Otonomi Wilayah, Pilihan Strategis

Musyawarah Besar (Mubes) Perkumpulan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) baru usai digelar di Hotel Bukit Talita, Cisarua Bogor. Selama 5 hari, tanggal 7-11 April 2008 seluruh anggota perkumpulan yang terdiri dari PPSW Jakarta, PPSW Jawa Barat-Banten, PPSW Borneo, Yayasan Raudhah dan PPSW Sekretariat Jaringan mendengarkan dan membahas laporan dari masing-masing wilayah, mendiskusikan masalah-masalah internal perkumpulan serta merencanakan strategi 3 tahun ke depan.

 
Mubes Perkumpulan PPSW ke-2 ini memantapkan pilihan otonomi wilayah yang selama 3 tahun sebelumnya merupakan masa transisi dari PPSW sentralisasi. Dari laporan anggota, tergambar kemajuan hampir di semua sisi, diantaranya adalah perkembangan kelompok-kelompok dampingan, pertumbuhan kader lokal perempuan yang mandiri, terjalinnya jaringan antara PPSW wilayah dengan pemerintah daerah, LSM serta kemandirian dalam segi pendanaan karena PPSW wilayah sudah dapat mencari sumber pendanaan sendiri, baik dari funding agency, pemerintah daerah melalui koperasi-koperasi primer, dll. 

Ini merupakan tonggak terpenting dalam perjalanan PPSW yang telah lebih dari 20 tahun bekerja bersama masyarakat basis. Kemandirian wilayah-wilayah ini membuat PPSW bisa lebih fokus melakukan pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing. Seperti PPSW Jakarta, karena masyarakat dampingannya sebagian besar penduduk urban yang bekerja di sektor informal sehingga mengembangkan konsep pendampingannya ke arah pengembangan LKM (Lembaga Keuangan Mikro). Melalui LKM diharapkan anggota kelompok yang bekerja sebagai penjual bakso, gorengan, warung sembako, kredit barang dsb, dapat meminjam modal dengan mudah untuk mengembangkan usahanya.

Sementara PPSW Jawa Barat Banten – yang dalam Mubes ini telah memproklamirkan diri sebagai  PPSW Pasoendan – lebih memfokuskan diri pada isue buruh migran perempuan, karena wilayah dampingannya di daerah Jawa Barat dan Banten merupakan kantong-kantong buruh migran yang bekerja di berbagai negara. PPSW Pasoendan mendampingi calon buruh migran perempuan (TKW) sebelum keberangkatan, setelah kembali ke tanah air dan keluarga TKW yang ditinggalkan.

Para calon TKW sebelum berangkat diberikan pelatihan dan informasi terkait negara tujuannya, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik. Pendampingan terhadap keluarga yang ditinggalkan, dilakukan dengan mengorganisir mereka untuk membentuk kelompok perempuan dengan berbagai kegiatan sesuai kebutuhan seperti peningkatan ekonomi melalui kegiatan simpan pinjam, penyadaran kesehatan reproduksi dan penguatan organisasi & kepemimpinan perempuan. Pendampingan terhadap TKW yang mengalami berbagai kasus kekerasan di negera tempat mereka bekerja juga dilakukan oleh PPSW Pasoendan. Selain itu, pendampingan bagi TKW yang telah kembali ke tanah air dilakukan untuk memfasilitasi mereka agar dapat mengelola uang hasil kerja untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti untuk pengembangan usaha, biaya pendidikan anak-anaknya, dll.


PPSW Borneo yang berada di Pontianak, Kalimantan Barat mulai memfokuskan kegiatannya pada program anti Ttraficking, karena Kalimantan barat merupakan salah satu jalur pemberangkatan TKI/TKW keluar negeri melalui perbatasan Kuching, Malaysia. Melalui pintu perbatasan Indonesia-Malaysia, mendorong rentan-nya perdagangan manusia sehingga menjadi keprihatian PPSW Borneo.


Selain PPSW Jakarta, PPSW Pasoendan dan PPSW Borneo, didalam MUBES PPSW 2008 juga melahirkan lembaga baru yaitu  PPSW Sumatera. PPSW Sumatera merupakan lembaga yang diberikan mandat untuk mempersiapkan kemandirian wilayah Riau dan Aceh. Kegiatan PPSW di Riau, tepatnya berada di Kabupaten Rokan hilir yang merupakan perluasan wilayah dari Kabupaten Bengkalis. Kegiatan pengorganisasian masyarakat di Rokan hilir  telah dimulai sejak tahun 1989 sampai sekarang dengan kegiatan utama adalah simpan pinjam. Kondisi geografis kelompok yang tergolong desa terpencil karena jauh dari pusat-sumberdaya ekonomi, membuat kegiatan koperasi simpan pinjam berkembang pesat. Pada tahun 2007, salah satu koperasi wanita di Rokan hilir, Koperasi Wanita Bunga Bangsa (WBB) menjadi juara ke tiga didalam lomba koperasi tingkat propinsi.


Meskipun PPSW sudah otonom disetiap wilayah, tetapi diikat oleh visi bersama yaitu Pemberdayaan perempuan dan transformasi sosial bagi status dan peran perempuan miskin dan marjinal melalui peningkatan akses dan kontrol perempuan terhadap sumberdaya, guna menciptakan tatanan masyarakat yang egaliter, demokratis, berkeadilan dan keseteraan gender.


Selain kegiatan ekonomi, masing-masing wilayah juga mempunyai program penyadaran kesehatan reproduksi, pemberdayaan hukum dan melakukan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan politik agar perempuan basis ikut dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan di wilayahnya. Isue lainnya yang sangat strategis dan berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan pengorganisasian masyarakat adalah penguatan kelembagaan lokal melalui pengembangan koperasi, forum wilayah dan kaderisasi kepemimpinan perempuan dengan cara pembentukan kader lokal perempuan di setiap wilayah. Semua kegiatan di masyarakat tersebut dilakukan dengan strategi Pengorganisasian masyarakat. (Shd)