Kembalikan Trademark PPSW

Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) sejak tahun 2005 telahmengembangkan strategi desentralisasi wilayah dengan empat lembaga anggota otonom yaitu PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo dan PPSW Sumatera, dengan Sekretariat PPSW sebagai badan koordinasi bagi lembaga-lembaga otonom tersebut. Selama ini telah banyak pelajaran penting yang bisa dijadikan bahan refleksi dan evaluasi untuk mengembangkan lembaga kedepan, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan internal maupun external dan memantapkan proses desentralisasi ke depan.

Dalam rangka mengevaluasi perkembangan organisasi dan program selama tahun 2012 dan melakukan perencanaan tahunan strategis tahun 2013,  telah dilaksanakanRapat Tahunan  yang diselenggarakan di Hotel Amaris Mangga Dua Square, tangga26-28 Februari 2013 diikuti oleh seluruh lembaga anggota. Rapat Tahunan dilaksanakan oleh Sekretariat Asosiasi, difasilitasi oleh Wali Amanah bersama-sama dengan Badan Pengurus.

Beberapa agenda penting pada Rapat Tahunan kali ini antara lain, laporan kemajuan (progress) kegiatan maupun keuangan masing-masing lembaga anggota dan badan-badan Asosiasi tahun 2012, diskusi tentang advokasi pendidikan keuangan, merumuskan perencanaan kegiatan dan keuangan mengacu pada perencanaan strategis tiga tahunan baik ditingkat lembaga masing-masing maupun ditingkat Asosiasi PPSW.

Peserta Rapat Tahunan Asosiasi PPSW tahun 2013 berjumlah 16 orang yang merupakan perwakilan dari lembaga anggota, Sekretariat, Badan Pengurus dan Wali Amanah.

Di hari pertama kegiatan, Rapat Tahunan dibuka oleh M. Suhud selaku Manajer Sekretariat yang bertanggungjawab terhadap kegiatan Rapat Tahunan ini, dilanjutkan oleh ketua Badan Pengurus, Endang Sri Rahayu yang menyampaikan susunan kegiatan selama 3 hari kedepan.

Sesi kemudian dilanjutkan laporan progress kegiatan dan keuangan dari setiap lembaga anggota dan badan-badan yang ada di Asosiasi PPSW dengan urutan: PPSW Borneo, PPSW Pasoendan, PPSW Jakarta, PPSW Sumatra, Yayasan Raudhatun-Nisa dan Sekretariat PPSW.

Nani Zulminarni, ketua Wali Amanah PPSW membuat 3 klasifikai penting dari laporan progress tersebut,  yaitu terkait komunitas mitra, gerakan perempuan dan kelembagaan. Di akhir uraiannya Nani menjelaskan “PPSW memiliki kekuatan di basis yang begitu besar dan kita harus bisa memanfaatkan itu menjadi kekuatan gerakan kita.  Dari uraian yang telah dijelaskan tadi, garis besarnya adalah mengembalikan trademark PPSW menjadi besar dengan arah yangjelas”.

Hari kedua dilanjutkan dengan diskusi advokasi pendidikan keuangan di Indonesia yang difasilitasi oleh Susana Concordo Harding, dari TSAO Foundation, Singapura. Sesi ini diawali dengan pemutaran video “Merencanakan Masa Tua Bahagia” tentang pengalaman Asosiasi PPSW dalam melaksakanan kegiatan pendidikan keungan untuk perempuan matang, kerjasama PPSW dengan CITI Foundation dan TSAO Foundation.

“Video ini merupakan bukti bahwa kita melakukan good job dan ini sebuah appresiasi juga pada Marry Ann yang merupakan pendiri dari TSAO Foundation. Ini juga merupakan bukti adanya transformasi dari pendidikan keuangan yang ia gagas” demikian komentar Susana tentang video tersebut.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kerjasama advokasi pendidikan keuangan yang akan melibatkan beberapa LSM, Diknas, DPR dan pihak-pihak terkait lainnya. “Kita tidak bisa mengadvokasikan kebijakan sendiri, tapi bersama-sama dengan jaringan LSM perempuan lainnya. PPSW dapat melakukan koalisi dengan lembaga lain, misalnya ASPPUK, Koalisi Perempuan, Education Watch, Komnas Lansia, NEW Indonesia, Senior Club Indonesia, dll” demikian penuturan Endang Sulfiana, Direktur PPSW Sumatra.

Sesi selanjutnya adalah diskusi tentang jaringan yang selama ini diikuti PPSW, kesimpulan penting dari diskusi tersebut adalah bawah seluruh Jaringan yang mencakup Nasioanal dan International hanya diikuti dan menggunakan nama Asosiasi PPSW, sedangkan jaringan yang bersifat lokal diikuti dan menggunakan nama lembaga anggota masing-masing.

Rapat Tahunan juga membahas tentang kaderisasi kepemimpinan dalam lingkup Asosiasi PPSW, pembahasan tentang BDS (Business Development Services), rencana pembangunan Rumah Perempuan, pembahasan Rencana Kerja bersama Asosiasi PPSW tahun 2013 serta pengalihan Ketua Badan Pengurus (BP) Asosiasi PPSW dari Endang Sri Rahayu (2012) ke Reny Hijazie (2013). — (shd).