Memberdayakan Perempuan

ImageTiga kendala yang menjadi hambatan bagi kaum perempuan, yaitu akses terhadap informasi, akses bantuan finansial, dan aspek pengembangan diri. Lebih satu abad lalu, RA Kartini berjuang atas nama perempuan yang menuntut kesamaan hak dengan kaum laki-laki.

Bangsa Indonesia pun kemudian memperingati 21 April sebagai Hari Kartini untuk mengenang perjuangan dan keberhasilan Kartini dalam hal emansipasi perempuan.Berkat perjuangan tersebut, perempuan saat ini pun dapat menikmati berbagai kesamaan hak layaknya kaum laki-laki. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Namun ternyata, tidak semua perempuan dapat menikmati hak istimewa tersebut.
 

Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), Tri Endang Sulistyowati menjelaskan, saat ini 700 juta perempuan hidup dengan kurang dari Rp 10 ribu (1 dolar AS) per hari. Selain itu, sepertiga keluarga di dunia dibiayai oleh perempuan.”Ini memperlihatkan bahwa peran perempuan di dunia sangat besar. Di samping itu, masih banyak perempuan yang memerlukan bantuan,” ujarnya. Karena itulah, selama 24 tahun terakhir PPSW berupaya untuk melakukan pemberdayaan perempuan. Khususnya di masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.

Kegiatan utama PPSW adalah melakukan pemberdayaan dari sisi ekonomi, kesehatan reproduksi perempuan, pendidikan anak, dan pendidikan politik perempuan. Namun, yang jadi prioritas lembaga ini adalah pemberdayaan ekonomi. Alasannya, masyarakat yang disasar adalah masyarakat dengan tingkat eko-nomi yang rendah. “Kita tidak akan dapat mengajak mereka untuk berpikir mengenai banyak hal kalau mereka masih memikirkan bagaimana caranya makan,” jelasnya.

PPSW melakukan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi. Tri mengatakan, koperasi merupakan lembaga yang dinilai masih demokratis untuk perempuan.
 Tri pun lebih memilih untuk mendirikan koperasi baru ketimbang menggunakan koperasi yang sudah berjalan. Alasannya, untuk memaksimalkan peran perempuan.”Koperasi yang ada kebanyakan anggotanya laki-laki. Pengurusnya pun laki-laki. Makanya, akan sulit jika menggunakan koperasi yang seperti ini untuk memberdayakan kaum perempuan,” ujarnya.Syarat koperasinya, anggotanya harus perempuan. Kalau pun ada laki-laki, maka jumlahnya dibatasi maksimal empat persen dari keseluruhan anggota. Sedangkan untuk pengurus, harus dipegang oleh perempuan. 

Saat ini, kegiatan PPSW tersebar di 69 desa, 26 kecamatan dalam enam provinsi. Jakarta, Jawa Barat, Banten, Riau, Aceh, dan Kalimantan Barat. Sementara itu, jumlah kelompok yang telah terbantu mencapai 560 dengan jumlah anggota sekitar 15 ribu orang.Selain itu, PPSW juga menggunakan pendekatan kaderisasi. Yaitu dengan menggandeng perempuan lokal untuk dijadikan kader. Selanjutnya, kader tersebut yang akan menemani para perempuanuntuk menjalankan berbagai kegiatan. “Kita tidak menggunakan pendekatan proyek. Artinya, sekali kita masuk ke sebuah daerah, maka kita akan terus menemani dan memantau bagaimana perkembangan di daerah tersebut,” papar Tri. 

Dalam menjalankan misinya untuk memberdayakan perempuan, PPSW kerap menggandeng mitra kerja. Seperti pada program Bijak Dana Program hasil kolaborasi dengan Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat (PPKM) dan GE Money.Presiden Direktur GE Money, Matthew Read menjelaskan, Bijak Dana Perempuan merupakan program corporate citizenship GE Money Indonesia yang berfokus pada pelatihan pengelolaan keuangan bagi kaum perempuan dari kalangan kurang mampu. Tujuannya, untuk membantu memperkuat kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka. Sehingga, tercipta kesetaraan jender bagi perempuan. 

Caranya, lanjur Matthew, dengan menyinergikan program tersebut ke program yang telah dijalankan PPSW dan PPKM. Yakni, mendirikan koperasi khusus untuk perempuan, memberikan bantuan berupa pelatihan mengelola keuangan, motivasi dan kepemimpinan. Serta memberi bantuan langsung yang melibatkan sukarelawan dari GE Money untuk membantu kaum perempuan dalam kegiatan perekonomian sehari-hari.

Sekarang, program yang telah berjalan sejak 2007 ini memiliki jumlah keanggotaan mencapai 628 orang dan 67 unit kope-rasi. Jumlah tabungan mencapai Rp 183 juta dan pinjaman bergulir secara akumulatif mencapai Rp 1,5 miliar. Pada akhir tahun ketiga ini, ditargetkan untuk dapat menjangkau 650 peserta perempuan.
 “Perempuan tidak semata hanya bertugas sebagai istri namun juga sebagai role model. Karena mereka bertanggung jawab untuk mempererat keluarga, menghasilkan generasi yang berkualitas, dan mengatur keuangan,” ujarnya.

Pandangan serupa terhadap perempuan dikemukakan GM Yayasan Unilever Peduli (YUP), Sinta Kaniawati. Menurutnya, Unilever Indonesia (ULI) memiliki banyak program yang terkait dengan perempuan. Awalnya, program tersebut tidak dikhususkan untuk kaum hawa. Hanya saja, pada perkembangannya ternyata kaum perempuan yang paling aktif terlibat.Sinta menjelaskan, perempuan tidak hanya dapat berperan sebagai ibu atau pun istri.

Tapi, juga dapat memiliki kapasitas yang lain.
Karenanya, fokus ULI dalam pemberdayaan perempuan adalah dengan memberikan kesempatan untuk mengasah diri sehingga dapat lebih percaya diri dan memiliki kompetensi yang memadai. Sinta menyebutkan, ada tiga kendala yang menjadi hambatan bagi kaum perempuan. Yaitu, akses terhadap informasi, akses bantuan finansial, dan aspek pengembangan diri. Akibatnya, banyak perempuan yang memiliki kepercayaan diri yang rendah.”Program kami tidak semata-mata berupa pemberdayaan dari sisi ekonomi.

Tapi, lebih kepada memberikan kesadaran kepada para perempuan akan peran dan potensi sumber daya yang dimilikinya. Kemudian, menggunakannya secara optimal,” jelas Sinta.
 ULI melakukan pemberdayaan perempuan melalui dua pendekatan. Yakni, community engagement yang dilakukan oleh YUP dan aksi sosial yang dilakukan masing-masing merek yang ada di bawah ULI.Contoh kegiatan yang dilakukan oleh merek adalah Rumah Cantik Citra, Sari Wangi Mari bicara, edukasi hemat air Motto, dan program kewirausahaan di bidang kecantikan yang dilakukan Sun Silk.Ada pula beberapa kegiatan yang dilakukan secara berkolaborasi dengan YUP melalui program Jakarta Green Clean (JGC). Yaitu, program pemberdayaan perempuan dengan Sunlight.

Program ini melibatkan perempuan untuk memilah sampah dan membuat bank sampah.
 Selanjutnya, adalah edukasi kesehatan masyarakat. Yaitu, memberikan pelatihan untuk merevitalisasi posyandu dan puskesmas yang saat ini dalam kondisi mati suri. Para petugas kesehatan diratih untuk membuat program yang menarik bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu, untuk datang ke posyandu.

Program lainnya adalah di bidang pertanian. Yaitu, melibatkan ibu-ibu petani kedelai hitam binaan ULI. “Awalnya, ibu-ibu ini tidak punya kegiatan. Kami pun kemudianmenawarkan pelatihan menyortir biji kedelai, ternyata mereka mau dan programnya berhasil. Lama-kelamaan, kami menawarkan pelatihan-pelatihan lain. Seperti, seni, menulis, dan komunikasi,” ungkap Sinta.