Kisah Pilu TKW di Negeri Jiran

Sering Dipukul Majikan, tak Diberi Makan dan Ditangkap Polisi
 
TATI (33) tersenyum di depan warungnya di Kampung Babakan Caringin RT02/03 Kelurahan/Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi. Warung kecil itu dibangun dengan modal Rp 2 juta yang didapat dari organisasi buruh migran (IOM) itu cukup untuk menghapus niatnya bekerja di negeri orang yang menyisakan kenangan pahit.

Dua tahun lalu, ia diajak seorang "sponsor" untuk bekerja di Malaysia. Bersama sejumlah perempuan lainnya, ia dikumpulkan di Cileungsi Bogor untuk mendapat pelatihan. "Selama dua bulan, ia belajar bahasa Inggris, bahasa melayu, dan mengurus rumah," katanya.

Perjalanan berikutnya adalah ke agensi di Bandar Puchong, Malaysia. "Di sana, menunggu dua minggu sebelum ditempatkan dan mendapatkan majikan," lanjut Tati.

Nasib ternyata tidak terlalu berpihak padanya. "Majikan saya suka memukul. Setiap menyuruh, dia menyertainya dengan memukul," katanya.

Bukan cuma itu, "Saya pun hanya makan sisa majikan dan nasi dari kulkas." Pagi hari, ia mendapat jatah roti atau teh saja. Sekira pukul 15.00, ia mendapat jatah nasi sisa makan siang, dan pukul 22.00 adalah jatah makan malamnya.
Jam kerjanya dimulai dari pukul 04.00 dinihari hingga baru bisa tidur setelah pukul 24.00. "Jam empat di sana kan sama dengan jam dua atau jam tiga di sini," katanya.

Puncaknya, ketika suatu saat sang majikannya mengayunkan serok panas ke arahnya. "Saat itu saya langsung lari ke jalan, menyetop taksi dan minta diantar ke kedutaan. Paspor saya ditahan. Saat itu saya nyeker (tidak memakai alas kaki)," lanjutnya. Di kedutaan, Tati tinggal selama 4 bulan sebelum dipulangkan ke tanah air. "Di kedutaan, mungkin ada 200 orang yang juga kabur. Kerja kami ya bersih-bersih."

Yati (38) bernasib lebih buruk. Majikannya selama lima bulan bekerja di Kajang tahun 2005 berperangai buruk. Dengan jam kerja dari pukul 04.00 dinihari hingga 02.00 dinihari berikutnya, ia sama sekali tak diberi makan. "Teu dipasihan emam pisan, tuang teh kopi we," katanya.

Ia seringkali mengandalkan pembantu asal Madura di rumah tetangganya yang menyisihkan roti untuknya. Ia berusaha melawan perlakuan kejam majikannya, hingga suatu saat. "Awak banyak degil (melawan-red). Saya jawab, kalau tidak degil saya mati di sini," katanya bercerita.

Karena tidak tahan, Yati akhirnya kabur. Di jalan ia ditangkap polisi dan masuk penjara karena tidak memiliki paspor–yang disimpan majikannya. Kondisi penjara tidak lebih baik. Di ruangan berukuran tak lebih dari 2×2 meter ia harus berimpitan dengan 10 wanita lain dari Filipina, dan Thailand. "Tapi di penjara lebih baik, saya dapat makan," katanya.

Setelah lewat masa tahanan, ia dipulangkan lewat Tanjung Balai Karimun, sebelum dikirim ke daerah masing-masing. "Ketika tiba, sebagian mentalnya terguncang, badannya juga tidak segemuk sekarang," kata Jejen Nurjanah yang aktif melakukan pendampingan korban traficking lewat Forum Wardah Mandiri di Kebon Pedes Sukabumi yang bernaung di bawah Pusat Pengembangan Sumber daya Wanita (PPSW), dan didukung beberapa organisasi lain.

Selain pendampingan secara personal, upaya membangun kesadaran dilakukan lewat berbagai cara, kelompok pengajian hingga koperasi simpan pinjam. Lewat koperasi simpan pinjam, upaya pemenuhan kebutuhan dan membangun usaha kecil secara bersama ternyata membuahkan hasil. "Banyak yang sudah menghasilkan jasa yang cukup besar untuk dibagi kepada anggota," katanya.

Selain untuk anggota, belasan koperasi yang dibentuk juga membuat program untuk remaja. "Kita beri modal untuk remaja yang rawan traficking, mereka bisa berjualan kecil-kecilan," lanjut Jejen.

Program yang banyak ditujukan untuk memenuhi sekadar kebutuhan hidup ini menjadi salah satu fokus. "Mereka pergi kan karena alasan ekonomi. Segala yang dilakukan adalah bagaimana agar mereka tidak pergi," kata Jejen.

Kondisi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, kata Jejen masih akan terus menimbulkan berbagai masalah. "Sejak awal, keberangkatan lewat calo, pengiriman, monitoring tidak ada. Belum lagi payung peraturan dan undang-undang yang tidak berpihak pada buruh migran," katanya.

Soal paspor saja misalnya, seperti yang dialami Tati dan Yati, karena paspornya dipegang majikan, otomatis ketika harus menyelamatkan nyawa, ia menjadi berstatus "pendatang haram" yang dengan mudah terjerat hukum. Padahal, tenaga kerja Filipina sudah bisa memegang paspornya sendiri.

Jejen mengibaratkan masalah buruh migran seperti benang kusut, dan hingga kini benang kusut itu belum terurai, sulit mencegah atau mengatasi berbagai kasus yang timbul. "Dari data yang ada, 20 persen buruh migran bermasalah," katanya.
Jika dari Sukabumi saja terkirim 25.000 buruh migran, dan 3,8 juta dari seluruh Indonesia, jumlah korban pasti menjadi sangat besar. "Setelah berangkat mereka seperti di-culkeun," katanya.

Jejen yang mengaku melakukan pendampingan terhadap 53 korban juga sering berhadapan dengan kenyataan kontradiktif. "Beberapa dari mereka ternyata berangkat lagi," ujar Jejen agak kecewa.

Sementara itu, Tati cukup asyik mengurus warung yang menjadi sumber penghidupan keluarga dengan tiga anaknya. "Hoyongna nambih modal deui, kanggo (berjualan) minyak tanah," katanya berharap. (PK-2)***