Menjadi Kelompok Sejati

images_cerita lapang nurlaili

”Mudah-mudahan kelompok INGIN MAJU menjadi kelompok yang sejati bukan kelompok pedati yang harus didorong-dorong baru mau jalan dan bukan juga kelompok merpati yang begitu lepas ia terbang, tapi kami ingin jadi kelompok sejati”, demikian harapan Ibu Nurlaili kepada kelompoknya. 

Nurlaili, salah seorang kader kelompok di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, propinsi Aceh. Ia mempunyai suami dan punya 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Pekerjaan jualan mie caluek (sejenis mie goreng khas Aceh dengan bumbu sambal kacang)  dan juga bertani sawah. Bergabung dengan PPSW pada tahun 2006 semenjak terbentuknya kelompok . 

”Dulu saya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga sejati. Pekerjaan rutin saya sehari-hari hanya mengurus suami, anak, mencuci dan memasak”. 

Keluarga saya  pendapatannya sangat terbatas. Untuk membantu keluarga, pertama saya mencoba berjualan di kios, ditambah jual kacang goreng, dan akhirnya jual mie caluek. Mula-mula saya buat hanya setengah kilogram, ternyata tidak cukup. Kebetulan kios saya dekat dengan SD semakin hari semakin bertambah banyak pelanggan, tidak lagi sebatas anak sekolah. 

Tidak lama kemudian saya dapat informasi mau di bentuk kelompok  perempuan, yaitu  kelompok PPSW. Pada saat pembentukan kelompok saya terpilih sebagai ketua kelompok . Kelompoknya di beri nama ‘’Ingin Maju’’ mula-mula anggotanya 36 orang,  kemudian bertambah menjadi 45 orang, dan saya beralih jabatan, dari ketua menjadi bendahara. Setiap bulannya mengadakan pertemuan rutin. 

 

Tiga bulan kemudian, kelompok Ingin Maju mendapatkan pinjaman RF (Revolving Fund) dari PPSW sebanyak Rp. 12.000.000. Modal kelompok otomatis bertambah, setiap anggota boleh pinjam maksimal  Rp 1.000.000, yang belum dapat pinjaman harus menunggu giliran. Saya pinjam RP 1.000.000, untuk membeli barang kebutuhan kios saya.

Saya membeli persediaan bahan-bahan mie dalam jumlah banyak. Karena rame saya bisa menjual mie sebanyak 7 kg per hari, dengan pelanggan anak SD, SMP, guru-guru dll. Kemudian jual jus sachet dingin,  sampai harus pesan es batu dari tetangga. Jualan semakin maju pendapatan saya bertambah. Saya berjualan di kios hanya setengah hari, dan setengah harinya bekerja di rumah serta membuat mie hun goreng, yang dibungkus dan dititip di warung-warung di waktu sore. Tidak kurang dari 200 bungkus laku setiap hari. Penghasilan saya juga semakin bertambah, otomatis saya banyak meringankan beban suami dalam keluarga.

”Keuntungan yang saya dapat ditabung,  untuk  membiayai kebutuhan keluarga dan beli perhiasan emas. Saya juga mendirikan rumah dengan ukuran 8×11 m, membangun kios sederhana dan membeli kereta (sepeda motor, red) baru”.

Di tengah keberhasilan saya berjualan mie, tiba-tiba kios yang saya pakai tidak di sewakan lagi karena pemiliknya mau berjualan sendiri, terpaksa saya berjualan di tempat sendiri dan pelanggan agak sepi, saingan mulai banyak dan saya pun menambah jualan pecal. 

”Meskipun sibuk jualan mie caluek, saya tidak pernah melupakan kelompok, dan tanggung jawab saya sebagai bendahara, setiap bulan kami selalu mengadakan pertemuan rutin kelompok dan kopwan.  Kalau ada pelatihan saya selalu mengikutinya dan jualan mie saya tutup dulu. Ini merupakan  kesempatan saya untuk beristirahat, sepulang dari pelatihan saya menyampaikan kembali materi pelatihan kepada anggota kelompok lainnya.

Melihat kegiatan yang kami lakukan di kelompok, para tokoh masyarakat pun mulai melirik pada kelompok kami. Kalau ada rapat di desa saya mulai dilibatkan, untuk membuat perencanaan dengan kades dan tomas lainnya. Musrenbang kecamatan, saya sering di undang sebagai perwakilan tokoh perempuan di desa. Setelah itu saya diberi jabatan sebagai tim pelaksana kegiatan (TPK) PNPM Mandiri, sebagai sekretaris, BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) meminta saya untuk membimbing KWT(Kelompok Wanita Tani), saya sebagai ketua. 

Sampai saat ini saya masih dipercaya oleh PNPM kecamatan untuk mengelola kegiatan pembangunan di kampung dan mengelola SPP. Kalau para pengambil kebijakan ada  yang menyimpang dari hak-hak masyarakat, saya sudah berani mengkritiknya. Saya selalu membela hak-hak perempuan.  Pernah juga agenda dan rapatnya dipending gara-gara saya menuntut hak perempuan. 

Saya sangat berterimakasih kepada PPSW yang mendampingi kami, memberikan bermaca-macam pelatihan sehingga saya sudah berani untuk memimpin rapat dikelompok, lebih dipercaya oleh tokoh masyarakat, dan saya bisa terlibat di rapat-rapat pengambilan keputusan. Ini semua karena bimbingan PPSW. Sebelum masuk PPSW jangankan dipercaya untuk mengelola kegiatan, diikut sertakan dalam rapatpun tidak pernah. Dari PPSW saya bisa belajar menjadi pemimpin, pembukuan, mengelola kegiatan di masyarakat,  dan tampil di TV Aceh juga. 

Harapan saya kepada PPSW selalu memberikan kami pelatihan-pelatihan, baik pelatihan ketrampilan  maupun kepemimpinan, karena ilmu yang kami miliki sangat sedikit. Pelatihan yang diberikan sangat berguna terutama dalam membina kelompok dan masyarakat. Kami akan selalu berjuang untuk kelompok dan akan tetap berjuang untuk hak dan harkat martabat perempuan dengan tidak melupakan tugas sebagai ibu dan istri. Saya selalu mengusahakan yang terbaik untuk perempuan. Mudah-mudahan kedepan bisa memberdayakan kelompok kearah yang lebih maju, dan para perempuan lebih berani dalam memperjuangkan haknya, serta terus mau berkecimpung dalam pengambilan keputusan dan kebijakan di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan bisa sampai ke tingkat nasional amiin. (Nurlaili)