Sebentar Lagi, Perempuan Indonesia Mandiri Secara Ekonomi

Jakarta, FIMELA.com. Mempunyai cita-cita membuat perempuan Indonesia berdaya, sebuah NGO bernama Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), memberikan bimbingan pada perempuan di 6 titik provinsi Indonesia. Secara perlahan, PPSW menanamkan pemahaman kemandirian ekonomi kepada perempuan daerah.

Lahir dari kepedulian terhadap sesama

Sudah saatnya perempuan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Semakin banyak perempuan yang peduli dengan nasib sesama, semakin banyak pula perempuan yang tercerdaskan. Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) merupakan sebuah NGO pemberdaayaan perempuan yang berdiri sejak tahun 1986.

Sejak berdiri hingga saat ini, PPSW sudah memiliki 596 kelompok bimibingan perempuan yang tersebar di 6 provinsi. “Yang menjadi target kita memang perempuan-perempuan yang bisa dibilang tidak tersentuh pendidikan, tapi bukan berarti semua perempuan bimibingan kami tidak mengenyam pendidikan. Kami ingin membuat para perempuan Indonesia bisa berdaya tanpa harus menggantungkan hidup mereka pada anak ataupun suami,” ujar Helga salah satu pengurus tetap PPSW.

PPSW secara teratur membuat kelas-kelas di beberapa daerah-daerah di Jakarta, Riau, Aceh, dan beberapa daerah lainnya untuk memberikan kelas diskusi ekonomi kepada ibu-ibu di daerah tersebut. PPSW mencoba untuk menggali dan mengoptimalkan potensi yang ada pada perempuan di daerah agar mereka bisa mandiri secara ekonomi dan sadar akan kebutuhan ekonomi di masa depan.

FIMELA.com berkesempatan menyaksikan langsung penyelenggaran kelas edukasi financial PPSW bersama Citibank di daerah Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur. Sebagai salah satu upaya membantu meningkatkan kesadaran di Koperasi Mandiri, Pondok Ranggon, PPSW mengajak mereka untuk menyisihkan Rp1.000,- per hari sebagai dana darurat. Dan salah satu pencapaian besar yang berhasil diraih oleh kelompok Koperasi Mandiri selama sekitar 12 tahun adalah berdirinya sebuah gedung yang menjadi secretariat resmi Koperasi Mandiri.

“Kami berupaya agar mereka bisa mandiri secara ekonomi tanpa harus tergantung suami dan anak-anak dengan cara mengoptimalkan kemampuan mereka sendiri, misalnya saja ketrampilan membuat emping tradisional ataupun membuat aksesori sederhana. Bukan hanya sekadar membuat mereka mandiri secara ekonomi, kami pun mengajarkan mereka untuk mulai sadar akan kebutuhan ekonomi di masa depan. Asuransi dan investasi pun mulai kami ajarkan pada mereka,” Helga bercerita.

Pendidikan dan bahasa daerah menjadi kendala utama

Kendala teknis pastinya banyak dihadapi oleh para trainer dari PPSW dalam menyampaikan berbagai materi kepada ibu-ibu di daerah. Karena itulah, diperlukan trainer-trainer yang mampu menyampaikan materi pelajaran ekonomi dalam buku kepada ibu-ibu di pelosok Indonesia dengan bahasa sehari-hari mereka.

“Biasanya trainer di PPSW ada 2, yang satu trainer utama sedangkan yang satunya adalah trainer lokal, merekalah yang membantu kami melokalkan apa yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat setempat. Bahasa dan pendidikan menjadi kendala utama kami dalam menyampaikan pelajaran, sekalipun kami menyampaikan semua program benar-benar sesuai dengan kasus yang bisa mereka alami sehari-hari. Misalnya saja, untuk masalah investasi, kami menggunakan ternak, tanah, dan emas sebagai salah satu contoh yang biasa kami gunakan dalam menyampaikan materi kepada ibu-ibu di daerah. Jujur, tingkat kesulitan dalam menyampaikan materi kepada mereka pun berbeda di setiap daerah, ada yang memerlukan waktu hanya 2 jam untuk satu kali sesi pertemuan, namun ada juga yang memerlukan waktu hingga 4 jam hanya untuk memberikan pemahaman,” Helga menambahkan.

Helga mengaku bahwa hingga saat ini, kemajuan para perempuan yang menjadi binaan mereka pun cukup membanggakan. Para ibu yang awalnya tidak peduli tentang surat tanah yang mereka miliki, saat ini sudah mulai sadar dan membuat hitam di atas putih tanah-tanah yang menjadi milik mereka.

Bukan hanya ekonomi, politik pun dirambah

Tidak sekadar memberi kesadaran ekonomi, PPSW pun memberikan pelatihan dan bimbingan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Penyuluhan kesehatan keluarga hingga memberikan kesadaran berpolitik pada perempuan di daerah pun turut menjadi agenda wajib PPSW. Dengan diberikannya pendidikan berpolitik kepada masyarakat di pedesaan, PPSW berharap perempuan-perempuan desa mampu menyuarakan aspirasi mereka.

“Tidak hanya membuat perempuan berdaya dalam ekonomi, PPSW juga memberikan pencerdasan di bidang lain, misalnya saja kesehatan dan juga politik. Bahkan, untuk Pemilu tahun depan, ada anggota binaan kami di Kalimantan yang maju mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Pencapaian seperti ini pastinya di luar harapan kami dan kami cukup bangga bahwa ada salah satu anggota kami yang berani untuk maju,” ujar Helga menutup pembicaraan. (Syarahsmanda Sugiartoputri)

Sumber: www.fimela.com. Posted on 25 April 2013