Pelajaran dari Negeri Singa

ImageKota itu begitu bersih, tertata rapi, tidak ada satu sampahpun yang mengotori  jalanan. Lalu lintas sangat tertib, tidak banyak motor yang berseliweran di jalanan, hanya satu-dua saja yang melintas diantara mobil-mobil pribadi dan bus kota. Pohonan rimbun dan rerumputan hijau yang terpelihara rapi menghiasi sisi-sisi jalan raya.

Pagi itu kami  8 orang dari Asosiasi PPSW dan 7 orang dari CAS-UI (Center of Ageing Study-Universitas Indonesia) sedang berjalan dari Hotel Nostalgia tempat kami menginap, menyusuri trotoar Tiong Bahru Road, Singapura, menuju halte bus terdekat. Tidak terlalu lama menunggu di halte yang sangat rapi dan bersih bus kota nomor 31 yang kami tumpangi datang, berhenti tepat di depan kami. Satu persatu penumpang naik melalui pintu depan, setiap penumpang harus menempelkan kartu EZLink di depan sensor alat yang disediakan. Dengani kartu itu setiap penumpang membayar bus. Dilayar monitor alat tersebut terlihat saldo kartu penumpang.

Kartu EZLink mirip katu ATM yang mengandung magnit, kami beli seharga S$12 (12 dollar Singapura) di loket MRT (mass rapid transit), yang bisa digunakan untuk membayar bus kota dan MRT, masa berlakunya 50 tahun. Saldo minimal yang harus tersisa di kartu adalah S$ 5, dan bisa diisi ulang di tempat yang mirip ATM,  yang  tersedia di tiap-tiap stasiun MRT. Dengan memasukkan koin atau uang kertas pecahan  kedalam mesin yang disediakan dan mengikuti petunjuknya.


Didalam bus juga rapi, penumpang tertib duduk tidak berdesak-desakan seperti didalam bus kota Jakarta. Tidak terasa sudah 2 halte bus yang kami lewati, dan kami harus turun di balte bus ketiga untuk menuju kantor TSAO Foundation di Central Plaza, masih di Tiong Bahru Road.

Bus berhenti di halte, penumpang bergantian turun lewat pintu belakang, sebelum turun setiap penumpang harus menempelkan lagi kartu EZLink-nya ke alat khusus sebagai batas akhir perjalanan dengan bus tersebut, kalau lupa menempelkan maka akan dihitung jarak terjauh. Di layar monitor kembali terlihat saldo nominal kartu tsb.

ImageCentral Plaza terletak di seberang  halte, sehingga kami harus menyeberang jalan. Semua penyeberang jalan di Sinagpura sangat tertib, tidak akan menyeberang sebelum lampu hijau tanda boleh menyeberang menyala. Sebelum menyeberang tombol untuk menyalakan lampu hijau yang terletak di tiang lampu harus di tekan, sekitar 15 detik menuggu lampu hijau menyala, kendaraan semua berhenti, kami baru menyebarang.

Ada pengalaman lucu saat itu, karena kami salah masuk ke Tiong Bahru Plaza, kami baru sadar setelah naik lift “Kok gak ada lantai 15 nya ya” tapi lift sudah terlanjur naik, akhirnya sampai lantai 5 kami turun kembali dan berbondong-bondong menuju Central Plaza yang ternyata berada di sebelah kiri Tiong Bahru Plaza.

Kantor TSAO Foundation terletak di lantai 15. Begitu pintu lift terbuka, kami bergantian masuk dan menuju lantai  15. Kantor itu sangat bersih dan tertata rapi. Resepsionis laki-laki bermata sipit,  berkulit terang, berumur sekitar 60 tahun menyapa kami dengan ramah lalu mempersilahkan kami ke ruangan pertemuan yang sudah dipersiapkan.

TSAO Foundation adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk meningkatkan kualitas hidup usia lanjut dengan mengatasi kesulitan dimasa tua melalui pelayanan kesehatan masyarakat; mempromosikan keberhasilan di usia lanjut; dan pendekatan baru merintis untuk penuaan dan perawatan usia lanjut di seluruh wilayah Singapura.

Selain itu juga bertujuan untuk menjadi katalisator untuk perubahan yang konstruktif dengan mengatasi penuaan dan isu perawatan usia lanjut di tingkat pengambil kebijakan. TSAO aktif melakukan misinya dengan memfokuskan kerja pada tiga pilar perawatan: Jasa, Pendidikan dan Kolaborasi.

PPSW saat ini tengah bekerjasama dengan Citi Foundation dan TSAO Foundation mengembangkan kegiatan di Indonesia, khususnya di wilayah dampingan PPSW dengan nama progarm “Pendidikan Keuangan untuk Perempuan Pra-Lansia” , dalam hal ini PPSW akan dibantu oleh CAS-UI sebagai konsultan.

ImageUntuk itulah tim PPSW bersama tim CAS-UI, pada tanggal 24-26 Februari 2011 melakukan studi tour ke Singapura, agar dapat melihat secara dekat semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh TSAO dalam melakukan pemberdayaan terhadap perempuan beranjak dewasa.

Ruang pertemuan yang kami tuju adalah ruangan Badan Pengurus sekaligus merangkap ruang rapat, ruang itu terletak di bagian depan lantai 15 yang 3/4 dinding bagian atasnya terbuat dari kaca. Dari dalam ruang  kami bisa meliat gedung-gedung pencakar langit tinggi menjulang. Namun begitu masih banyak pepohonan dan ruangan hijau yang telihat.

Pemerintah Singapura sejak tahun1986 sangat gencar melakukan penghijauan di seluruh wilayah.  Menurut data di The Concierge Map Singapore, sampai 2007 pemerintah berhasil menambah wilayah hijau dari 35,7% menjadi 46,5% dengan 3.900 spesis timbuh-tumbuhan.

Kami takjub melihat keindahan Singapura, dibawah gedung aparteman dan perkantoran yang menjulang masih terlihat pepohonan yang rimbun dan kolam-kolam renang yang airnya terlihat biru dari atas. Bus dan mobil yang berseliweran di jalan raya dibawah terlihat kecil.

Di ruang pertemuan sudah menuggu Mary Geronimo, Program Manager TSAO Foundation.  Wanita paruh baya cantik yang berasal Philipina. Mary mempersilahkan seluruh tamu untuk duduk, saya sibuk memeprsiapkan tripod untuk kamera video dan membuka kamera SLR dari tasnya.

Dalam kunjungan ini saya bertugas sebagai dokumentator yang akan merekan semua proses dalam bentuk video dan gambar. Oleh sebab itu saya harus memastikan tidak akan ada momen penting yang terlewati.

Setelah semua peserta duduk, Mary mengucapkan selamat datang di Singapura dan kantor TSAO dan menanyakan bagaiman perjalan kami dari Indonesia ke Singapura dan bagaimana tidur di hotel tadi malam.

ImageTidak lama kemudian Suzana Concordo, Asisten Direktur TSAO masuk ke ruangan pertemuan mengucapkan selamat datang, kemudian acara dilanjutkan dengan perkenalan seluruh tim.

Inti pertemuan itu adalah penjelasan kegiatan TSAO, khususnya pendidikan keuangan untuk perempuan beranjak dewasa, melalui slide projector dan video. Setelah pertemuan berakhir, Suzzana mengajak kami tour keliling melihat-lihat kantor dan kegiatan TSAO, dimulai dari meninjau ruangan pelatihan Pendidikan Keuangan, yang saat itu sedang ada pelatihan untuk etnis China, yang diikuti oleh sekitar 25 peserta, seluruhnya perempuan berusia sekiatar 40-60 tahun.

TSAO memang memisahkan kelas etnis China, Melayu dan Campuran (China, Melayu, India) karena kendala bahasa. Untuk kelas etnis China maka fasilitatornya juga China, begitu juga untuk kelas Melayu dan Campuran.

Tour dilanjutkan dengan meninjau klinik Hua Mei, berbagai fasilitas untuk manusia usia lanjut ada disini. Seperti ruang fitnes untuk manula, kursi pemijat dan alat kebugaran lainnya. Yang manarik adalah disisi jalan selalu disediakan pegangan yang memanjang agar tamu yang sudah renta dan sulit berjalan bisa berpegangan.

Klink Hua Mei juga menyediakan ruangan konsultasi dan ruang perawatan lainnya. Masing-masing ruangan ada dokternya yang buka praktek pada hari-hari tertentu. Yang masuk ke klinik tersebut membayar dengan sangat murah bahkan gratis untuk  pasien yang tidak mampu, karena biaya operasionalnya sebagian di subsidi pemerintah dan juga subsidi silang dari peserta yang mampu. Acara hari ini diakhiri dengan makan siang bersama.

Selain kegiatan diatas, selama 4 hari di Singapura kami mengikuti kegiatan-kegiatan TSAO bersama dengan kelompok dampingannya, yaitu  mengamati sesi pendidikan keuangan di kelas etnik Malayu di ruang kelas kantor TSAO. Mengikuti acara reuni alumni Pendidikan Finansial Bagi Perempuan Pra-Lansia di The Grassroots’ Club yang di prakarsai dan dilaksanakan oleh para alumni sendiri dengan tema Hawaian, seluruh peserta mengenakan pakaian dan atribut serba Hawai,  PPSW di minta menjadi juri dalam lomba berbusana pakaian Hawai tersebut. The Grassroots’ Club adalah sebuah gedung yang disediakan oleh pemerintah Singapure untuk beragam kegiatan kemasyarakatan, dengan sewa yang sangat murah karena di subsidi oleh pemerintah.

ImageKegiatan lainya yang kami kunjungi yaitu kegiatan ibu-ibu pengurus  Masjid Al-Muhajirin, kami diterima oleh pimpinan pengurus masjid yang menjelaskan kegiatan ibu-ibu pengurs, kemudian mengunjungi pelatihan pendidikan keuangan yang menggunakan ruangan pelatihan yang ada di lantai 2 masjid tersebut.

Disela-sela 4 hari kunjungan itu, kami menyempatkan diri untuk berbelanja di beberapa pasar seperti, Bugis Street,  Chinatown Complex, Lucky Plaza, Orchad, dll . Kemudian Minggu pagi sebelum pulang ke Jakarta, kami menyempatkan jalan-jalan ke Merlion Park. Tempat berdiri singa-nya Singapura yang selalu muntah air itu. Kata orang kalau belum melihat singa itu dari dekat berarti belum ke Singapura. Dan ternyata “singa besar” lambang Singapura itu sedang di renovasi, jadilah kami hanya foto-foto di singa kecil (Litle Merlion) yang berada disebelahnya. (shd)