PPSW Tidak Yakin Politisi Selebritis Perjuangkan Aspirasi Perempuan

Kapanlagi.com – Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) menilai munculnya sejumlah selebritis wanita dipentas politik nasional ataupun ajang pilkada tidak menjamin mereka akan memperjuangkan aspirasi perempuan di lapisan akar rumput.

"Hal itu dikarenakan kemunculan mereka lebih banyak by accident ketimbang by design," kata Direktur Eksekutif PPSW, Endang Sulfiana, di sela-sela seminar "Kepemimpinan Masyarakat Sipil dan Tantangannya," di Jakarta, Rabu (13/09).
Dikatakannya bahwa akibat kehadiran para selebritis wanita di pentas politik nasional maupun lokal itu lebih banyak bukan karena faktor kaderisasi dari bawah, maka dikhawatirkan agenda kerja mereka ketika telah terpilih jauh berbeda dengan aspirasi dan kepentingan riil kaum wanita di tingkat akar rumput.

Namun pada sisi lain, katanya, keberadaan kaum wanita pada posisi-posisi kunci di pemerintahan atau legislatif itu tentunya memberikan naunsa tersendiri bagi perjuangan kaum wanita menentang diskriminasi gender.
"Jadi pada satu sisi kita ikut senang karena mereka adalah kaum perempuan, tapi di sisi lain juga sedih karena tidak terlahirnya pemimpin wanita yang benar-benar karena kualitas yang telah teruji," ujarnya.

Mengenai kuota 30% jatah kursi legislatif untuk kaum perempuan dari partai-partai yang ada, Endang mengatakan bahwa pihaknya tetap mendukung keputusan politik tersebut dan terus menuntut agar hak-hak politik perempuan dipenuhi.
Menurut dia, realita atas keputusan politik kuota 30% itu masih sekedar retorika elit saja karena sistem politik tetap sarat diskriminasi gender.

Untuk itu, PPSW telah bertekad untuk terus melakukan advokasi kepada kaum perempuan agar tujuan terlahir pemimpin-pemimpin perempuan yang berkualitas bisa terwujud.

Hal tersebut, kata Endang, dilakukan PPSW dengan melakukan berbagai pelatihan dan peningkatan kemampuan kaum perempuan dari tingkat lokal, semisal memimpin ditingkat RT/RW dan desa.

PPSW yang didirikan pada 1986 itu bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan, khususnya yang berada di strata sosial ekonomi terendah, dalam masyarakat yang terkonsentrasi didaerah kumuh perkotaan dan desa-desa.

Fokus perhatian organisasi nir laba yang kini mendampingi lebih dari 8000 kaum perempuan disejumlah provinsi tersebut adalah di sektor pemberdayaan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. (*/lpk)