Ternyata…Politik itu Tidak Seseram Yang Saya Bayangkan…..

ImageKurang lebih kata-kata itulah yang banyak saya dengar ketika Monitoring dan Evaluasi program VE (Vooter Education/Pendidikan Politik) di Lebak dan Pandeglang. Program ini merupakan pendidikan politik yang dilakukan oleh PPSW dan ACE (PKM) dan didanai oleh UNDP untuk peningkatan partisipasi perempuan, yang merupakan bagian penting dari kegiatan pengorganisasian yang selama ini telah dilakukan oleh PPSW.

 
Perempuan dilibatkan seiring dengan lahirnya undang-undang yang mendukung akan adanya eksistensi perempuan di wilayah publik, serta pemberlakuan sistem baru dalam teknik pemilihan anggota caleg yang bisa menyulitkan masyarakat dalam memilih wakil rakyat. Program ini juga mensosialisasikan bagaimana caranya agar kita dapat memilih caleg perempuan yang cerdas dan pro keadilan dan kesejahteraan khususnya memiliki program kerja yang sensitif jender. Setelah kurang lebih 5 bulan program  VE ini dilaksanakan (2 bulan sebelum dan 3 bulan sesudah Pemilu anggota legislatif) di 12 wilayah yang tersebar di 5 propinsi, PPSW melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh kelompok dampingan dalam mempelajari, menghayati, dan mensosialisasikan pendidikan politik ke anggota masyarakat lainnya.

 

Kelompok diskusi terfokus (FGD) digunakan sebagai metode dalam menggali pengalaman-pengalaman ibu-ibu kelompok dalam menjalankan program ini, mulai dari TOT (Training of Trainer) tingkat kabupaten sebagai pembekalan keterampilan memfasilitasi VE, diskusi kampung tingkat desa untuk sosialisasi VE kepada kelompok perempuan basis, talk show di radio lokal untuk kampanye publik, dan dialog publik untuk perkenalan Caleg beserta visi misinya serta kontrak politik. Selain itu, PPSW bersama kelompok dampingan juga mengembangkan media untuk VE yang memudahkan kader lokal untuk mensosialisasikan hasil VE ke anggota, melalui kelompok-kelompok di tingkat desa. Selain itu dikembangkan juga media popular untuk simulasi centang/contreng dan isu-isu tentang hak pilih perempuan dan pemilu yang demokratis.

 
TOT Pendidikan Politik

Materi yang disampaikan di dalam TOT adalah mengenai demokrasi, pentingnya Pemilu bagi perempuan, tata cara Pemilu dan lembaga-lembaga penyelenggara Pemilu. Beberapa kelompok baru merasa terbebani karena ”politik” adalah hal yang pantang dibicarakan di publik, apalagi kalau perempuan ikut-kutan ”tadinya saya pikir politik itu serem, kejam dan untuk laki-laki saja bu, tapi ternyata setelah mengikuti pendidikan politik dari PPSW, politik itu enjoy dan tidak jahat” ujar seorang kader kelompok di Pandeglang.

 
Adalagi kader lainnya di Lebak yang menceritakan ketika pertama kali mengikuti TOT Pendidikan Politik, merasa panas dingin dan masuk angin ”ya biasanya kita mah mikirin dapur, disuruh mikirin negara…gimana gak masuk angin atuh bu…”, pernyataan ini kemudian ditegaskan kembali bahwa kenapa kita harus memilih perempuan dan kenapa ibu-ibu kelompok harus terlibat di dalam Pemilu itu karena adanya persamaan hak, kesetaraan hak-hak perempuan dan laki-laki, dan dari FGD ini ibu-ibu kelompok meminta agar pendidikan politik seperti ini bisa dilanjutkan.

 

Diskusi Kampung

Setelah ibu-ibu kelompok mendapatkan TOT mengenai VE, kemudian dadakan diskusi kampung,  materi yang didiskusikan adalah cara menyontreng, demokrasi, memberikan penjelasan ke masyarakat mengenai Pemilu dengan mengundang aparat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, suami dan anak-anak. Sosialisasi biasanya dilakukan lewat perkumpulan-perkumpulan masyarakat seperti arisan, pengajian, dan Posyandu. Peserta diskusi dikenalkan/disosialisasikan teknik cara memilih sekaligus mengarahkan kepada peserta untuk memilih Caleg perempuan dengan menggunakan kertas plano dan contoh kertas suara. Beberapa tantangan yang dihadapi para kader adalah ketika aparat desa/pihak KPU yang merasa keberatan ’dibalap’ oleh kader karena melakukan sosialisasi lebih dahulu, kader disangka mengkampanyekan salah satu caleg, masih banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa politik bukanlah ranah perempuan dan masyarakat juga banyak yang masih keberatan jika perempuan menjadi pemimpin.

 

Talk Show

Kegiatan talkshow dilaksanakan tiap-tiap wilayah dan disiarkan secara langsung lewat radio-radio lokal. Yang dibicarakan ketika talk show kebanyakan adalah persiapan Pemilu dan beberapa radio juga bertanya soal kelompok-kelompok dampingan PPSW beserta kegiatannya. Pihak-pihak yang terkait adalah kepolisian, setempat, TP, PKK, Kades, Panwas dan KPU. Umumnya para kader yang siaran atau hadir pada saat talk show sangat senang, karena mereka tidak percaya ”tadinya saya cuma ngurusin dapur kok saya jadi bisa siaran di radio, deg-deg an, takut salah ngomong..tapi seneng banget bu…”.

 
Bahkan ada juga kader yang suaminya bangga dan mau nangis ketika istrinya ikut talk show. Hasil dari talk show  ini adalah meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai Pemilu dan pentingnya memilih Caleg perempuan yang berperspektif jender. Ibu-ibu kelompok juga menyarankan agar talkshow ini tidak hanya dilaksanakan pada saat Pemilu saja, tapi ada jadwal rutin yang bekerjasama dengan radio-radio lokal untuk membicarakan tentang topik-topik perempuan dan sosial.

 
Dialog Publik

Dengan dihadiri aparat desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama, dialog publik diadakan untuk mensosialisasikan visi dan misi caleg serta mengajukan kontrak politik kepada caleg-caleg tersebut. Ada beberapa Caleg yang tidak ingin menandatangani kontrak politik tersebut, tapi ada juga yang mau dengan syarat-syarat tertentu dan tanpa syarat. Bahkan beberapa Caleg juga ada yang bersedia membantu meski mereka tidak terpilih.  @chiet