Ibu Enah: Kalau Sudah Tua, Saya Tidak Mau Merepotkan Anak

Banyak sekali perubahan pada diri saya, setelah mengikuti pelatihan Pendidikan Keuangan. Saya sekarang menambah banyak usaha. Demi masa tua saya nanti, saya harus berusaha tanpa membebani suami. Saya membuka warungan sekarang di rumah. Terus saya juga usaha emping, sambil mengerjakan usaha utama saya sebagai tukan rias pengantin.Saya selalu membawa emping untuk saya jual ke orang-orang yang ada di sekitar. Hasil jualan emping seluruhnya saya tabung untuk tabungan hari tua saya”.

Demikian ungkapan Ibu Enah Suhaneah (55 tahun) ketua Koperasi Kuntum Mekar, ketika ditanya perubahan apa yang dirasakan setelah mengikuti pelatihan Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang.

Ibu Enah bersama 29 orang lainnya pada bulan Juli 2012 telah diwisuda dan mendapatkan sertifikat dari Pelatihan Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang  angkatan I periode Januari-Juni 2012 di Pandeglang, Banten, kerjasama antara Asosiasi PPSW, Citi Foundation dan TSAO Foundation.

Jumlah peserta Pelatihan Keuangan Angkatan I yang telah dinyatakan lulus dan ikut wisuda pada bulan Juni-Juli 2012 dari 6 propinsi sebanyak 376 orang dengan rincian dari Aceh 58 orang, Riau 61 orang, Pandeglang 60 orang, Jalakarta 62 orang, Cianjur 60 orang dan Kalimantan Barat 75 orang

Tujuh bulan setelah di wisuda pengelolaan keuangan rumah tangga Bu Enah sudah berubah, yakni dengan mengalokasikan sebagian uangnya untuk tabungan hari tua. “Saya dalam membagi keuangan sekarang betul-betul ya, harus selalu disisihkan untuk tabungan, tidak bisa diganggu gugat. Tabungan ya tabungan, bukan untuk yang lain. Anak-anak juga saya ajak bicara, mereka saya kumpulkan. Saya bilang Ibu nanti menjadi tua, jadi ibu mulai sekarang harus menabung. Alhamdulillah anak-anak juga tau permasalahan orang tuanya. Saya nggak mau mengandalkan anak-anak.Saya harus  mempersiapkan anggaran tabungan itu benar-benar untuk masa tua saya nanti”.

Tujuan diselenggarakan pelatihan Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang yang berusia diatas 40 tahun tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan penyadaran kepada kaum perempuan bahwa masa tua yang indah dapat direncanakan sejak awal. Setelah tua kelak perempuan tidak tergantung lagi dengan anak-anak dan keluarganya karena dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, misalnya seperti keperluan sehari-hari, biaya kesehatan, rekreasi dll. “Harapan saya di kala tua nanti, saya tidak mau ngerepotin orang lain, sekalipun itu anak. Saya ingin mensejahterakan diri, makanya saya harus mempersiapkan yang mengurus saya nanti, walaupun bukan anak, saya harus siapkan upahnya” ujar bu Enah.

Modul ke 6 atau modul terakhir dari pelatihan keuangan tersebut adalah Perencanaan Keuangan. Seluruh peserta diwajibkan untuk membuat rencana keuangan untuk masa tuanya. “Saya membuat perencanaan keuangan  terlalu banyak  ya, akhirnya setelah mengikut pelatihan itu, tabungan sukarela saya di koperasi semua untuk masa tua saya. Saya tidak akan ambil, terkecuali kalau sangat mendesak” demikian ungkapan Ibu Enah saat ditanya perihal rencana keuangannya.

Bu Enah yang mempunyai 5 putra 1 putri dan 1 orang cucu tersebut, saat ini giat membagikan ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut kepada para tetangga yang tidak ikut pelatihan dan juga teman-temannya. Bu Enah menyarankan agar pendidikan keuanga ini bisa diberikan kepada lebih banyak perempuan  “Kenapa sih harus ada batas umur, karena seperti saya yang sudah tua ini, kenapa bukan dari dulu ikut pelatihan. Harusnya dari dulu kami bisa mengontrol keuangan. Kalau kami semua ikut dari dulu, mungkin uang di tabungan sudah banyak. Mudah-mudahan kedepannya semua bisa ikut, tidak dibatasi umur. Harusnya seperti saya sekarang sudah menikmati, bukan mempersiapkan. Tapi mudah-mudhan saya masih diberi kesempatan mempersiapkan untuk 10 tahun kedepan” demikian pesan bu Enah. (shd)