TOT Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang (40+)

ImageSebanyak 20 orang koordinator dan pendamping lapang lembaga Anggota Asosiasi PPSW; yaitu PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan, PPSW Borneo dan PPSW Sumatra telah mengikuti Training of Trainer) TOT Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang, yang diselenggarakan di Wisma PKK, Jakarta Selatan, tanggal 9-12 Januari 2012. Fasilitator pelatihan ini berjumlah 4 orang dari Tsao Foundation, Singapura.

Program ini merupakan adopsi dari Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang Tsao Foundation Singapura yang telah diadaptasi sesuai dengan konteks perempuan basis PPSW.  Bersama dengan Tsao Foundation, PPSW telah melakukan rangkaian kegiatan seperti workshop nasional, peluncuran program Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang serta proses penulisan modul/kurikulum.

Pada 27 -29 Juli 2011, PPSW menyelenggarakan Workshop Penulisan Modul Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang yang difasilitasi oleh Tsao Foundation. Dari workshop tersebut, dihasilkan enam modul yang akan menjadi panduan  bagi fasilitator atau trainer dalam kelas belajar tematik.

Keenam modul tersebut, yakni 1) Penilaian Diri dan Menatap Masa Depan; 2)Membuat Anggaran dan Tabungan; 3) Jaringan Perlindungan Keamanan; 4)Pinjaman dan Hutang; 5) Investasi, serta 6) Perencanaan Keuangan. Modul – modul tersebut kemudian disempurnakan oleh Tsao Foundation.

Selelah penyempurnaan modul selesai maka dilaksanakan TOT tersebut dimaksudkan agar para calon trainer yang akan melatih perempuan matang (40+) di 6 propinsi dampingan PPSW dapat memahami dan mengimplementesikan ke enam modul tersebut.

Program Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Matang ini telah dilaksanakan melalui kelas belajar tematik semacam kursus untuk 6 (enam) Propinsi dampingan PPSW (Jakarta, Pandeglang, Jawa Barat, Aceh, Riau, Pontianak) dimulai pada awal bulan Februari 2012.

Setelah mengikuti TOT ini, para trainer yang akan  mempersiapkan kelas belajar tematik tersebut. Sebagai fasilitator atau trainer mereka harus sudah bisa menguasai materi ke enam modul tersebut.  Untuk memudahkan penguasaan materi, maka dalam pelaksanan TOT digunakan media-media kreatif dan praktek langsung menjadi fasilitator.

Proses Pelatihan

TOT dilaksanakan dengan metode partisipatif yang menyenangkan. Selama 4 hari, peserta mempelajari 10 sesi. Setiap sesi terdiri dari 5 bagian yaitu ice breaker, Lihat, Nilai, Lakukan dan terakhir kesimpulan. Sejak awal disampaikan oleh fasilitator tentang segmen-segmen dalam setiap sesi sudah membuat peserta TOT penasaran, seperti apa nanti ketika dilaksanakan. Hari pertama membahas “MEMAHAMI PELATIHAN”. Emma Jarman-Jones, fasilitator TOT untuk hari pertama dan kedua selalu melibatkan peserta agar aktif dalam training of triner. Karena dinamika peserta akan memberikan kontribusi terhadap keberhasilan pelatihan untuk pelatih ini.

ImagePada hari pertama peserta ajak untuk mengingat kembali “kapan” saat pertama kali mengikuti pelatihan dan “apa nama pelatihannya”. Materi ini adalah untuk mengembalikan ingatan peserta (merefresh) tentang isi training yang pernah diikuti peserta dan mengukur “berapa banyak” materi yang masih tersisa dalam ingatan peserta. Berdasarkan teori, jika pelatihan tersebut berkesan dan bermanfaat untuk seseorang, ia akan selalu mengingatnya atau pelatihan tersebut tidak terlupakan.

Selanjutnya peserta diminta untuk menyebutkan 10 kata yang memiliki hubungan dengan kata “pelatihan”. Hal ini bertujuan agar peserta mengetahui bahwa setiap orang mempunyai pandangan atau definisi yang berbeda-beda tentang “pelatihan”. Setelah dikompilasi oleh fasilitator, ternyata ada sebagian kata yang sama dan sebagian kata berbeda. Berarti seorang fasilitator harus bisa mengeksplorasi pelatihan agar sesuai dengan harapan peserta.

Materi selanjutnya adalah “Menghargai program pelatihan”, Peserta diminta membaca kasus dan berdiskusi berpasangan. Intinya dalam setiap pelatihan, fasilitator harus memperhatikan 3 hal yaitu “hasil’  pelatihan yang diharapkan; yang kedua “Proses” pelatihan dan ketiga adalah “ Orang atau peserta pelatihan”. Ketiga unsur ini sama pentingnya sehingga tidak bisa diabaikan jika pelatihan ingin sukses.

Seorang fasilitator harus menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dalam memberikan pelatihan (totalitas) sehingga tujuan pelatihan dapat tercapai secara efektif dan efisien dan fasilitator dapat meminimalisir faktor-faktor yang dapat menghambat  keberhasilan pelatihan.

Pada sesi kedua, peserta belajar materi “MENGHARGAI FOKUS PELATIHAN”. Sesi kedua juga terdiri dari 5 bagian sama dengan sesi pertama. Setiap pelatihan pasti mempunyai fokus tertentu. Pelatihan Financial Education ini fokusnya adalah “Uang”, mulai dari sumber uang yang kita hasilkan, berapa jumlahnya, untuk apa saja setiap hari kita mengeluarkan uang, bagaimana mengelola uang, dan bagaimana kita memperlakukan uang. Apakah peserta mempunyai rencana keuangan pribadi atau keluarga.

Pelajaran berharga dari sesi kedua ini adalah peserta TOT ini diharapkan dapat menjadi fasilitator yang mempunyai nilai-nilai dan sikap positif, mengetahui karakter atau fokus pelatihan pendidikan finansial, dapat memberikan dorongan positif kepada peserta agar mampu membuat perencanaan keuangan yang baik dan mampu membuat keputusan keuangan yang bijaksana serta harus meningkatkan standardisasi diri untuk menjadi fasilitator yang baik.

Pada sesi ketiga “Memberikan pelatihan yang terbaik” peserta belajar 4P dalam pelatihan yaitu Promise (Janji) maksudnya hasil belajar apa yang ingin dicapai dalam program pelatihan. P kedua adalah Place (tempat) maksudnya tempat atau ruang seperti apa yang dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan pelatihan . P ketiga adalah Person (Individu) maksudanya adalah individu yang terlibat didalam pelatihan yaitu peserta dan fasilitator, bagaimana interaksi yang terjadi antara sesama peserta dan antara peserta dan fasilitator. Dan P yang keempat adalah Process (Proses) maksudnya adalah bagaimana pelatihan tersebut dilaksanakan, metode dan media apa yang dipergunakan, apakah setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berbicara dan apakah fasilitator cukup demokratis dalam memfasilitasi. Sebenarnya sesi ketiga ini adalah bicara tentang visi pelatihan, fasilitator dan pesertanya.

ImagePelajaran berharga dari sesi ketiga ini adalah setiap fasilitator dan peserta pelatihan harus mempunyai visi yang dibuat berdasarkan perencanaan sehingga hasil pelatihan dapat “merubah” nilai-nilai, sikap dan kondisi peserta kearah yang lebih baik.

Pelajaran berharga yang  diperoleh pada hari pertama adalah peserta dan juga fasilitator harus menghargai kegiatan pelatihan. Pelatihan apapun yang kita ikuti sebaiknya diikuti dengan serius karena jika tidak serius kita tidak mendapatkan perubahan apa-apa (pengetahuan, nilai, sikap) dan hanya membuang waktu saja.

Hari kedua, sesi keempat TOT belajar tentang “Komunikasi”. Komunikasi tidak terbatas pada ucapan atau kata-kata atau verbal.  Kunci sukses komunikasi adalah 55% visual, 38% vocal dan hanya 7% ditentukan oleh verbal. Seorang fasilitator harus mengetahui cara berkomunikasi yang efektif kepada para peserta jika menginginkan pelatihan berhasil. Beberapa aturan dalam menciptakan komunikasi yang baik adalah pastikan bahwa suara anda sudah cukup lantang dan keras, sehingga peserta dapat mendengar anda dengan baik; jangan berteriak; hindari berbicara dengan nada datar; ubahlah cara penyampaian materi anda; gunakan jeda dalam menyampaikan materi; gunakan suara yang dewasa; gunakan bahasa tubuh yang penuh dengan mawas diri; bergeraklah; perhatikan kotak mata dan perhatikan bahasa tubuh peserta.

Ada beberapa pelajaran berharga dari sesi komunikasi yaitu berhentilah berasumsi terhadap pendapat orang lain, berikan orang lain kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya; berempati terhadap pendapat yang berbeda; libatkanlah seluruh peserta didalam tugas dan pengambilan keputusan selama proses pelatihan agar hubungan antara sesama peserta dan fasilitator menjadi lebih kuat; Cegahlah perilaku kelompok maksudnya setiap orang harus dimotivasi untuk mengeluarkan pendapatnya secara individu jangan takut untuk berbeda pendapat.

Sesi kelima TOT adalah “Kemampuan komunikasi efektif untuk pelatih”. Dua orang peserta diminta untuk maju kedepan kelas dan mempraktekkan bentuk komunikasi. Orang pertama diberikan sebuah gambar dan diminta untuk mencermati gambar tersebut dan memberikan perintah kepada orang kedua untuk menggambar bentuk yang sama dengan gambar yang dipegangnya. Kedua orang ini berdiri dan saling membelakangi dengan jarak sekitar 1 meter. Orang kedua membuat gambar sesuai perintah orang pertama dan tidak boleh bertanya. Hasilnya adalah gambar yang dibuat oleh orang kedua berbeda dengan gambar yang dipegang orang pertama.

Pelajaran dari sesi kelima ini adalah komunikasi yang efektif tidak bisa dilakukan satu arah karena tidak ada feed back dari penerima pesan apakah pesannya sudah tepat apa belum. Kembali kepada kunci komunikasi yang efektif adalah bahwa komunikasi verbal hanya memegang peranan sedikit untuk keberhasilan komunikasi, oleh sebab itu diperlukan bentuk komunikasi yang lain seperti komunikasi dua arah, bantuan gambar atau visual dan vocal.

Dalam pelatihan, ada 4 metodologi yang biasa dipakai untuk menyampaikan materi yaitu metode Lecturette atau presentasi singkat  sekitar 10 menit yang diselingi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta agar lebih dinamis; diskusi kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang agar semua orang dalam kelompok kecil tersebut dapat terlibat aktif diskusi.  Metode studi kasus yaitu membahas sebuah kasus tertulis yang disediakan oleh fasilitator. Kasus tersebut didiskusikan dan dianalisis kemudian peserta diminta untuk mencari pemecahan masalahnya dari kasus tersebut. Metode keempat adalah bermain peran (Role play) yaitu sebuah tekik dimana beberapa orang atau satu kelompok diminta memerankan sebuah skenario atau situasi sebuah kejadian nyata didepan peserta yang lain. Permainan ini kemudian dibahas untuk dicarikan solusinya bersama-sama.

Sesi keenam TOT adalah “Kemampuan fasilitator mendampingi peserta”. Pada materi ini peserta belajar tentang keterampilan fasilitator dalam mendampingi peserta. Beberapa nilai positif yang harus dipelajari adalah “motivasi untuk sukses”, yaitu seseorang harus termotivasi untuk meningkatkan cara berfikir mengenai uang dan cara untuk mengelolanya; kedua “Kemampuan keuangan”, seseorang memerlukan kemampuan untuk membuat anggaran, menabung dan mengatur jumlah hutangnya dan selanjutnya adalah “ Berjuang untuk memperoleh sesuatu” maksudnya seseorang bertanggung jawab terhadap masa depan yang ia inginkan dan harus siap untuk berkorban untuk mencapainya.

Ada 4 pendekatan dalam mendampingi yaitu “Konseling” , fasilitator menggambarkan situasi sebagaimana ia melihatnya, merespon dengan cepat, mengajukan pertanyaan dan fokus untuk memahami dengan mendengarkan. Pendekatan kedua adalah “Mentoring” yaitu fasilitator menggambarkan hasil observasinya kepada peserta, dan menjelaskan bagaimana cara ia menginterpretasikannya. Ketiga adalah “Mengintruksikan” yaitu fasilitator memberikan instruksi langsung (mengajarkan) atau memandu peserta menghadapi masalah. Keempat “ Umpan balik” yaitu fasilitator memberikan deskripsi objektif berdasarkan perilaku mengenai bagaimana sesuatu bisa menjadi masalah dan hal mana yang harus ditingkatkan.

ImagePelajaran berharga dari sesi keenam ini adalah fasilitator harus memiliki keterampilan mendampingi peserta sesuai dengan kondisi dan tujuannya. Setiap peserta mempunyai kemampuan dan persoalan yang berbeda-beda sehingga harus didampingi dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Ada beberapa ciri pendapmping yang efektif yaitu memandang dirinya sebagai “teman “ bukan orang yang paling hebat dari pada orang lain; pendengar yang aktif dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain.

Hari ketiga, sesi ketujuh TOT yaitu “Memahami program pelatihan”. Sesi ini membahas modul-modul yang nanti akan diajarkan kepada peserta pendidikan finansial di masyarakat. Fasilitator memberikan inti materi dari setiap modul dan peserta diminta untuk bertanya jika ada hal yang tidak jelas. Fasilitator juga menyampaikan materi ciri-ciri pelatihan transformasional yaitu pertama pendekatan individu; stimulasi intelektual dan motivasi inspirasional. Pada sesi ini fasilitator juga memberikan karakteristik masalah peserta dalam hal keuangan yang dibagi  kedalam beberapa tipe yaitu penentang, pelempar kesalahan, korban, terpaku, pesimis, dan terpisah. 

Pelajaran berharga dari sesi ketujuh adalah kita harus melihat bahwa suatu program pelatihan seperti acara sinetron di TV bukan suatu kumpulan acara dokumenter, harus dibuat menarik. Kita harus menyadari bahwa hasil belajar adalah inti dari program dan kita harus berusaha keras agar menjadi fasilitator yang “transformasional”.

Sesi kedelapan adalah “Memahami dinamika program pendidikan keuangan”. Sesi kesembilan adalah “ Persiapan praktek memfasilitasi” dan sesi terakhir “kesepuluh” adalah Praktek atau simulasi memfasilitasi. Satu tim terdiri dari dua orang. Peserta yang praktek melatih akan dinilai oleh dua orang juri, dari peserta lain yang tidak memfasilitasi.

Secara keseluruhan TOT Pendidikan finansial ini sangat menarik bagi staf PPSW karena materinya relatif baru dan banyak metode dan pendekatan baru yang diperoleh dari fasilitator. Tim fasilitator yang berjumlah 4 orang dari Tsao Foundation sangat semangat memberikan   materi sehingga peserta TOT juga termotivasi menjadi semangat sepanjang 4 hari mengikuti TOT. (Shd/ES)