Endang Sulfiana: Pemerintah Harus Terus Mendorong Kepedulian Perempuan

Pemberdayaan perempuan kini banyak dilakukan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan kalangan swasta. Namun hal itu masih belum optimal. Berikut wawancara Wartawan Harian Republika dengan Direktur Eksekutif Pusat Pemberdayaan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta, Endang Sulfiana, seputar pemberdayaan perempuan khususnya di bidang ekonomi.

Salah satu program pemberdayaan perempuan yang banyak dilakukan adalah pemberian modal usaha. Apakah itu sudah Ideal?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa perempuan sudah termarginalkan secara ekonomi, pendidikan, akses inforrnasi, kesehatan, dan politik. Pokoknya semua kebutuhan dasar perem­puan masih termarginalkan. Jadi kalau ada pihak yang memberikan bantuan modal, itu hanya sebagian kecil saja.

Jadi harusnya seperti apa?
Ya, tergantung sasarannya siapa. Saat ini memang orang lagi ramai bicara soal permodalan karena Presiden SBY telah mencanangkan tahun ini sebagai tahun kredit rnikro. Dan kebanyakan yang memanfaatkan kredit mikro tersebut adalah kaurrm perempuan. Jumlahnya sekitar 80 persen dari populasi. Karena itu, kini banyak yang terlibat dalam pemberian modal kerja berupa kredit mikro tersebut. Ini tidak hanya pemerintah, tapi juga kalangan swasta.

Apakah hal ini bisa efektif?
Saya kira efektif. Dengan makin banyaknya lembaga yang memberikan akses permodalan kepada perempuan, maka akan lebih baik. Penyalurannya biasanya lewat koperasi atau lembaga keuangan mikro (LKM) sehingga perem­puan lebih mudah mengakses. Kalau dulu berbeda. Dahulu penyaluran kredit lebih ditekankan pada perbankan. Padahal kebanyakan perempuan kita adalah di grass root sehingga mereka sangat sulit untuk bisa mengakses bank. Jadi dengan makin banyaknya kredit mikro yang disalurkan lewat ko­perasi dan LKM, maka akan memudahkan kaum perempuan untuk mengaksesnya.

Lalu apakah itu sudah bisa menyentuh semua perempuan dl Indonesia?
Saya kira betum. Masalahnya adalah kondisi geografis. Yang saya amati, bantuan kredit mikro tersebut saat ini baru bisa dinikmati yang berada di kota atau yang fasilitasnya lengkap. Sedangkan yang berada di daerah pelosok belum. Jadi saya pikir perlu kerja keras lagi agar bantuan-bantuan permodalan lewat kredit mikro tersebut juga bisa diakses oleh perempuan di daerah pelosok.

Program apa yang sudah dilakukan PPSW dalam kerangka pemberdayaan perempuan?
Fokus kami pemberdayaan secara ekonomi. Kami sudah melakukan proses pendampingan 250 kelompok produktif perempuan. Mereka tersebar di enam provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Barat, Riau, dan Aceh. Kami lebih banyak menggarap perempuan di grass root. Kebanyakan yang kami bina adalah kelompok perempuan yang memiliki potensi ekonomi.

Lalu bagaimana Anda melihat keterlibatan korporat dalam pemberdayaan perempuan dl Indonesia?
Menurut saya peran korporat masih sangat minim. Lagi pula hal itu baru dilakukan kalangan swasta dan dunia industri baru-baru ini saja. Tapi bagai­mana pun juga, dengan keterlibatan mereka, maka perempuan akan mendapat akses yang lebih besar dan mudah.

Apa yang perlu dilakukan untuk lebih menggugah kepedulian dan komitmen dunia usaha untuk memberdayakan perempuan?
Barangkaii yang perlu dilakukan adalah law enforcement. Di sinilah arti pentingnya peran pemerintah. Sekarang ini kan aturan yang mewajibkan perusahaan menyisihkan sekian persen keuntungannya untuk program sosial, termasuk pember­dayaan perempuan. Yang perlu dipertanyakan adalah penegakan aturan tersebut. Artinya apakah perusahaan yang melanggar aturan itu dikenai sanksi atau tidak? Dalam konteks ini yang lebih berperan adalah pemerintah. Saya yakin jika aturan tersebut ditegakkan, maka akan lebih banyak lagi perusahaan yang melakukan program pember­dayaan perempuan.

Bagaimana peran media?
Menurut saya media sangat strategis. Bantuan dan publikasi dari media akan sangat membantu. Saya ingat ketika Republika memuat profit salah seorang binaan kami. Begitu berita itu keluar, maka responnya cukup besar dari sesama perempuan. Ini akan menggugah dan memberi motivasi kepada perempuan yang lain. Jadi peran media sangat penting, baik cetak maupun elektronik. (jar)