Rapat Tahunan Asosiasi PPSW 2015

Pada tanggal 11-13 Februari 2015, Asosiasi PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) mengadakan Rapat Tahunan di Hotel Premiere, Kota Harapan Indah, Bekasi. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka mengevaluasi perkembangan organisasi dan program selama tahun 2014 serta melakukan perencanaan kerja tahunan tahun 2015.

Rapat Tahunan diikuti oleh seluruh lembaga anggota Asosiasi PPSW yaitu PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo dan PPSW Sumatra. Acara tersebut dilaksanakan oleh Sekretariat Asosiasi dan difasilitasi oleh Wali Amanah bersama-sama dengan Badan Pengurus.

Beberapa agenda penting pada Rapat Tahunan kali ini antara lain; laporan kemajuan (progress) kegiatan maupun keuangan masing-masing lembaga anggota dan badan-badan Asosiasi tahun 2014, menyusun kerangka strategis advokasi Asosiasi PPSW, membahas FSPBI (Federasi Serikat Perempuan Basis Indonesia) dan SPB (Serikat Perempuan Basis), perencanaan BDS (Bussiness Development Services) dan membangun jaringan di tingkat nasional untuk financial security. Kemudian juga akan merumuskan perencanaan kegiatan dan keuangan mengacu pada perencanaan strategis tiga tahunan baik ditingkat lembaga anggota maupun ditingkat Asosiasi PPSW.

Agenda hari pertama adalah laporan progress kegiatan dari masing-masing lemabaga Anggota, Yayasan Raudhah dan Sekretariat Asosiasi PPSW. Nani Zulminarni (Wali Amanah) membuat catatan dari laporan-laporan kegiatan yang telah dipaparkan maupun dari hasil diskusi bersama.

Nani mengatakan bahwa Asosiasi PPSW harud menjadikan program ekonomi menjadi ‘trade mark’, melalui kegaitan yang saat ini sedang dilaksanakan yaitu pendidikan keuangan perempuan matang, jaringan produksi dan pemasaran serta koperasi simpan pinjam.

Selanjutnya Nani mengatakan “Pendidikan keuangan untuk perempuan matang harus menjadi gerakan perempuan untuk kemandirian ekonomi di usia mapan, bisa menjadi ‘jualan’ PPSW untuk konsultansi pihak ketiga dalam kerangka alat transformasi nilai sosial budaya tentang kemandirian ekonomi”.

Di hari kedua PPSW Borneo dan PPSW Jakarta mempresentasikan kegiatan kegiatan yang selama ini sudah berhasil. Presentasi ini dilakukan pada gabungan peserta PPSW dan Pendamping Lapang PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga), yang kebetulan sedang mengadakan kegitan di Santika Premiere.

Di hadapan sekitar 50 peserta, PPSW Borneo memaparkan makalah tentang Advokasi Peningkatan Kualitas Layanan Publik yang telah berjasil di lakukan di Kaliamantan Barat. Sedangkan PPSW Jakarta memaparkan tentang Inisiatif Perlindungan Sosial Bagi Anggota SPB Jakarta.

Setelah cofee break pagi, giliran PPSW Pasoendan memaparkan tentang Kesehatan Lingkungan Dalam Kerangka Pengorganisasian. Mereka telah melakukan pembangunan MCK dan juga bedah rumah bagi masyarkat kurang mampu di wilayah Pandeglang, Banten.

Sesi selanjutnya Nani menyampaikan strategi Advokasi yang sebaiknya dilakukan dalam tahun-tahun mendatang. Menurut Nani advokasi bukan bearti harus turun ke jalan atau ke parlemen menyuarakan harapan rakyat ataupun perempuan.

Namun yang dilakuakn Asosiasi PPSW bersama masyarakat dampingannya selama ini adalah merupakan advokasi, PPSW sudah melakukan pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan ekonomi mereka. Mengutip peryataan Roem Topatimasang, sebaiknya yang dilakukan adalah meningkatkan ketahanan pangan.

Dengan anggota kelompok dampingan yang saat ini sudah mencapai 27.000 orang, ditambah dengan seluruh anggota keluarganya, maka PPSW bisa melakukan banyak hal untuk memberdayakan masyarakat dengan menyiapkan bahan pangan yang diproduksi oleh mereka sendiri. Masyarakat harus berdaulat dengan kebutuhan pangannya. Sehingga kita kelak tidak perlu mengimpor bahan makanan dari negara lain. (shd)