Akhirnya Tak Mau Jadi BMP Lagi

Nama lengkapnya Tini Kartini biasa dipanggil Teh Tini, saat ini berusia 26 tahun. Sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak, laki-laki berusia 10 tahun dan anak perempuan yang baru berumur  7 tahun. Teh Tini, demikian panggilan akrabnya,  tinggal di Kp Karanggantung tonggoh Desa Gunung Guruh, Kec Gunung Guruh – Kab Sukabumi.  Meski baru sekitar 3 bulan berada di rumah, Teh Tini telah masuk menjadi anggota kelompok Buniwangi. 

Sebagai seorang mantan  Buruh Migran Perempuan (BMP) yang sudah bekerja ke luar negeri sebanyak 3 kali, awalnya masih mempunyai keinginan untuk menjadi BMP lagi. Tetapi berkat masukan dan penyadaran dari pengurus kelompok Buniwangi, berhasil membatalkan keinginan teh Tini untuk kembali menjadi BMP ke luar negeri. Pada saat ini teh Tini menekuni usahanya yang baru dijalankan kurang lebih 1 bulan, yaitu dagang “seblak”(makanan yang menggunakan bahan baku macaroni). Teh Tini membatalkan niatnya untuk kembali menjadi BMP karena mendapatkan masukan dari pengurus kelompok Buniwangi yang sekaligus kelompok ini menjadi pusat layanan informasi yang berada di Kp. Karanggantung Tonggoh di Desa Gunung Guruh Kec Gunung Guruh kab Sukabumi. Harapan pengurus sekaligus pengelola pusat layanan informasi, semoga usaha teh Tini terus berkembang dan dapat menjadi sumber penghasilan keluarganya.  

Perjalanan teh Tini menjadi BMP dimulai pada tahun 2007 dengan negara tujuan Saudi Arabia. Alasan menjadi BMP adalah karena ekonomi, ingin membangun rumah, biaya anak sekolah dan ingin membuat orang tua bahagia. Namun teh Tini gagal. Meski dirinya sudah bekerja selama 2 tahun (sesuai kontrak) tetapi Teh Tini hanya menerima gaji selama 1 tahun yang dibayarkan tidak secara rutin setiap bulan. Untuk kasusnya ini Teh Tini mengadu ke KBRI dan diminta untuk tinggal di sana sambil menunggu gaji dibayarkan semua oleh majikan. Sudah 1 tahun tinggal di KBRI, rupanya gaji belum bisa diterima. Sehingga sulit untuk mengirim kabar dan mengirim uang ke keluarganya, apalagi pulang ke Indonesia. Masih beruntung, karena pada saat itu ada kunjungan presiden SBY, dirinya termasuk salah satu BMP yang dipulangkan. Teh Tini bisa pulang kembali ke kampung halaman dengan selamat meski tanpa membawa hasil dari bekerja menjadi BMP di Arab Saudi.

Rupanya kegagalan teh Tini belum memberikan rasa jera untuk tidak menjadi BMP lagi,  buktinya pada tahun yang sama yaitu tahun 2009, Teh Tini memutuskan untuk kembali menjadi BMP ke Luar Negeri.  Dirinya mempunyai anggapan, bahwa kalau orang lain bisa berhasil menjadi BMP, maka dirinyapun juga bisa berhasil. Maka Teh Tini nekad mengambil resiko menjadi BMP lagi dengan tujuan ke Abu Dhabi. Ternyata teh Tini hanya bekerja selama 1 tahun, dipulangkan karena menderita sakit. Masih beruntung karena gaji diberikan dan proses pemulangan dibiayai oleh majikan.

Pada tahun 2011, tidak lama setelah kepulangannya dari Abu Dhabi. Teh Tini kembali berangkat ke luar negeri. Kali ini negara yang dituju adalah Qatar. Baru berada di Qatar selama 7 bulan, karena majikannya berprofesi sebagai dokter dan ditugaskan di Indonesia tepatnya di Palembang, akhirnya Teh Tini ikut ke Indonesia dan tinggal di Palembang. Gaji dibayar dengan lancar. Teh Tini meminta cuti untuk pulang menemui keluarga. 

Kedatangan Teh Tini dari Palembang bertepatan dengan kegiatan di kelompok Buniwangi yaitu kegiatan diskusi tematik  untuk kader lokal pengelola pusat layanan informasi yang pertama, berlokasi tidak jauh dari rumahnya, sehingga bisa dilibatkan dalam kegiatan karena mendiskusikan isu BMP. Pengurus meminta persetujuan TPL untuk dapat mengundang the Tini dalam kegiatan tsb teh Tini diminta untuk cerita dan berbagi pengalamnya selama 3 kali menjadi BMP ke luar negeri. Meski sudah 3 kali menjadi BMP, the Tini masih tertarik menjadi BMP lagi, sebagaimana yang diungkapkan saat ditanyakan mengenai keinginannya kembali menjadi BMP, Teh Tini menjawab dengan optimis, “ kalau ada kesempatan, kenapa tidak ?”

Selama cuti, Teh Tini bekerja di pabrik garmen. Dari beberapa kali kunjungan yang TPL lakukan ke Buniwangi, ada beberapa perubahan yang nampak terjadi pasca kedatangan Teh Tini. Anak-anaknya, terlihat lebih ceria. Terutama untuk anak tertua, sudah tidak sering terlihat melamun lagi. Kedua anak Teh Tini terlihat lebih ekspresif, lebih bersih dan lebih terurus. Rumahnya juga terlihat lebih rapi dan bersih, suami Teh Tini kembali berkumpul bersama anak-anak. Karena sebelumnya, ketika TPL menanyakan kondisi anak-anak teh Tini, teh Eti yang menjadi tetangga dekat the Tini, menyatakan bahwa suami teh Tini jarang pulang selama teh Tini masih menjadi BMP. Anak-anak diasuh oleh neneknya yang berprofesi sebagai buruh tani, sehingga harus pergi bekerja ke sawah dari pagi hingga siang/sore hari. Akibatnya adalah, anak laki-laki teh Tini sering membolos sekolah dan tidak punya semangat belajar.

Ketika teh Tini menyatakan ingin kembali pergi bekerja ke luar negeri untuk yang ke empat kalinya kepada suami, dengan tegas suaminya menjawab, akan pergi dari rumah. Begitupun keluarga yang lain tidak memberikan dukungan. 

Karena itu, teh Tini kemudian berkonsultasi kepada pengurus kelompok, yaitu Bu Liah dan teh Rohaeti (Eti). Kemudian kedua pengurus menjelaskan keuntungan, kerugian dan resiko jika menjadi BMP lagi dengan berdasarkan pengalaman dan fakta yang terjadi. Khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga. Pengurus memberikan penjelasan dengan membandingkan kondisi keluarganya sewaktu teh Tini menjadi BMP dengan kondisi pada saat dirinya ada seperti saat ini. Apa artinya harta jika keluarga berantakan?. Pengurus juga memberikan saran “…. dengan bekerja di Indonesiapun, uang masih bisa didapatkan, bisa berkumpul dengan keluarga merupakan salah satu kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang”, begitu kata Bu Liah. 

Dari diskusi dengan Ibu Liah dan teh Eti, teh Tini dua hari kemudian,  teh Tini memutuskan untuk tidak menjadi BMP lagi. Sebagaimana ungkapan Teh Tini  kepada TPL : “ saya ingat perkataan Bu Liah dan Teh Eti, :……” “ buat apa banyak uang, kalau ternyata anak-anak tidak bisa terurus ?”…. “ dari awal niat saya adalah ingin bisa menyekolahkan anak sampai sekolah tinggi. Jika ditinggal jauh dan lama, anak tak terurus, jadi percuma…., dan saya juga merasa bahagia dengan kondisi saya saat ini…. bisa berkumpul dengan keluarga, anak-anak jadi semangat belajar. Saya harus mensyukuri itu”:  begitu ungkap teh Tini.

Menurut teh Tini, dengan berdirinya kelompok Buniwangi, masyarakat merasa terbantu. Baik dari segi ekonomi  dengan kegiatan simpan pinjam, atau dari segi wawasan dan penguatan antar anggota.  Ketika menghadapi masalah, maka sesama anggota bisa saling  menguatkan. Menurut The Tini, Kelompok Buniwangi dianggap mampu memberikan solusi dari permasalahan yang ada di sekitar kelompok. Pada saat ini teh Tini juga sedang merintis usaha dagang “seblak” (makanan macaroni basah), kegiatan usahanya ini  dilakukan sepulang kerja dari pabrik. Diharapkan usaha dagangnya nanti dapat berkembang sehingga mengalihkan profesinya dari bekerja di pabrik seperti yang sedang dijalaninya saat ini, beralih menjadi pelaku usaha seblak. “Suatu saat, semoga dirinya sudah bisa berhenti bekerja di pabrik dan dapat mengembangkan usaha dagang seblak sebagai salahsatu sumber pendapatan di keluarganya”, demikian ungkap teh Rohaeti (pengurus klp Buniwangi) dengan penuh harap. Amiin YRA.