Hobi yang Membawa Berkah

Sejak gadis saya memang suka membuat kue dan membaca aneka buku resep. Kebetulan juga saya pernah bekerja di salah satu agen majalah yang memuat resep-resep masakan. Tapi karena keterbatasan biaya, saya hanya mencatatnya. Saya tidak pernah membeli berbagai macam bahan kue resep-resep tersebut untuk kemudian mencoba mempraktekkannya.

Kecintaan saya mengumpulkan resep dan coba mempraktekkan itulah yang menyebabkan saya mengolah makanan. Saya berharap selain hobi tersalurkan, saya juga mendapat keuntungan dan bisa membantu perekonomian keluarga.

Tahun 1993, saya menikah dan bertempat tinggal satu rumah dengan orang tua. Dua tahun kemudian saya menggeluti usaha membuat kue tart nanas. Tiga tahun berikutnya, saya mulai mencicil rumah di daerah Siantan. Setelah diadakan penambahan dapur, saya sekeluarga berpindah ke rumah tersebut. Berbekal peralatan dapur yang minim dan sangat sederhana sekali, dirumah itulah saya berpikir untuk berusaha. Sekedar mencari tambahan penghasilan untuk membantu menutupi perekonomian keluarga.

Dengan mengumpulkan peralatan sederhana dan oven kecil, lama kelamaan saya dapat memasarkan produk saya untuk warung-warung kopi saja. Lalu saya mulai menabung. Dari hasil tabungan tersebut saya mampu membeli oven gas besar di tahun 1996. Pemasaran kue saya makin meluas. Produk kue itu dikemas dalam toples dengan harga per biji Rp.500,- dan harga per toples Rp.60.000,-. Setiap toples berisi 60 buah kue. Total ada 15 toko yang saya titipi kue saya. Jumlah omzet per bulannya mencapai Rp 450.000,-.

Selang satu tahun kemudian, usaha penitipan kue tersebut mengalami penurunan. Hal ini disebabkan adanya persaingan pasar. Akhirnya pada tahun 1997 saya berhenti untuk usaha membuat tar nanas.

Pada tahun 1998, saya berusaha nata de coco untuk mengganti usaha teman suami yang pindah ke Jawa. Dengan meneruskan penitipannya ke toko dan supermarket yang sudah dirintis sebelumnya. Akan tetapi masalah muncul lagi. Pengolahan nata de coco seringkali mengalami kegagalan. Ini dikarenakan, untuk menjadikan induk dari kelapa tersebut sangat susah. Selain tentu saja peralatan yang digunakan harus benar-benar higienis. Artinya, ia harus dijemur dan jika terkena tetesan air hujan sedikitpun tidak akan jadi produknya.

Proses perendaman dan pencucian harus dilakukan berulang-ulang. Dalam waktu seminggu baru bisa direbus dengan air gula menjadi bahan baku yang siap dipasarkan. Omzet pada waktu memproduksi nata de coco saat itu adalah Rp 7-8 juta per bulan dengan jumlah penitipan 25 kg perbulannya. Akan tetapi dalam waktu 3 tahun persaingan pasar semakin ketat. Omzet yang awalnya dihasilkan semula Rp 8 juta menjadi Rp 4 juta per bulan. Saya kalah bersaing dengan nata de coco pabrikan. Akhirnya, nata de coco yang dititipkan seringkali banyak tersisa. Tahun 2003 saya berhenti dengan produk nata de coco itu.

Akhirnya saya memulai membuat produk kue-kue pesanan tradisional hanya menerima pesanan dari tetangga sekitar rumah. Hal ini ternyata belum cukup untuk dapat menopang perekonomi keluarga. Dengan survei pasar yang telah dilakukan, saya pun mulai melihat pangsa pasar dari produk kue-kue atau jajanan pasar. Setelah itu, pada tahun 1995 saya mencoba membuat gorengan stik ketan. Bermodal Rp 300 ribu saya membeli peralatan produksi dan bahan baku. Selanjutnya saya titipkan ke toko dan supermarket terdekat dengan kemasan plastik sederhana dan belum terdapat label. Pada waktu itu omzetnya baru Rp. 1,5 juta per bulan dan saya belum memiliki karyawan.

Beberapa saat kemudian saya menambah ragam jenis produksi, meskipun hanya pada saat hari raya besar keagamaan. Jenis yang baru itu adalah kripik tempe. Lama-kelamaan dengan berjalannya waktu saya menitipkan produk tersebut pada toko-toko yang sama. Beberapa bulan kemudian saya memperluas pasaran dan pelanggan makin banyak. 

Dari peralihan produk yang satu dengan produk yang lain tetap saja belum bisa membantu perekonomian keluarga. Akhirnya saya beralih pada produk olahan kripik tempe dan stik keju, karena saya melihat pangsa pasar yang ada. Pertama kalinya menitipkan dari plastik tipis yang menggunakan lilin sebagai bahan perekat. Saat itulah saya memberi nama usaha saya ‘Stik Keju dan Kripik Tempe 43’. Kenapa 43?  Karena waktu merintis usaha tersebut, nomor rumah saya 43. Sedangkan warna yang digunakan warna merah supaya terlihat ‘ngejreng’. Informasi yang saya dapatkan mengenai label halal dari Disperindag lewat JarPUK yang ada di Kota Pontianak.

Pada tahun 2006 saya berkenalan dengan Machwiyah yang telah bergabung dalam KWPS Flamboyan, dampingan PPSW-Borneo. Ia sendiri memproduksi dan berjualan jamu. Pertengahan tahun itu saya diajak bergabung dengan PPSW-Borneo dan membentuk kelompok atau KWPS (Kelompok Wanita Pengembangan Swadaya) dengan nama KWPS Dewa. Pada awalnya jumlah kelompok berjumlah 4 orang, namun saat ini telah berisi 13 orang. Di kelompok tersebut saya menjabat sebagai bendahara.

Melalui KWPS Dewa saya sering diundang seperti pelatihan ekonomi, advokasi, kepemimpinan, pembukuan usaha dan kelompok, serta kesehatan reproduksi. Pelatihan-pelatihan tersebut diadakan oleh PPSW-Borneo. Pelatihan lain yang saya dapat berasal Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) Kota Pontianak. Misalnya pelatihan bahan tambahan makanan, pelatihan produk unggulan, pelatihan hak paten dan SNI (Standar Nasional Indonesia) suatu produk.

Karena sering bertemu dan berkomunikasi dengan PUK (Perempuan Usaha Kecil) lainnya, saya dapat meningkatkan kualitas produk, menambah produksi, dan memperluas pasar. Tahun 2008 saya mampu menambah karyawan sebanyak 2 orang.

Manfaat menjadi anggota kelompok ternyata sangat banyak. Saya mengetahu soal perijinan produk dan label halal melalui organisasi P3MM (Perempuan Pengolah dan Pengrajin Makanan dan Minuman) dan dari teman-teman JarPUK. Ketika produk saya sudah berlabel halal, saya berhasil meningkatkan produksi sekaligus juga omzet. Saat itu, omzet penjualan dari tahun 2005 laba kotornya 3 juta menjadi 5 juta.

Keuntungan yang saya kumpulkan terus-menerus itu saya gunakan untuk membeli alat dan bahan baku. Sedangkan untuk mempercantik tempat usaha, saya mendapatkan bantuan dari BUMN dengan pengembalian 0,6% per bulan. Machwiyah, teman Jarpuk di Kabupaten Kubu Raya memberitahukan informasi ini kepada saya.

Pinjaman pertama saya sebesar Rp 4 juta. Pinjaman kedua Rp 25 juta, dengan angsuran Rp 1,3 juta per bulan. Sebagian pinjaman tersebut juga saya gunakan untuk membeli tanah seluas 1 Ha di Sui Ambawang, Kabupaten Kubu Raya dan diolah menjadi lahan sawit.

Sekarang saya menjadi mitra binaan PT Telkom, Tbk. Sehingga saya biasanya mendapatkan satu stan pameran untuk saya ketika mereka menyelenggarakan acara. Saya juga diundang untuk pelatihan manajemen usaha yang dilanjutkan dengan pertemuan 3 bulan sekali.

Untuk simpan pinjam di Kelompok PUK Dewa dan LKP saya gunakan untuk membeli stiker dan plastik kemasan kripik tempe dan stik keju. Jumlah yang saya pinjam berkisar Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu. Dana itu juga saya gunakan untuk membeli alat produksi seperti siler (alat pengelem kemasan).

Dulunya produksi saya menggunakan sebuah kompor minyak, yang kemudian bertambah menjadi menjadi dua buah. Karena ada peralihan dari minyak tanah ke gas, akhirnya saya membeli kompor gas satu buah berserta tabungnya. Karena permintaan yang tidak dapat dipenuhi, saya membeli satu lagi kompor gas dan menambah karyawan untuk penggorengan tempe.

Awal tahun 2009, ada tawaran dari Disperindag untuk pembuatan PIRT (Perizinan Industri Rumah Tangga) gratis dan menyusul label halal. Karena saya sudah memiliki izin yang lengkap, saya hanya tinggal memperbaiki kemasan dan striker. Setelah mendapatkan PIRT dan label halal, produksi satu hari 3 kilo menjadi 5-8 kilo perhari dengan omzet yang saya dapatkan Rp 10 juta per bulan.

Ketika musim panen buah, penjualan produk saya mengalami penurunan. Karena masyarakat lebih banyak mengonsumsi buah. Tetapi jika hari raya keagamaan produk yang saya hasilkan bertambah seperti peyek kacang teri, kue bawang, jelly lidah buaya, kue kering, dan kue basah (seperti kue lapis legit dan rol gulung) dengan omzet penjualan hingga Rp 15 juta.

Pesanan produk jelly lidah buaya pada hari keagamaan dapat mencapai 70-80 kg yang dijual dengan harga Rp 40.000,-, dan omzet untuk lidah buaya adalah Rp 3,2 juta. Produk jelly ini sangat ketat persaingannya sampai-sampai satu supermarket memiliki 3 merk jelly lidah buaya. Salah satu sebab ketatnya persaingan mungkin karena tanaman lidah buaya sangat bermanfaat jika dikonsumsi secara rutin. Diantaranya ialah membantu melancarkan pencernaan, menetralkan racun, meningkatkan tambahan tenaga, dll.

Sedang untuk produksi kripik tempe hanya dilakukan dua kali seminggu, hari Jum’at dan Sabtu. Setiap produksi mencapai 10 kg per hari. Untuk stik keju setiap hari diproduksi kecuali hari Minggu sebesar 4-5 kg. Kegagalan dalam produksi ini adalah ketika saya membeli tempe yang muda sehingga tidak bisa dipotong. Banyak yang lengket ketika digoreng. Belum lagi jika api yang digunakan untuk menggoreng terlalu besar dan minyak yang dituang kurang banyak.

Pada produk stik keju kendala yang dihadapi apabila adonan kurang lama diaduk. Ini akan membuat adonan kurang kuat dan tidak sempurna bentuknya. Dan hasil dalam penggorengan menjadi tidak terpisah-pisah. Ini penting sehingga para karyawan perlu diberi pelatihan berulang-ulang.

Karena pesanan saat hari raya keagamaan meningkat pesat, saya mengambil karyawan tambahan dengan tarif Rp 25.000,-/hari. Untuk mencari tenaga kerja di lingkungan saya agak susah, karena kebanyakan ibu-ibu disana lebih suka merumpi ketimbang kerja. Penambahan karyawan ini juga masih tidak mampu mengejar pesanan sehingga suami saya terkadang harus turun tangan membantu memotong tempe.

Pada hari raya Idul Fitri tahun 2011, omzet penjualan lumayan banyak dan produknya bertambah. Untuk perinciannya penjualan Jelly Lidah Buaya sebanyak 80 kg seharga Rp. 40.000,- per kilo totalnya menjadi Rp.3.200.000,-. Dan produk-produk lain yang jika di total mencapai Rp. 11.615.000,-.

Sampai sekarang saya masih melakukan pemotongan tempe secara manual, karena belum mendapatkan alat untuk memotongnya. Jika hari raya datang, sudah pasti saya kewalahan. Lalu saya berkonsultasi dengan Hatta Siswa Mahyaya (40 tahun) yang menjabat sebagai konsultan UKM. Ia meminjamkan 3 buah alat pemotong. 2 diantaranya menggunakan listrik dan 1 menggunakan ‘engkolan’ tangan. Namun hasil ketiga alat tersebut belum ada yang cocok dan sebaik pememotongan secara manual.  

Pemasaran produk-produk saya biasanya melalui toko-toko di daerah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Saya menitipkan kemasan besar berat netto 3 ons untuk keripik tempe dengan harga Rp 25.000,- per bungkus dan berat netto 2,5 ons untuk stik keju seharga Rp 16.000,- per bungkus. Dengan laba kotor dari 15 toko mencapai 7 juta. Jangka waktu penitipan produk stik keju dan tempe pada setiap toko berkisar 3 minggu sampai satu bulan. Saya pernah “diomelin” pemilik toko karena produk belum diambil dalam jangka waktu satu bulan. Dampaknya, saya tidak dapat menitipkan kembali produk yang saya hasilkan.

Karena saya tidak selalu berhasil menawarkan produk, saya mencoba dengan jalan memancing pemilik toko. Caranya, saya belanja di toko atau outlet yang dituju. Setelah transaksi pembayaran baru saya mengeluarkan produk yang akan dititipkan. Meskipun biasanya toko-toko tersebut akan menolak barang saya apabila ada jenis produk yang sama.  

Jujur saja, persaingan produk di daerah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya sangat ketat sekali. Sampai saat ini, untuk daerah Kota Pontianak penitipan yang paling laris masih di daerah Siantan. Maksimal penitipannya mencapai 130 bungkus dalam 2 toko. Ini karena saat pertama kali saya menitipkan, konsumen sudah mengetahui rasa produk. Omzet penjulanan laba kotor keripik tempe dan stik keju dari tahun 2009-2011 didaerah kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya sekarang sekitar 7-8 juta perbulan.

Tentu saja banyak sekali kendala usaha saya saat ini. Pertama, kemasan yang mahal. Untuk mendapatkan kemasan yang standar dengan produk, harga di Kalimantan Barat mahal dan harus memesan dalam skala besar. Pernah juga ada tawaran kemasan buatan Bandung sebanyak 200 lembar stiker  untuk produk stik keju dan kripik tempe. Tapi setelah memasarkan dengan stiker itu saya pesan kembali tidak ada tanggapan.

Kedua adalah tenaga kerja yang selalu mengalami pergantian karyawan. Pernah ada seorang yang sudah bekerja selama 2 tahun, tetapi berhenti bekerja setelah menikah. Lalu banyak yang masih belum mahir dan kreatif dalam pembuatan produksi dan beberapa hal lainnya. Kesemuanya menghambat dalam produksi kripik tempe dan stik keju yang saya hasilkan.

Saya berharap dan berencana menambah jenis produksi lagi, yaitu tepung pisang. Untuk tepung pisang kira-kira per kilonya Rp 20.000,-. Tepung pisang ini memanfaatkan pisang nipah yang putih yang jarang digunakan.

Proses pembuatannya adalah pisang dikukus bersama kulitnya kira-kira 10-15 menit. Setelah proses pengupasan, pisang diiris tipis dan direndam dengan asam sitrat selama 15 menit. Setelah itu, dicuci berulang-ulang lalu dijemur. Pisang yang sudah kering digiling berulang-ulang hingga 4 kali. Kemudian menjadi tepung pisang yang dapat digunakan untuk bahan pencampuran. Mudah-mudahan nantinya saya dapat mencari jalan keluar untuk memasarkannya.

Promosi produk saya terkadang lewat pameran dari PPSW-Borneo. Antara lain pameran pada kegitan Jambore yang diadakan di Bengkayang pada tahun 2009. Biasanya ada juga pesanan melalui telepon dan pesanan tetangga terdekat. Terkadang juga terjadi tawar menawar harga. Pameran-pameran lainnya juga saya ikuti dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Kalimantan Barat.

Pelatihan–pelatihan yang pernah saya ikuti untuk pengembangan produksi dan manajemen usaha. Diantaranya dari Disperindag Provinsi Kalimantan Barat adalah pelatihan manajemen usaha (2008), Bahan tambahan makanan (2008), Pelatihan makanan unggulan (membuat roll pisang dan ikan asin) (2008). Dari MUI, pelabelan halal (2009). Pelatihan kinerja usaha (2010). Dari PPSW-Borneo pelatihan saya dapatkan adalah manajemen usaha (2010) dan teknis usaha (2011).   

Semua manusia sama diberi kelebihan yang berbeda tinggal saja bagaimana memanfaatkan kelebihan tersebut. Mudah-mudahan orang lain dapat mengambil hikmah dari apa yang saya tulis. Semoga cerita ini menjadi inspirasi dalam keluarga.   

(Tri Purwaningsih, lahir  Kota Kapuas Kalimantan Barat, 21 Mei 1965, merupakan produsen makanan olahan. Kini ia sebagai bendahara kelompok dampingan PPSW Borneo  dan aktif di Organisasi Perempuan Pengrajin Pengolah Makanan dan Minuman (P3MM). Meski hanya lulus SMA, dari organisasi yg diikuti dia mendapatkan pelatihan, seperti pelatihan Makanan Unggulan, Pelatihan Bahan Tambahan Makanan dan Label Halal, Pelatihan Manajemen Usaha dan tentang SNI serta Hak Paten.). Diambil dari buku, “Pada Kerja Kami Percaya”; Jakarta, ASPPUK & Hivos, 2012