Asosiasi PPSW, yaitu sumberdaya manusia yang terdiri dari anggota kelompok dampingan, kader-kader yang telah mandiri dan tim kerja (staf) yang berpengalaman dalam pengorganisasian masyarakat.

Disamping itu Asosiasi PPSW juga mempunyai aset tak ternilai berbentuk organisasi dan kelembagaan, yaitu Serikat Perempuan Basis (SPB), koperasi, PAUD, dan unit-unit usaha (waralaba, pemasaran produk kelompok), serta aset-aset lainnya.

Asosiasi PPSW juga telah mengembangkan program-program inspirasi yaitu Pendidikan Keuangan untuk Permpuan Matang yang baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia, forum belajar (learning forum), penguatan Posyandu (revitalisasi), konservasi budaya (kuliner dan seni untuk turisme berbasis masyarakat), pengembangan usaha unggulan seperti emping melinjo, akses program pemerintah (perbaikan rumah, perijinan, sertifikasi) kesehatan reproduksi (Hak Kesehatan dan Seksual Reproduksi – akses layanan publik dari pemerintah), dan lain sebagainya.

Namun demikian masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu didiskusikan dan mencari solusi untuk pengembangan Asosiasi PPSW dan mitra dampingannya, antara lain; kreativitas produk dalam hal produksi kelompok yaitu jenis dan kemasan, persaingan pasar kompetitif dan kesinambungan usaha waralaba yang dikelola anggota kelompok.

Di hari terakhir rapat tahunan ini mendiskusikan Peluang dan Tantangan Asosiasi PPSW untuk Pengembangan bisnis melalui Whole Seller atau Rumah Usaha yang difasilitasi oleh Irham Saifudin, Manajer Program ILO.

Menurut Irham, Asosiasi PPSW seharusnya mempunyai peluang penggalangan dana yang luas, karena pengalaman dan pontensi yang dimiliki sangat kaya, namun selama ini PPSW terkesan “sembunyi”, kalah dengan lembaga lain yang hanya “mengklaim” melakukan pendampingan, tapi nyatanya hanya berkoar di jalanan.

Irham telah membuka kesadaran tim Asosiasi PPSW untuk segera bangkit dan keluar dari persembunyiannya, harus bekerjasama dengan banyak pihak dan multistakeholder, baik di pemerintahan, CSR dan funding agency. Untuk itu perlu dipersiapkan tools-nya yang disesiaikan dengan kekinian, diantaranya menggunakan strategy Business Model Canvas (BMC).

Dalam perencanaan kerja besama Asosiasi PPSW telah diidentifikasi hal-hal yang menjadi kekuatan PPSW sebagai modal untuk pelaksanaan kegiatan mendatang. Peserta juga telah sepakat untuk menggunakan BMC sebagai tools untuk perluasan kerjasama dengan pihak-pihak terkait (shd).