Soft Launching Studi Literasi Finansial dan Kesehatan Pada Perempuan Beranjak Tua

Image“Beberapa bulan yang lalu PPSW melakukan MoU bekerjasama dengan Citi Foundation dan CAS-UI untuk membahas mengenai asesmen  tentang studi literasi fianansial dan kesehatan pada wanita beranjak tua. Setelah itu, dilakukan penelitian oleh CAS-UI (Center of Ageing Studies-Universitas Indoensia) kepada responden yaitu ibu-ibu Anggota PPSW dengan metode rapid survey. Hasil tersebut membuat saya terkejut, karena masih banyak wanita yang belum terpikirkan untuk kehidupan di masa tua nanti. Karena survey ini dilakukan dengan rapid survey, maka hasinya masih bersifat umum, oleh karena itu pada kesempatan ini kita saling sharing untuk memberi masukan yang bisa mendukung penelitian ini supaya penelitian ini lebih sempurna”. Demikian Ibu Endang Sulfiana, Ketua Badan Pengurus Asosiasi PPSW, dalam sambutannya di acara Soft Launching hasil penelitian CAS-UI.

CAS-UI baru saja menyelesaikan penelitian dan assesement kepada kelompok dampingan PPSW di 7 lokasi (Jakarta, Karawang, Sukabumi, Pontianak, Riau, Aceh dan Banten) yang berusia diatas  40 tahun. Tujuan dari Studi Literasi Finansial dan Kesehatan pada Perempuan Beranjak Tua ini adalah untuk mendapatkan pola kesiapan untuk menjadi lansia yang sehat, independen dan produktif. Program ini kerjasama antara PPSW, Citi Foundation dan TSAO Foundation.


Dari kegiatan Soft Launching yang dilaksanakan di Hotel Bintang Griyawisata, Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat, tanggal 6 Mei 2011 ini diharapakan mendapat masukan-masukan dari para peserta diskusi untuk perbaikan laporan penelitian yang akan di Grand Launching pada tanggal 22 Juni 2011 yang akan datang. Selanjutnya hasil diskusi tersebut akan dijadikan rekomendasi untuk penyusunan modul pelatihan financial bagi perempuan pra lansia pada pelaksanaan program selama 3 tahun yang akan datang.

Ibu Sri Lasmidjah dari CAS-UI menjelaskan, laporan ini belum sempurna karena itu perlu masukan dari peserta semuanya. Metodologi untuk pengumpulan data adalah distribusi kuesioner untuk 350 responden aggota PPSW, kemudian melakukan FGD (focus group discussion) antara anggota binaan PPSW, staf PPSW, unsur pemerintah, dan unsur non-pemerintah. Untuk kuesioner disasar bagi wanita yag berusia diatas 40 tahun tetapi untuk FGD perempuan dan laki-laki usia diatas 40 tahun.

Untuk unit pengamatan yaitu status sosial demografi, status Finansial, status kesehatan, hubungan antar generasi. Untuk Analisis data menggunakan SPSS, asosiasi diantara variabel dengan menggunakan bivariate variabel, faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan finansial menggunakan multivariate analysis.

Hasil yang diperoleh adalah usia 40-53 tahun, pendidikan sebagian besar lulusan SD, sebagian besar telah menikah. Mereka tetap percaya dengan koperasi dan mengembangkannya. Karena mereka tidak percaya dengan mekanisme bank dan asuransi. Hal ini dikarenakan mereka melihat banyak kasus yang terjadi pada bank dan asuransi. Untuk wilayah Jakarta sangat unik, karena di Jakarta itu sekitar 10%-20% sudah mengenal bank, tetapi berbeda dengan yang di daerah. Mungkin malah hanya 1% yang mengenal bank.  Kebanyakan ibu-ibu masih belum merasa perlu untuk melakukan perencanaan finansial dan pengelolaannya. Oleh karena itu perlu peningkatan pengetahuan tentang perencanaan dan pengelolaan finansial untuk hari tua.

ImageIbu Yasmin dari Citi Foundation menyampaikan tentang kegiatan koperasi yang telah dilakasanakan oleh ibu-ibu “….penting untuk memberikan pengetahuan dan penekanan kepada ibu-ibu bahwa koperasi itu sifatnya tidak dijamin oleh pemerintah. Oleh karena itu, jika terjadi apa-apa tidak ada yang menjamin. Jadi diberi pengetahuan dan pemahaman mengenai hal tersebut”.

Sementara itu Ibu Yuni dari Senior Club menyampaikan “Saya bisa sharing karena telah 18 tahun di Bank. Saya jadi tahu bahwa peranan wanita bisa menjadi mediator yang kuat karena wanita sudah diberi talenta marketing sebagai banker yag handal karena wanita itu luwes, senang bercerita, dan teliti. Untuk koperasi  kembali ke komunitas. Harus diperhtikan megenai jaminan. Oleh karena itu, pihak Citibank menjadi mentor koperasi untuk membantu dan memback-up PPSW dalam membuat konsep, MoU. Dalam hal ini, anggota sudah percaya dengan PPSW. Oleh karena itu, Citibank mamback up PPSW”.

Dr. Nugroho dari Komnas Lansia menambahkan “Selain di  Komnas, kami juga puslit Trisakti. Kami memiliki hubungan dengan PBB yaitu tentang Community Development. Kami sedang mencari model kewirausahaan untuk lansia tersebut. Biasanya untuk mendapatkan dana yang besar harus ada pilot projectnya. Katanya diknas memiliki alokasi dana, maka butuh dibuat Steering Committee mungkin beberapa stakeholder, hasilnya bisa dilaporkan ke PBB kemudian digulirkan ke PPSW. Selama ini saya berpikir untuk mencari mitra pada program lansia. Jika ada dana dari diknas maka dikembangkan sebuah pilot project dengan sebuah sistem strategi dan struktur. Mungkin dana tersebut tidak untuk seluruh jangkauan PPSW, tetapi wilayah kerja di PPSW.

Selain Ibu Yasmin, Ibu Yuni dan Dr. Nugroho, itu dihadiri juga oleh Pak Jonhar Johan dari Kemeneg PP, Ibu Susi Farida dari Subdit Kelembagaan dan Kemitraan Kemdiknas, kader dampingan PPSW, staf dan undangan lainya. Pak Jonhar memberikan masukan “Berbicara mengenai aktifitas keuangan dan kesehatan itu sebenarnya sudah dari dulu. Oleh karena itu untuk program-program itu mengembangkan model-model yang telah dilakukan untuk dikembangkan lagi. Dicarika model- model dalam negeri yang berhasil. Kemiskinan masih menjadi momok. Perempuan itu dalam perjalanannya tidak bisa berhenti, kalau menanam itu kan harus menunggu. Bagaimana produksi ini bisa dipasarkan”.

Kader dampingan PPSW sebagai responden dan pemanfaat program juga memberikan tanggapannya atas assesment dan rencana pelaksanaan program kedepannya “Kita harus mandiri  supaya tidak disia-siakan. Banyak anak-anak yang sudah sukses tetapi menitipakan orang tuanya ke Panti Jompo. Memang seharusnya kita menyiapkan diri kita agar menjadi lansia yang mandiri” demikian Ibu Asmaniah, kader dampingan PPSW Jakarta.

Ibu Elin, kader Pasoendan di Sukabumi menambahkan “Lingkungan di pedesaan seperti saya, ibu-ibu kebanyakan menanggung beban dari keluarga, mengasuh cucu, dsb. Jadi tidak bisa ikut olah raga dan usaha. Di kelompok kami ada usaha gerabah tapi pemasaran kurang. Modal besar, pemasukan kurang, jadi tidak bisa bergulir”.

Catatan penting dari diskusi tersebut adalah: Adaptasi pendidikan finansial dengan Singapura, tetapi setelah ada asesmen dengan CAS-UI ada perbedaan dengan Singapura. Yang perlu di pertimbangkan adalah membuat Modul Perilaku Hidup Sehat, Pengantar Jamulogi, Financial Management yang Future Life Planning, Book Keeping dan Program Literacy, Intergeration Relation serta Wirausaha.  Disamping itu ada perbedaan anatara penanganan perempuan usia diatas 40 tahun dan diatas 60 tahun, kalau asuransi tidak mau menangani yang berusia diatas 60 tahun, maka koperasi yang akan mengambil alih. (Shd)