Rita, Pemenang Wirausaha Mikro Perempuan

images_rita n nuget1

“Aku pernah bercita-cita ingin jadi perempuan yang menjadi inspirasi perempuan lain di sekitarku. Mungkin banyak waktu untuk pelajar, berfikir, berbuat dan menghasilkan… semua yang baik dan maju. Hampir semua usaha kulakukan, tapi ternyata tak mudah mengubah pola pikir orang lain…”

Certa itu pernah diungkapkan Rita 2 tahun lalu. Dan kini rita-cita Rita untuk menjadi inspirasi perempuan sudah terwujud, dengan terpilihnya menjadi Pemenang Kedua Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) Awards 2014 untuk kategori Wirausaha Mikro Perempuan.

Ajang penghargaan CMA ini merupakan inisiatif global yang didanai oleh Citi Foundation dengan menggandeng UKM Center FEB UI sebagai mitra pelaksana. Tujuan penghargaan yang sudah 10 tahun diadakan adalah untuk memotivasi dan menginspirasi para pengusaha yang ada di daerah untuk lebih maju, mandiri, berkembang, serta dapat meningkatkan perekonomian.

 

“Sebagai bagian penting dari perekonomian bangsa, peran pelaku usaha mikro Indonesia, terutama yang barada di daerah terpencil, sangat inspiratif dan patut mendapatkan apresiasi,” kata Country Corporate Affairs Director Citi Indonesia, Agung Laksamana, dalam diskusi publik dan penganugerahan CMA 2014 di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (26/2)

Mencoba Berbagai Usaha

Rita adalah seorang penggeliat usaha kecil yang lahir pada tanggal 1 Maret 1977 di Pontianak. Sejak kecil dia dan keenam saudaranya sudah terbiasa berjualan, demi mengurangi beban keluarga karena hanya bapaknya saja yang memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan ibunya menjual gorengan yang kemudian mereka jajakan keliling kampung.

Setamat Sekolah Menengah Atas (SMA) dia pernah bekerja sebagai administrasi laundry di sebuah hotel di kota Pontianak. Namun setelah menikah dia membuka usaha warung yang menjual bubur dan gorengan. Akan tetapi usahanya ini tidak berjalan lama. Warungnya bangkrut karena pembeli yang sering berhutang namun tidak mau membayar.

Dia dan suaminya kemudian menjual pot bunga. Suami yang membuat pot dan Rita yang menjual. Usaha pot bunga ini juga tidak berbeda dari usaha warungnya, usaha ini juga akhirnya bangkrut kehabisan modal karena banyak yang berhutang.

Dia pernah juga berjualan gado-gado, nasi kuning dan bubur di Parit Pak Reweng, Kubu Raya, tetapi usahanya kembali tidak berjalan lama. Usahanya gado-gadonya kali ini tidak bangkrut, namun tempatnya berjualan diambil oleh sepupunya.

Tidak putus asa, Rita tetap bergelut di dunia usaha seperti berjualan ayam dan mengkreditkan barang-barang yang bisa dia jual. Empat tahun lalu, usaha jual ayam ini bahkah bisa mendatangkan omset belasan juta hingga 50 juta ketika bulan ramadhan dan lebaran. Sebenarnya usaha ayamnya ini masih sampai sekarang jika ada yang membeli dalam jumlah besar. Karena Rita hanya membeli ayam langsung di kandang miliki sepupunya. Namun karena tidak ada tempat maka usaha ayam ini tidak begitu ditekuninya.

Nugget Lele

Pilihannya usahanya kemudian adalah membuat dan menjual makanan seperti kerupuk dan aneka kue. Dia juga membuat tambak ikan lele di belakang rumahnya menggunakan terpal. Melihat tambak lele yang lumayan berhasil, membuat para tetangganya tertarik. Dia kemudian mengajak ibu-ibu disekitar Banjar Serasan untuk membentuk kelompok tani. Dengan dibentuknya kelompok tani yang bernama At-Takwa ini, mereka bisa mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian Kota Pontianak untuk kolam ikan terpal.

Pada tahun 2010, dia dan kelompoknya membuat nugget lele setelah mendapat saran dari pendamping lapang Ketahanan Pangan dari Dinas Pertanian yaitu ibu Kiki. Usaha nugget inilah yang sampai sekarang ditekuni walaupun sudah bukan usaha kelompok lagi.

Modal awal untuk usaha nugget ini sekitar Rp.57.000-. Dan sekarang omset penjualannya baru mencapai 2 juta rupiah perbulan. Produksi seminggu 2 kali dengan 2 orang tenaga kerja. Untuk tenaga kerja ini dia memberi upah Rp. 20.000-/2 jam dan untuk filet ikan Rp.2.000-/kg ikan.

Untuk pemasaran melalui penjualan langsung kepada konsumen dan kadang menitip ke teman. Usahanya ini lama berkembang dan belum bisa masuk ke swalayan dan pasar yang besar karena terkendala rumah produksi sebagai salah satu syarat perizinan. Untung baru-baru ini dia mendapat izin untuk menggunakan bekas Polindes Banjar Serasan untuk rumah produksi nugget dan produk ibu-ibu kelompok Kesehatan Gizi Masyarakat (KGM) Banjar Serasan.

Pada tahun 2010 Rita mengenal PPSW Borneo yang kemudian banyak membantunya dalam mengembangkan usaha dan memperluas jaringannya baik itu kepada sesama pengusaha dan pemerintah daerah. Banyak bertemu ibu-ibu pengeliat Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) membuatnya tambah bersemangat untuk mengembangkan usaha nuggetnya ini.

Dia juga bergabung dengan Inkubator Bisnis UMKM Kota Pontianak untuk memperdalam manajemen bisnis. Setelah belajar enam bulan di Inkubator dia mendirikan perusahaannya sendiri yang bernama CV. Barry Family Group.

Produk yang diproduksinya sekarang tidak hanya nugget, tetapi sudah ada risol ikan, Bandeng Tanpa Duri dan Bandeng Presto. Ketiga produk barunya merupakan hasil magang di Surabaya dari Dinas Perikanan Kota Pontianak. Diakhir tahun 2013 juga dia mendapat freezer untuk kelompoknya serta vakum biasa dan sealer vakum untuk usaha pengolahan ikannya dari Disperindag dan UMKM Kota Pontianak.

Melihat dari pengalamannya diberbagai organisasi masyarakat, tampak jelas bahwa Rita merupakan seorang yang boleh dibilang social entrepreneur. Sebagaimana keinginannya untuk bisa mengajak ibu-ibu disekitar Banjar Serasan agar maju dan pintar.

Dengan usaha yang dirintisnya saat ini, dia ingin sukses agar banyak orang yang terinspirasi dari kerja kerasnya selama ini. Dan sekarang yang menjadi prioritasnya adalah usaha yang sedang digelutinya dan keluarga apalagi semenjak dikaruniai Barry, putra semata wayangnya.

CMA Awards 2014 

Pada tahun ke-10 penyelenggaraannya, CMA menjaring lebih dari 400 wirausaha mikro binaan LKM. Salah satu persyaratan utama mengikuti ajang CMA adalah wirausaha dengan omset tahunan di bawah Rp200 juta/tahun atau laba bersih kurang dari Rp5 juta/bulan.

Panel juri CMA tahun ini terdiri dari Puni Anjungsari (Vice President, Corporate Affairs Citi Indonesia), Lasmaida S. Gultom (Deputi Direktur Edukasi, Direktorat Literasi dan Edukasi OJK), Y. Bayu Widagdo (Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia), Rambat Lupiyoadi, SE, ME (Dosen Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia), Paul Jeffery (Country Director Mercy Corps), dan Nilam Sari Setiono (Marketing Director, PT. Baba Rafi Indonesia). Pemenang-pemenangnya sebagai berikut:

Pemenang Wirausaha Mikro Perempuan

  1. Lusi Widiarni (Kuliner khas cincau asal Ponorogo, Jawa Timur)
  2. Rita (Nugget olahan ikan asal Pontianak, Kalimantan Barat)

Pemenang Wirausaha Mikro Sosial

  1. Bawono (Budidaya ikan asal Sleman, Yogyakarta)
  2. Marfu’ah (Tepung Mocaf asal Wonosobo)

Pemenang Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan

  1. Eko Yulianto (Produk olahan limbah salak asal Wonosobo, Jawa Tengah)
  2. Korinus K. Yenusi (Daur Ulang Limbah Plastik asal Jayapura, Papua)

Pemenang Wirausaha Mikro Pelestarian Budaya

  1. Syaiyuri (Batik Malang asal Malang, Jawa Timur)
  2. Linda Media (Randang asal Solok, Sumatera Barat)

Pemenang Wirausaha Terbaik

  1. Zaenal (Budidaya Sayur Organik asal Semarang, Jawa Tengah)

LKM dengan Program Pendampingan Terbaik

  1. PD. BPR BANK BAPAS 69 asal Magelang, Jawa Tengah

Alumni CMA dengan Perkembangan Usaha Terbaik

  1. Suheri (Abon Ikan Lele asal Langkat, Sumatera Utara)