Menulis Itu Susah-Susah Gampang…

Image“Prinsip menulis adalah assobaru minal menulis, menulislah dengan sabar. Ketika kita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, maka pohon yang ada disisi jalan hanya sekilas kelihatan. Namun ketika berjalan pelan, pohon kelihatan jelas bentuknya. Jika lebih pelan lagi maka tekstur pohon akan kelihatan, misalnya ada guratan, lobang, ulat, dsb”

Itulah pesan Mas Ali Mumu dari Tanda Baca ketika memfasiltitasi workshop menulis staf Asosiasi PPSW pada tanggal 10-13 Mei 2011 di Wisma Hijau, Cimanggis, Depok. Workshop menulis tersebut diikuti oleh 12 orang staf Asosisi PPSW yang berasal dari PPSW Jakarta, PPSW Sumatra, PPSW Borneo dan PPSW Sekretariat. Selain itu Workshop diikuti juga oleh 12 orang kader lokal dampingan anggota Asosiasi PPSW tersebut. Worksop untuk staf dan kader dilakukan secara terpisah dan pararel. Workshop untuk kader difasilitasi oleh Mas Hasta Indriyana juga dari Tanda Baca.

Tujuan diadakan workshop penulisan tersebut adalah sebagai arena, ruang dan waktu bagi tim pendamping lapang, koordinator dan kader lokal untuk menuangkan pengalamannya kedalam bentuk tulisan yang layak untuk dibaca. Memberikan bekal prinsip dasar dan tekhnik penulisan kreatif bagi pendamping lapangan, koordinator dan kader lokal. Serta memberikan bimbingan intensif penggalian gagasan dan proses penulisan pengalaman lapangan.

Menulis itu susah-susah gampang, menjadikan hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Misalnya saat peserta mengerjakan tugas yang diberikan Mas Mumu menggabungkan kata-kata berikut ini: karawang, langit abu-abu, udara panas, 30 kecamatan, 1 jam arah timur Jakarta, lumbung pangan, kawasan industry, 70% urban untuk kawasana industri, penduduk  ±4 juta, goyang karawang, kawin muda, mangga, tanah datar.

Aku mencoba menyusunnya menjadi kalimat seperti berikut ini:

Karawang yang terkenal dengan lumbung padi dan goyang karawangnya itu berpenduduk ±4 juta orang. Saat ini karawang bisa dikatakan terbagi dalam dua wilayah, di kawasan utara sebagai lumbung pangan, sedangkan selatan merupakan kawasan industri, 70% dari pekerja industri adalah urban.

Umumnya tanah di Karawang datar dan ditanami mangga oleh penduduk. Luasnya kawasan industry menyebabkan udara daerah yang berjarak 1 jam arah timur Jakarta itu menjadi panas dan langit cenderung abuabu tertutup asap industri. Tingkat pendidikan penduduk yang masih rendah menyebabkan banyaknya terjadi perkawinan muda.

Secara acak Mas Mumu meminta kami untuk membacakan hasil yang kami buat masing-masing. Saat peserta mengerjakan PR tersebut, Mas Mumu diam-diam membuat tulisan di kertas plano seperti ini:

Ayah mendobrak pintu dan menatapku dengan rahang mengeras. “Setiap orang hanya punya satu takdir dalam hidupnya. Aku memilih hidupku sendiri “, kataku bergetar. Ayah terdiam, wajahnya benarbenar membatu. Aku tahu dia terluka . Dia bangkit membanting pintu.

Aku terduduk dalam sepi.

Masing-masing peserta lalu diminta Mas Mumu untuk menggabungkan kedua topik tersebut menjadi satu cerita. Rasanya tidak mungkin, karena topiknya sangat berbeda. Gimana caranya? Aku berfikir sebentar, kemudian menyusunnya menjadi cerita sbb:

Aku sedang mempelajari wilayah Karawang, karena akan survey kesana untuk pembuatan naskah teater tentang kehidupan penari jaipong. Diskripsi tentang Karawang ini kelihatannya ditulis asal jadi oleh orang yang baru belajar menulis.

Karawang yang terkenal dengan lumbung padi dan goyang karawangnya itu berpenduduk ±4 juta orang. Saat ini karawang bisa dikatakan terbagi dalam dua wilayah, di kawasan utara sebagai lumbung pangan, sedangkan selatan merupakan kawasan industri, 70% dari pekerja industri adalah urban.

Umumnya tanah di Karawang datar dan ditanami mangga oleh penduduk. Luasnya kawasan industry menyebabkan udara daerah yang berjarak 1 jam arah timur Jakarta itu menjadi panas dan langit cenderung abuabu tertutup asap industri. Tingkat pendidikan penduduk yang masih rendah menyebabkan banyaknya terjadi perkawinan muda.

Brak !!! Sontak aku berhenti membaca, ketika Ayah mendobrak pintu dan menatapku dengan rahang mengeras. “Setiap orang hanya punya satu takdir dalam hidupnya. Aku memilih hidupku sendiri “, kataku bergetar. Ayah terdiam, wajahnya benarbenar membatu. Aku tahu dia terluka . Dia bangkit membanting pintu.

Aku terduduk dalam sepi. Aku memang telah mengecewakan ayahku. Aku memilih DO dari UGM hanya untuk menjadi seorang seniman teater.

Ternyata bisa nyambung juga ya… Ini menguatkan kata-kata Mas Mumu bahwa menulis bisa menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kenyataanya memang begitu, banyak kisah-kisah teman-teman, baik suka maupun duka yang sulit diungkapkan sebelumnya. Namun melalui tulisan semuanya bisa diungkapkan.

Staf Asosisi PPSW yang sudah bekerja sejak sebelum tahun 2000 memang sedang “dikarantina” untuk menuliskan kisah-kisanya dalam mendampingi masyarakat, baik cerita dalam pengorganisasian masyarakat basis, maupun dengan lembaga dan staf lainnya. Karena selama ini cerita-cerita pendampingan masyarakat yang dilakukan tersebut belum pernah dituliskan.

Tulisan yang dibuat dengan berbagai versi dan cerita ini diibaratkan sebagai mozaik warna-warni yang indah. Mozaik-mozaik itu kemudian akan tersusun, saling melengkapi dalam satu buku untuk membantuk cerita tentang PPSW secara keseluruhan. Demikian juga dengan kader lokal, mereka menulis pengalamannya saat di dampingi PPSW maupun setelah mereka bisa melakukan pengorganisasian masyarakat secara mandiri. Pengalaman mereka di lapangan dan pengalaman tim PPSW sangat banyak. Cerita tentang pengalamaman pengorganisasian masyarakat oleh tim PPSW dan kader lokal itu selanjutnya akan diterbitkan dalam dua buah buku. Semoga kelak bisa bermanfaat bagi pelaku-pelaku pengorganisasian masyarakat lainnya. (Suhud).