Bekerja Tanpa Lelah Demi Menggapai Cita-cita

images_cerita lapang fathonah

Perempuan sederhana ini bernama Fathonah yang akrab dipanggil “Fat”. Lahir di Kediri 12 desember 1969. Pada masa orde baru pemerintah melakukan program transmigrasi dan pada tahun 1981 Fat bersama dengan orang tua ikut dalam program tersebut. Manapakkan kaki di bumi lancang kuning tepatnya di Desa Lenggadai Hulu Kabupaten Bengkalis. Desa kecil ini masih tergolong terisolir, masih hutan belantara, tidak ada akses jalan dan juga transportasi, sarana umum lainnya seperti sekolah, pasar dan rumah sakit juga belum ada.

Fat kecil masih duduk di kelas 3 sekolah dasar dan melanjutkan sekolah di desa setempat yang saat itu masih dilakukann di rumah-rumah penduduk dengan tenaga pengajar sukarela. Melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di desa tetangga yaitu Desa Teluk Pulau Hulu. Disamping bersekolah Fat juga ikut membantu orang tua yang berprofesi sebagai petani. Ikut menggarap sawah dan juga mengisi kekosongan waktu dengan menjaga warung. Karena keterbatasan ekonomi Fat tidak melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Anak kedua dari 6 bersaudara memutuskan untuk menikah di tahun 1986 dengan seorang pria bernama Hadi Sumarno dan dikaruniai 4 orang putra: Slamet Suprianto (1988), Teguh Wiyono (1995), M Nasir Siddik (2002) dan M Arif Maulana (2007). Profesi sebagai petani terus ditekuninya sebagai sumber penghasilan keluarga. Namun semangat untuk belajar tidak pernah putus. Fat memutuskan untuk menyambung pendidikannya dengan mengikuti program Paket C (setaraf SMA) pada tahun 2000 di PKBM Melati desa Muktijaya Kecamatan Rimba Melintang yang saat ini sudah dimekarkan menjadi Kabupaten Rokan Hilir.

 

Perjuangan yang membuahkan hasil

Seperti masyarakat pada umumnya, masyarakat di desa ini khususnya perempuan melakukan perkumpulan wirid/pengajian. Hal itu dilakukan dalam rangka menambah wawasan keimanan dan juga ajang silaturrahmi antar warga. Pada tahun 1994 disaat kegiatan pengajian berlangsung, datang perempuan bernama Jumiarti yang ternyata ada lah seorang tenaga pendamping lapang dasi sebuah LSM Permpuan bernama PPSW. Menginformasikan ingin membentuk kelompok yang saat itu bernama Kelompok Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS). “Di awal pembentukan kelompok kami diberikan pelatihan Motivas berkelompok oleh mas suroso, mbak jumiati, nana, mbak ema dan purwaningsih, yang memperkenalkan falsafah sapu lidi”, kenang bu fat. “kelompok pertama terbentuk adalah Harapan Indah dan Pakrti Kencana dengan modal awal simpanan pokok Rp 500 dan wajib Rp 200.”, lanjutnya.

Kedua kelompok ini awalnya bergabung dan melakukan pertemuan kelompok di bagansiapiapi bersama Koperasi Sumberdaya Alam (KSDA), berjalannya waktu semakin banyak terbentuk kelompok lainnya di wilayah muktijaya. Sehingga pada tahun 2001, kelompok yang ada di muktijaya sepakat untuk membentuk koperasi berbadan hukum sendiri dengan nama Koperasi Wanita Bunga Bangsa (WBB). Kegiatan buka kas berlangsung dari rumah ke rumah. Pada tahun 2003 sudah koperasi sudah memiliki tanah dan bangunan sederhana untuk aktivitas koperasi dan tahun 2010 dibangun kantor baru tepatnya disamping kentor lama dan sudah memiliki karyawan. Saat ini anggota koperasi berjumlah 325 orang dengan aset sebesar Rp 1,6 milyar. 

Itulah sekilas sejarah dari Koperasi WBB, yang kebetulan saat ini saya sebagai ketua koperasi”, ucap Bu Fat. Memang disamping kesibukannya bertani. Bu Fat sangat aktif di kegiatan kemasyarakatan lainnya seperti: kelompok marhaban, ketua wirid yasin, ketua pokja 2 PKK Kepenghuluan, Bendahara  SPB Rohil, Humas Kelompok Wanita Tani, Bendahara LPM dan masih banyak lagi. Selain itu juga aktif di kegiatan perkoperasian, beberapa jabatan yang diemban, antara lain: Ketua Kop WBB (2001-sekarang), Bandahara Puskopwan Rohil,serta Kepala sesi PP Dekopinda Rohil. 

Menjadi CO yang handal

Banyak sekali cerita yang penuh tantangan selama menjadi CO di Riau. Peristiwa ini terjadi tanpa disengaja. Status Bu Fat sebagai Ketua perwiridan ternyata mendapat lirikan dari berbagai pihak. Pada pertengahan tahun 2012. Badan Da’wah Islamiah (BDI) mendatangi Bu Fat sebagai Ketua Majelis Permata Hati, gabungan kumpulan wirid se kepenghuluan Muktijaya dan meminta kesediaan melaksanakan Wirid Akbar. “ya… namanya kegiatan keagamaan ya kita sambut baik, apalagi penceramahnya dari Pekanbaru”, cerita Fat. Namun kecurigaan muncul ketika dilaksanakan rapat persiapan. Panitia mengatakan bahwa akan ada dua penceramah. “Dimana-mana satu kegiatan Cuma ada satu penceramah. Ini kok dua?”, ingat Fat. Seorang tokoh masyarakat setempat memperingatkan bu Fat, “Bu Fat gak waswas? Kegiatan itu didanai oleh BDI. Salah satu pengurursnya akan mencalonkan diri menjadi Gubernur yang akan menjadi pesaing Bupati kita untuk memperebutkan posisi yang sama? Nanti tersangkut masalah pula”. Setelah merembukkan kembali dengan tokoh masyarakat lainnya, maka sepakat kegiatan ini dibatalkan. 

Namun sangat disayangkan ada pihak-pihak yang tidak puas, melaporkan hal ini ke Bupati. Bu Fat bersama beberapa tokoh masyarakat setempat diminta mengahadap Bupati. Pada saat itu yang ada Bapak Wakil Bupati. Mereka diberi wejangan, “kita jangan sembarangan memasukkan orang ke wilayah kita, ibu mau diusir dari Rohil? Cari rejeki disini, tapi menentang. Ikuti kegiatan yang biasa-biasa saja lah!”

Memang dari awal Bu Fat tidak mengenal siapa Herman Abdullah. Sebagai ketua wirid, yang terpikirkan adalahkegiatan keagamaannya. Namun ini merupakan pelajaran penting. Jadi tahu siapa sebenarnya pemimpin kita. Masyarakat hidup dalam tekanan-tekanan. 

Kepedulian Fat terhadap masyarakat dikarenakan rasa senasib sepenanggungan di rantau. Merasa diri lebih berarti jika bisa membuat orang bisa berhasil dan senang. Selain itu suami dan keluarga sangat mendukung segala kegiatan. Disisi lain, pekerjaan petani yang hanya musiman membuat Fat ingin mencari kesibukan lain dengan mencari ilmu baru dan pengalaman serta bisa mengabdikan diri untuk orang yang membutuhkan. Beberapa kali pernah memfasilitasi kepengurusan Jamkesmas, Jampersal, Operasi Katarak gratis, rujuk pasien ke Rumah Sakit Jiwa.

Harapan Fat, “kita bisa memajukan desa dengan ketokohan perempuan”. Pernah mendapat tawaran untuk menjadi kepala desa namun di tolak karena kesibukan keluarga, bertani dan organisasi lainnya. 

Dibanding awal bertransmigrasi, sudah banyak perubahan yang terjadi. Selain sisi ekonomi, sisi kepemimpinan jauh terlihat kemajuannya, apalagi setelah menjadi kader di PPSW. Semoga bisa bermanfaat buat semua. (Juli)