Yang Muda Yang Tak Dipercaya

Oleh: Hannah Neng (sumber: Kompasiana/Urban)

Usia muda dan perawakan yang kecil membuat saya selalu mendapatkan posisi special dalam pekerjaan. Betapa tidak? Nama dan keberadaan saya kadang tidak disebut dalam beberapa perkenalan penting di sebuah lembaga tempat saya bekerja. Beberapa kegiatan yang digelar hanya menempatkan saya menjadi tukang foto, tukang ngambil konsumsi dan beberapa kegiatan pinggiran. Kacian deh gue…. Bekerja dengan para perempuan senior untuk pemberdayaan perempuan membuat saya selalu mengurut dada dan berusaha berpikiran positif.


Tiga orang doktor perempuan dan tiga kandidat doktor membuat saya kadang berfikir ulang tepatkah keberadaan saya di sini? Keberadaan yang hanya menomorsatukan prestise tapi kadang enggan bertanggung jawab dengan tugas yang diemban. Sebenarnya kondisi ini adalah kondisi yang sangat tidak saya sukai. Semenjak dahulu saya lebih suka bermain dan bekerja pada pemberdayaan perempuan basis. Di sana keberadaan saya menjadi lebih berarti.

Lima tahun sudah saya berada bersama perempuan basis. Perempuan yang sangat rentan dengan permasalahan yang membuat kemanusiaan mereka dinistakan. Berbagai program pemberdayaan kami lakukan tanpa sedikitpun berfikir mendapatkan keuntungan pribadi. Karena menjadi pekerja social merupakan panggilan jiwa selain menjadi seorang pendidik. Pada saat mendampingi mereka, berbagai kemudahan dalam karir dan pendidikan sebagai seorang akademisi pun saya dapatkan.

Saat ini saya masih setia mendampingi perempuan basis dan sampai kapanpun tidak akan saya tinggalkan. Adapun alasan saya menerima pekerjaan di lembaga baru yang saya masuki ini sebenarnya saya tujukan untuk pempuan basis. Alokasi anggaran pemerintah daerah yang besar untuk pemberdayaan perempuan kadang tidak tepat sasaran. Program mercusuar yang hanya sampai pada tahap sosialisasi tanpa tindakan nyata kadang membuat saya geram. Saat ditawari menjadi seorang Konsultan Agama yang bisa mewarnai sebuah kebijakan tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Semoga saya bisa mewarnai agar program yang dijalankan memang real dan menyentuh sasaran. Karena pemetaan permasalahan perempuan basis hanya mungkin diketahui dengan bersentuhannya kita dengan mereka. Bukan sekedar lewat studi pustaka seperti yang dilakukan senior perempuan di lembaga ini.

Tidak semua senior perempuan di tempat saya bekerja memiliki prinsip feodal seperti itu. Ada juga beberapa yang egaliter dan terus menyemangati saya bahwa kelak dengan universitas kehidupan seperti ini saya akan mendapatkan kearifan hidup dan tahan banting dengan kondisi apa pun. Ya saya mencoba untuk terus bersabar. Menempa diri meski selalu bekerja dibalik layar. Membuat konsep yang juga suka diacak-acak, membikin panggung program, merancang suksesnya target pekerjaan, bekerja melampaui tanggung jawab dan kewenangan jobdes, itulah yang saat ini saya kerjakan. Tapi untuk urusan show…mari kita serahkan pada yang lebih senior…karena untuk urusan ini Yang Muda Yang Tak Dipercaya hehehe.