Membebaskan Perempuan dari Rentenir dan Kemiskinan

Kaum perempuan adalah penduduk mayoritas di negeri ini. Namun ironisnya, mayoritas perempuan dalam posisi ekonomi yang tidak menguntungkan karena kemiskinan. Ya, kemiskinan membuat perempuan Indonesia terjerembab dalam berbagai permasalahan pelik. Bahkan tak jarang mereka harus terjerat rentenir alias lintah darat hanya gara-gara ingin memenuhi kebutuhan pokoknya. Belum lagi dengan aspek ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang bisa dipastikan terabaikan karena ketiadaan uang.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Untuk mengatasinya, dibutuhkan program yang jelas dan terarah untuk memberdayakan kaum perempuan, baik dari pemerintah maupun kalangan swasta. Dalam konteks ini, dunia swasta memang memegang peran yang sangat penting dan strategis. Lewat program tanggung jawab sosial perusahaan, mereka bisa berkontribusi besar untuk memberdayakan kaum perempuan sekaligus membebaskan mereka dari jeratan kemiskinan.

 GE Money Indonesia adalah salah satu perusahaan yang memiliki program CSR ( corporate social responsibility) di bidang pemberdayaan perempuan. Namanya adalah Program Bijak Dana Perempuan yang diluncurkan sejak 2007 lalu. Sedangkan peluncuran program tersebut untuk tahun kedua dilaksanakan pekan lalu di Jakarta.

Bijak Dana Perempuan dilaksanakan dengan menggandeng sejumlah pihak, yaitu Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan Masyaralat (PPKM) dan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta.

CEO GE Money, Harry Sasongko, mengungkapkan Bijak Dana Perempuan merupakan salah satu kegiatan CSR yang akan menjadi fokus utama program CSR GE Money. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, maka pihaknya ingin menyumbangkan keahlian tersebut untuk memberdayakan kaum perempuan di Indonesia.

‘’Menurut data sebanyak 70 persen perempuan di Indonesia berada dalam kondisi ekonomi kurang menguntungkan karena kemiskinan. Lewat program ini kami ingin memberdayakan kaum perempuan sehingga kelak mereka bisa bebas dari kemiskinan,’’ katanya.

Program ini, katanya, bertujuan membantu memperkuat kesejahteraan ekonomi dan sosial kaum perempuan melalui pemberdayaan keuangan. Ada tiga cara yang ditempuh, yaitu mendirikan koperasi khusus kaum perempuan, memberikan bantuan berupa program kemampuan mengelola keuangan, pelatihan motivasi, dan kepemimpinan, serta memberikan bantuan langsung di lapangan

dalam kegiatan perekonomian sehari-hari. ‘’Selain itu juga diberikan pinjaman bergulir untuk berbagai keperluan dengan tingkat kredit macet nol persen,’’ ujar Harry.

Melebihi target

Pada pelaksanaan tahun pertama di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, kata Direktur Eksekutif PPKM, Titik Hartini, hasil yang dicapai cukup menggembirakan dan melebihi target yang ditetapkan.Jumlah anggota yang bergabung sebanyak 200 orang. Sedangkan penerima manfaat program ini secara keseluruhan sebanyak seribu orang. Keaktifan anggota dalam kelompok juga tinggi yaitu 98 persen.

Image Untuk kegiatan koperasi, berhasil menghimpun simpanan anggota sebanyak 48 juta lebih. Sedangkan dana begulir yang disalurkan sebanyak Rp 228 juta. ‘’Dana bergulir ini digunakan untuk berbagai keperluan. Misalnya biaya pendidikan anak, usaha mikro, kesehatan, dan keperluan lain-lain,’’ ungkapnya.

Keperluan lain-lain yang memakai dana bergulir antara lain unntuk investasi dalam keadaaan darurat dan membayar hutang kepada rentenir.

Kondisi kemiskinan memang membuat sejumlah anggota terpaksa harus hutang uang kepada rentenir dengan bunga tinggi. Hal ini sangat memberatkan mereka.

‘’Ketika mereka mendapat pinjaman dari koperasi, maka digunakan untuk melunasi hutang kepada rentenir. Hal tersebut cukup membahagiakan karena program ini ternyata mampu membebaskan anggota dari jerat rentenir. Dan yang lebih membahagiakan angka kredit macetnya 0 persen,’’ imbuh Titik.

Secara umum, progrram Bijak Dana Perempuan berdampak pada dua aspek yaitu ekonomi dan sosial. Dampak ekonomi antara lain akses pada dana bergulir untuk membuka usaha baru atau meperlua usaha dan pendidikan anak, peningkatan ekonomi keluarga, kemampuan menabung, dan kemampuan mengelola keuangan dengan pintar.

Sedangkan dampak sosial yang timbul antara lain peningkatan rasa percaya diri para anggota, peningkatan kemandirian dan posisi tawar, pengembangan kepemimpinan perempuan, penguatan kelompok perempuan, membangun solidaritas sesama perempuan, dan sebagainya.

‘’Atas keberhasilan pelaksanaan tahun pertama, maka tahun kedua ini kami akan mengembangkan cakupannya ke wilayah Kebagusan, selain juga tetap menggarap Lenteng Agung,’’ paparnya. jar