Saatnya Perempuan Menunjukkan Kemampuan

images_cerita lapang sumiatun

Ibu Sumiatun, yang akrab di panggil Ibu Atun, adalah salah satu pengurus di Koperasi Sumber Rejeki Baru, Pluit, Jakarta Utara yang didirikan pada tanggal 12 Juli 1992, yang awalnya bernama Kelompok Sumber Rejeki.

Keaktifannya di Posyandu RW 08 dan PKK Kelurahan telah dilirik oleh Ibu Cholillah Sabar dan Ibu Tjuk Purnomo (pendiri), dan mengajaknya untuk bergabung di kelompok Sumber Rejeki. Menurutnya, saat masuk kelompok Ibu Sumiatun sama sekali tidak paham bagaimana menjalankan koperasi, namun karena punya kemauan kuat untuk belajar, dia bersama pengurus-pengurus terdahulu belajar bersama PPSW bagaimana membentuk kelompok, membuat aturan koperasi, memimpin rapat saat pertemuan kelompok dan dilatih membuat pembukuan koperasi sederhana. Tidak ada rasa minder dalam dirinya meski hanya tamatan SD. Ibu Sumiatun terus giat belajar dan mengikuti seluruh pelatihan-pelatihan yang diberikan.

Visinya semakin kuat untuk terus melakukan pemberdayaan bagi kaumnya dan berpengaruh terhadap seluruh gerak sehari-hari Ibu Sumiatun dalam mendampingi anggota-anggota untuk melakukan pembenahan kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya yang kumuh, rawan banjir dan kebakaran. Melalui wadah kelompok dengan sistem koperasi yang dibentuk dan didampingi oleh PPSW secara bertahap dapat menjawab persoalan ekonomi masyarakat sekaligus mengangkat harkat perempuan.

 

Menurutnya, “saatnya perempuan menunjukkan kemampuan, kita bisa mengelola keuangan dengan baik melalui simpan pinjam kelompok meskipun di wilayah itu sudah ada Koperasi 13 yang terkenal saat itu”. Diakui Ibu Sumiatun, kendala yang dialami saat itu selain keraguan masyarakat sekitar terhadap kelompok, adanya upaya oknum Koperasi 13 yang merasa tersaingi dan berusaha menghasut masyarakat agar tidak masuk koperasi Sumber Rejeki yang saat itu belum mempunyai Badan Hukum dan diurus oleh ibu-ibu yang dianggap tidak becus.

Kegigihannya memperjuangkan kegiatan kelompok bersama pengurus lainnya lambatlaun membuahkan hasil. Masyarakat mulai melihat hasil kerja kelompok dengan diadakannya Rapat Anggota Tahunan, ada pertanggung jawaban kegiatan dan keuangan yang transparan dan dilaporkan kepada anggota. Ditambah dengan bertambahnya kegiatan seperti pelatihan-pelatihan, santunan berupa sembako untuk masyarakat kurang mampu. Masyarakat mulai percaya dan yakin bahwa koperasi Sumber Rejeki dapat membantu perekonomian mereka dengan cara mendahulukan kegiatan menabung, bukan seperti yang kebanyakan dilakukan oleh lembaga keuangan lainnya mendahulukan pinjaman lalu menjerat dengan pengembalian yang merugikan.

Dengan semakin pesatnya pertambahan anggota, Ibu Sumiatun bersama pengurus lain kemudian mengurus Badan Hukum koperasi pada tahun 2006 dan merubah nama menjadi Sumber Rejeki Baru. Dengan telah dibuatnya Badan Hukum meskipun melalui proses yang berliku-liku akhirnya koperasi Sumber Rejeki Baru semakin mudah melakukan gerak dan promosi kegiatannya sampai ketingkat Suku Dinas Koperasi-UMKM dan Perdagangan serta instansilainnya. Dan pada tahun 2011 para pengurus berhasil membangun kantor 3 lantaidi RW 08 Penjaringan. Kantor tersebut dibangun dengan arsitek dan pemborong yang berasal dari anggota koperasi Sumber rejeki Baru, dirancang sebagai pusat belajar anggota-anggota, dan lantai dua dan tiga sebagai tempat usaha warlaba dan kontrakan agar koperasi memperoleh pendapatan dari usaha lain disamping simpan pinjam uang.

Kegiatan koperasi Sumber Rejeki Baru semakin berkembang terutama dalam kegiatan simpan pinjam mampu melayani kebutuhan 1.276 anggota dengan asset mencapai Rp 3.240.606.787 dengan total pendapatan Rp 696.187.902 (data per Desember 2014). Kegiatan lainnya yang telah dilakukan, seperti pada saat terjadi krisis moneter Sumber Rejeki Baru dipercaya untuk menyalurkan sembako murah untuk anggota dan masyarakat umum.

Pada saat terjadi musibah kebanjiran dan kebakaran Koperasi Sumber Rejeki Baru bersama Koperasi lainnya secara gotong royong membuka posko dan dapur umum. Termasuk memfasilitasi kegiatan papsmear, santunan sembako untuk 200 lansia dan makan bergizi untuk 700 balita yang dananya telah dialokasikan dari koperasi. 

Semangat dan kerja keras Ibu Sumiatun di koperasi patut menjadi teladan. Sejak tamat SD ibu Sumiatun (kelahiran 10 April 1957), telah merantau ke Jakarta ikut kakaknya dan terpaksa ikut mencari nafkah. Pekerjaan sebagai Pekerja Rumah Tangga sempat dilakukannya kemudian bekerja di pabrik beberapa tahun sampai akhirnya pada tahun 1974 memutuskan untuk menikah. Dengan berbagai pengalaman hidup yang memprihatinkan menjadikannya terbiasa bekerja keras.

Meskipun setelah menikah, Ibu Sumiatun bersama suami dan anak-anaknya menjalankan usaha makanan dan berkembang menjadi catering. Usaha tersebut semakin pesat sehingga Ibu Sumiatun bisa membeli rumah di pemukiman Muara Angke tahun 1997. Dari keuntungan usaha tersebut, Ibu Sumiatun juga menambah kios kecil untuk usaha sembako dan makanan dirumahnya yang dibantu oleh suami dan anak-anak. Sampai suaminya meninggal pada tahun 2010 usaha tersebut tetap dijalankan oleh Ibu Sumiatun dan 3 anaknya yang telah dikaruniai 7 cucu.

Pengelolaan keuangan usaha sehari-hari berangsur-angsur semakin rapih. Diakuinya, sejak mengikuti Pendidikan Keuangan tahun 2012 angkatan pertama, Ibu Sumiatun merubah semua pengelolaan uang. Ada catatan rapih untuk keluar masuknya uang, dan uang dimasukkan dalam masing-masing amplop disesuaikan dengan alokasi anggaran. Dan 10% dari pendapatannya selalu disihkan untuk sedekah dan anak yatim. Dengan kerapihannya mengelola keuangan di rumah, berpengaruh juga pada pengelolaan keuangan di koperasi. Apalagi di koperasi Sumber Rejeki Baru sudah merekrut manajer dan staf-staf sejak tahun 2012 sehingga seluruh catatan dan laporan keuangan bisa diperiksa dengan mudah.

Ibu Sumiatun menaruh harapan besar pada kader-kader muda berpotensi dan mulai dipercayakan untuk menggantikan beberapa tugas dalam pendampingan dan kegiatan koperasi. Dengan telah diperolehnya pelatihan-pelatihan dari PPSW Jakarta dan lembaga lain, Ibu Sumiatun berharap para pengurus dan anggota terus mempraktekkan ilmunya sehingga pengelolaan koperasi semakin professional dan manfaatnya bisa dirasakan oleh anggota dan masyarakat.