Menciptakan Dana Pensiun Sendiri

Jakarta, Tabloid Wanita Indonesia. Tidak dapat dipungkiri kalau wanita merupakan ‘manager’ keluarga, yang juga mengelola keuangan. Sayangnya pengetahuan masalah keuangan yang minim, kadang membuat kaum ibu bingung mengelolanya. Tak jarang, mereka juga lupa menabung untuk masa tua mereka.

Selasa (16/4) sejak pagi hari di ruang Koperasi Mandiri, Cipayung, Jakarta Timur, sudah terlihat ramai. Terlihat sekitar 30 ibu-ibu terlihat antusias mendengarkan seorang instruktur mengajarkan tentang keuangan. Topik pagi itu adalah soal pinjaman dan hutang.

Kelas ini merupakan bagian dari kegiatan Citi Indonesia dan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW). Keduanya secara khusus mengadakan program pelatihan pendidikan keuangan bagi wanita berusia di atas 40 tahun  dan berpenghasilan rendah.

“Bisa dikatakan ibu-ibu yang sudah berusia 40 tahun ke atas,  jarang memikirkan saving. Mereka mungkin fokus untuk mengurusi anak saja. Padahal jika mereka memanfaatkan potensi diri, mereka bisa menghasilkan uang sendiri dan memiliki saving money yang matang. Kami ingin membekali wanita agar cerdik dan cermat dalam mengelola keuangan,” ucap Agung Laksamana, Head of Corporate Affairs Citi Indonesia.

Mengapa memilih wanita berusia 40 tahun ke atas? ”Sekarang ini sudah banyak program dari bank atau lembaga lain bagi wanita yang masih usia produktif, sekitar umur 25-40 tahun. Wanita-wanita produktif ini sudah diajarkan bagaimana menyisihkan penghasilan bahkan mulai menabung untuk dana pensiun. Selain itu, saat ini sudah ada program Perbankan yang sudah merambah ke anak-anak. Anak-anak diajarkan cara menabung, bahkan sampai ada program khusus anak membuka rekening dan memiliki kartu ATM sendiri,” kata Agung.

“Tetapi kemana program untuk wanita usia lanjut yang tidak memiliki penghasilan tetap atau tidak memiliki penghasilan sama sekali kecuali dari gaji suaminya? Seakan-akan golongan wanita seperti ini terabaikan. Hal ini membuat kami prihatin dan ingin melakukan sesuatu buat mereka,” jelas Agung.

“Di sinilah Citi dengan menggandeng PPSW ingin meng-cover mereka. Memberikan pelatihan, tidak hanya di Jakarta tapi juga di kota-kota lain. Kami mengadakan roadshow agar bisa menyentuh seluruh target yang kita maksudkan. Dan tidak hanya sebatas pelatihan lalu selesai.  Setiap 3 atau 6 bulan sekali, koordinator PPSW di setiap kota yang kami kunjungi, harus memberikan report para ibu-ibu asuhan mereka. Sudah sampai sejauh mana mereka berhasil memiliki saving money bagi dirinya sendiri,” katanya.

Sewa Angkota

“Saya salut karena ibu-ibu ini mempunyai semangat tinggi untuk belajar dan berkarya. Hanya saja kita harus memancing agar mereka mengeluarkan seluruh potensi yang ada. Beberapa dari mereka bahkan menyewa angkutan umum (angkot) khusus untuk mengikuti kelas ini hehehe…,” lanjut Agung lagi

Sesi kelas diadakan secara interaktif dan menarik, yang membuat para peserta antusias ikut setiap minggu selama 6 bulan penuh. “Melalui sesi ini, peserta diharapkan dapat memahami, mengubah pola pikir mereka tentang mengelola uang  yang dapat diterapkan sehari-hari.  Kami juga akan mendukung saat mereka butuh modal atau mengembangkan usaha,” jelas Agung.

Untuk mempermudah peserta dalam memahami materi, para peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang membahas beragam kasus yang dekat dengan mereka. “Setiap kelompok juga dibimbing untuk memperbaiki pola pikir mereka dalam mengelola keuangan dengan lebih bijak melalui beragam contoh sederhana. Di akhir sesi, setiap kelompok akan membuat simulasi tentang keuangan. Ini untuk mempermudah mereka menyerap materi pelajaran,” tambahnya.  

Usaha Mikro

PPSW sendiri merupakan salah satu LSM Perempuan di Indonesia yang terus konsisten mengembangkan dan mendampingi kelompok-kelompok perempuan. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 1986 sampai sekarang.

“Kami sudah sering melakukan training terhadap ibu-ibu untuk mempunyai penghasilan sendiri. Caranya bisa dimulai dari yang paling mudah. Sebagai contoh, kami ajak mereka untuk wirausaha mikro. Para ibu ini bisa membuat makanan, kerajinan tangan atau membuka warung sederhana di rumah,” jelas Tri Endang Sulistiyawati, ketua PPSW Jakarta.

“Meski kecil dan sederhana, hal ini dapat menambah penghasilan buat mereka. Mereka akan menjadi mandiri dan bisa menabung untuk hari tua mereka. Kami senang memberikan pelatihan seperti ini. Materi yang kami berikan juga kami sampaikan dengan sederhana,” tambahnya.

“Seperti hari ini, kami membahas pinjaman dan utang. Beberapa hal yang dibahas di antaranya, bagaimana cara jika ingin melakukan pinjaman untuk usaha, mengenal pilihan pinjaman, cara mengelola pinjaman jika uangnya sudah di dapat dan banyak lagi. Jadi mereka tidak terkungkung dalam mindset ‘takut pinjam ke bank karena takut tidak bisa bayar’ sehingga lebih memilih meminjam kepada lintah darat. Padahal dengan meminjam di lintah darat, justru dapat membuat mereka terjirat,” jelas Tri.

Pelatihan Enam Bulan

Program Kelas Keuangan diadakan di 6 kota di Indonesia, yaitu di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Riau dan Aceh. Program ini membuka kesempatan bagi para peserta untuk mendapatkan pengetahuan dan keahlian praktis, terkait manajemen keuangan pribadi, tabungan, pengelolaan utang, dan kebebasan finansial di usia lanjut.

Program yang berjalan selama 6 bulan ini mengangkat 6 tema keuangan yang berbeda setiap bulannya, yaitu : Penilaian diri dan menatap masa depan, Membuat anggaran dan tabungan, Jaringan perlindungan keuangan, Pinjaman dan hutang, Investasi, dan Rencana keuangan.

Setiap sesi kelas diadakan selama 2 jam dan dihadiri oleh sekitar 30 wanita paruh baya yang antusias dalam mendapatkan pemahaman dalam mengelola keuangan yang baik. Walaupun mereka menjalani sesi kelas di sebuah ruangan tertutup dan panas menyengat di siang hari, mereka tetap semangat dan ceria dalam menjalani sesi kelas tersebut.

Program ini merupakan 1 dari 7 program Corporate Social Responsibility (CSR) Citi untuk Indonesia yang dikelola oleh Citi Peka dan diresmikan pada tahun 1999 sebagai kampanye jangka panjang untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Citi Peka merupakan singkatan dari Peduli dan berkarya. Sejak tahun 2004, Citi Peka telah menyediakan anggaran sebesar lebih dari 6 juta dolar Amerika (atau sekitar Rp 58,2 miliar) melalui 15 kegiatan yang diperkirakan telah menjangkau lebih dari 750.000 masyarakat di berbagai daerah seperti Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Jabodetabek, Jawa Barat, dan berbagai daerah lainnya.

Untuk tahun 2013 sendiri, Citi Peka menyediakan dana sebesar 860 riu dolar Amerika  (sekitar Rp 8,3 miliar) untuk pelaksanaan program kemasyarakatan bersama LSM-LSM di Indonesia. (Rizkita Lubis)