Advokasi Kolektif Suara Perempuan

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}
Image
Seminar Penelitian PPSW, Bekasi, 17 Desember 2008

Sejak melaksanakan kegiatan pengorganisasian masyarakat, PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) telah beberapa kali melaksanakan penelitian yang bertujuan untuk melakukan evaluasi program Pemberdayaan perempuan dan studi dampak program CO (community organizing – pengorganisasian masyarakat) di beberapa wilayah dampingan PPSW yang terletak di Pandeglang, Sukabumi, Jakarta, Riau dan Kalimantan Barat. Karena berbagai alasan, hasil penelitian tersebut belum sempat diseminarkan atau dipublikasikan kepada masyarakat luas. .

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

Bertempat di Hotel Horison Bekasi, tanggal 17 Desember 2008 yang lalu PPSW telah mengadakan seminar untuk mempublikasikan dan membahas hasil temuan-temuan dalam penelitian tersebut.

Seminar yang bertema “Kontribusi PPSW Terhadap Peningkatan Kapasitas dan Keadilan Sosial Perempuan Basis Dalam Rangka Penurunan Kemiskinan” dihadiri oleh 65 peserta yang terdiri dari anggota kelompok dampingan PPSW dari Pandeglang, Sukabumi, Jakarta, Riau dan Kalimantan Barat. Serta undangan dari lembaga-lembaga mitra PPSW; LSM, dan masyarkat umum.

Seminar penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tanggapan masyarakat terhadap hasil penelitian untuk perbaikan program CO PPSW. Secara khusus hasil penelitian di PPSW dapat memberikan kontribusi untuk menambah referensi pustaka program pengorganisasian masyarakat khususnya kelompok perempuan basis dan sekaligus bentuk pertanggung jawaban moral PPSW kepada Masyarakat dampingan PPSW yang telah setia menjadi mitra strategis sejak tahun 1987 sampai sekarang.

Seminar ini dihadiri oleh tiga orang narasumber yang juga sebagai pelaksana penelitian yakni Sita Aripurnami (Women Research Institute), Nina Hendarwati (Yayasan Rumpun) dan Ridwan (Sapa Institut). Sedangkan pembahas terdiri dari 2 orang yakni Titik Hartini (PKM) dan Kristi Poerwandari (PKW-UI).

Dalam presentasinya Sita Aripurnami merekomendasikan “Kepemimpinan perempuan hasil pendampingan oleh PPSW diharapkan tetap konsisten seperti yang saat ini dilaksanakan, walaupun telah berevolusi namun tetap dapat berkontribusi untuk mencapai keadilan dan visi misi pemberdayaan perempuan”

Sedangkan Titik Hartini mengutarakan “Komitmen PPSW bekerja di basis sudah sangat teruji dan memberikan dampak. Karena basis PPSW itu real. PPSW punya 3 tahapan dalam proses pendampingan kelompok yakni  konsolidasi, pengembangan organisasasi dan kemandirian,  masing-masing ada strateginya. Tinggal PR untuk kelompok setelah 3 tahapan tersebut dilalui, apa yang harus dilakukan sehingga KWPS (Kelompok Pengembang Swadaya – dampingan PPSW – red) masuk ke ranah pengambilan keputusan. Pendampingan untuk menemani KWPS menjadi artikulasi di ranah pengambilan keputusan. Saatnya KWPS untuk bisa lebih didengar. Dan PPSW harus punya strategi untuk itu. Secara individual kiprahnya sudah luar biasa, tetapi belum menggunakan kendaraan KWPS  sebagai kelompok”.

Melanjutkan pembahasan dalam tahapan pendampingan yang dilakukan oleh PPSW Kristi Poerwandani menambahkan “Strategi atau tahapan yang keempat bisa disebut advokasi kolektif suara perempuan. Advokasi harus nyata, dilakukan bersama-sama dan melampaui yang individu”

Sita Aripurnami menambahkan ”Salah satu contoh ketika FGD (Forum Group Discussion) kelompok dampingan PPSW yang dilakukan WRI tahun 2006, kelompok sudah melakukan lobby dan hearing untuk kepentingan kelompok, yakni memperjuangkan biaya papsmear menjadi lebih murah dan itu berhasil. Pengalaman ini bisa didiskusikan lagi untuk menghasilkan strategi ke 4 yaitu advokasi kolektif suara perempuan

Nani Zulminarni (Wali Amanah PPSW), saat memfasilitasi diskusi pendalaman setelah sesi seminar selesai, mengatakan “Kita jangan terjebak hanya pada arena yang menyentuh kemampuan individual, tetapi bagaimana melakukan advokasi untuk semua permasalahan di dalamnya, lalu kekuatan kolektif seperti apa yang akan dibangun KWPS? Ini masih menjadi PR kita bersama”

Hasil penelitian yang telah dilakukan dan masukan-masukan dari seminar ini membantu PPSW dan masyarakat dampingannya untuk melakukan perbaikan dari proses pendampingan yang selama ini telah dilakukan. Advokasi kolektif suara perempuan seperti yang telah di gulirkan pembahas dalam seminar ini perlu ditindak lanjuti untuk mencapai visi dan misi PPSW dalam pemberdayaan perempuan.