Jejen Nurjanah: Makin Hari, Tambah Semangat

”SAYA juga dulu korban,” kata Jejen Nurjanah (41). Karena alasan itulah, kata Jejen, ia kini berkutat dengan korban-korban traficking dan buruh migran di Sukabumi. Dan, semakin banyak ia menemui kisah tragis, semakin ia bersemangat, walaupun tidak ada honor atau penghasilan yang menjanjikan.

Kesulitan ekonomi–seperti juga alasan para buruh migran lain–ia berangkat sebagai tenaga kerja wanita (TKW) dengan tujuan Arab Saudi pada tahun 1989. Setelah dua tahun bekerja, ia kembali ke Indonesia dan mulai berkenalan dengan organisasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) yang antara lain membina buruh migran.

Jejen kembali berangkat pada tahun 2005 dengan alasan yang sama. Kali ini ia bekerja pada sebuah rumah di Abu Dhabi. Baru sepekan bekerja, ia terjatuh dari lantai dua rumah majikannya. Jejen tak bisa berjalan lagi. Pinggulnya mengalami dislokasi. “Saya takut di-pen (besi), karena saudara saya pernah meninggal akibat di-pen di rumah sakit. Majikan sebenarnya baik, karena saya tak mau ke rumah sakit, ia mengembalikan ke agensi dengan memberi uang dan tiket pesawat,” katanya.

Bukannya dipulangkan, ia malah dimintai uang Rp 9 juta dan disekap di kantor agen tersebut. “Selama lima hari saya tidak diberi makan,” paparnya.

Pertolongan datang dari salah seorang staf asal Filipina bernama Alin dan tenaga kerja pria asal Bangladesh. Sebuah surat yang ia selipkan di bawah pintu, terbaca oleh pria asal Bangladesh dan sampai pada keluarga, aktivis buruh migran, dan kepolisian. Penjemputannya dirasakan istimewa. “Sejak keluar, saya sudah dijemput pakai kursi roda sampai naik pesawat. Begitu pula ketika tiba di Jakarta,” kenangnya.

Di lingkungan tempat tinggalnya di Kebon Pedes dan Sukabumi, ternyata ia menemukan banyak sekali TKI yang ternyata bernasib lebih buruk. “Rata-rata para korban itu menjadi tertutup, apalagi yang pernah dipaksa ‘melayani’ dan kalau melawan dibuang begitu saja,” katanya.

Banyak sekali yang ia temukan, ketika mulai aktif sebagai pendamping buruh migran. Berbagai kasus kekerasan dan pelecehan yang dialami oleh buruh migran, TKW yang dijual dan disekap di lokalisasi, hingga buruh migran yang hilang kontak.

Salah satu korban yang tengah didampinginya, papar Jejen, ada yang bernama Nisa. “Ini nama samaran,” katanya. Pada usia 14 tahun, Nisa menjadi korban traficking. Ia disekap di lokalisasi selama lima tahun. Setelah lima tahun, ada satu laki-laki namanya Feri yang mau menolong.”

Eh, ternyata Feri tak lebih dari musang berbulu domba. Nisa malah dijerumuskan lebih dalam. Ia malah digunakan juga sebagai pengedar narkoba, hingga terkena virus HIV. Ketika Feri tertangkap, Nisa jadi terlunta-lunta sebelum dipulangkan ke Indonesia.

“Mencari obat untuk Nisa perlu perjuangan luar biasa, selain sulit juga jauh sekali. Ia juga harus minum obat yang jumlahnya puluhan jenis yang harus diminum sebulan sekali,” katanya.

Mencapai tempat-tempat para korban juga bukan hal yang mudah. Seringkali daerah yang ditempuh sangat terpencil, karena dari daerah terpencil biasanya para “perekrut” bekerja. “Seperti kalau saya harus ke Surade, perlu perjalanan setidaknya empat jam. Kalau pergi pagi, pulangnya sudah jam 10 atau 11 malam,” katanya.

Setiap bulan, selalu muncul dua atau tiga laporan baru. Baru kemarin ada yang pulang dalam keadaan lang-lang ling-ling. “Ia dipaksa ‘melayani’ majikan, dan karena melawan ia dibuang begitu saja,” katanya.

Semakin dalam ia berkecimpung, ternyata semakin banyak penderitaan yang sampai ke telinganya. “Melihat penderitaan mereka saya justru termotivasi untuk membantu mereka,” ujar Jejen. (PK-03)***