Mencontoh Tekad Cholilah

Dari rumah yang terselip di mulut perkampungan kumuh di RT 14 RW 08 Kelurahan Penjaringan, Pluit Dalam, Jakarta Utara, pasangan Cholilah dan Sabar mengantar anak pertamanya menjadi dokter, anak kedua sarjana kebidanan dan anak bungsu di semester IV Jurusan Teknik Kimia ITB.

Oleh: Maria Hartiningsih

“Kalau ndak ada bantuan uang dari kelompok, mana mungkin kami mampu menyekolahkan anak-anak, wong saya cuma buruh jahit dan bapaknya buruh bangunan,” ujar Ny Cholilah (56), sambil menghitung uang angsuran anggota yang datang satu persatu. Hari Rabu (10/8) Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Kelompok Sumber Rejeki melakukan pertemuan buka kas yang biasa berlangsung sebulan sekali.

Ibu tiga anak itu menjadi kebanggaan semua anggota kelompoknya. la menjadi contoh perjuangan orangtua memberikan pendidikan yang terbaik pada anak-anaknya. la menunjukkan bagaimana solidaritas kelompok menjadi landasan utama untuk memecahkan berbagai persoalan hidup, termasuk persoalan ekonomi.

Rumah pasangan Cholilah-Sabar tampak paling bersih di antara rumah-rumah di kirikanannya. “Makin lama rumah Bu Sabar ini makin rapi,” ujar Wirda, petugas lapangan dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW).

“Kata teman-teman dulu pertemuannya malam. Kalau hujan di sini banjirnya sampai di atas lutut,” jelas Wirda.

Rumah berukuran sekitar 30 meter persegi di lantai bawah dan 30 meter persegi di lantai atas itu adalah saksi perjuangan pasangan Cholilah-Sabar. Mereka membelinya tahun 1975, tiga tahun setelah memutuskan pindah dari Semarang dengan ha­nya berbekal tekad dan semangat Cholilah mempunyai keterampilan menjahit, Sabar di bangunan.

“Kami beli rumah ini tahun 1975, Rp 300.000. Dengan uang yang disisihkan sedikit demi sedikit, mereka mulai memperbaikinya tahun 1981, lalu tahun 1992. “Sesudah punya sertifikat hak milik, kami perbaiki lagi tahun 2000.” katanya.

Pada tahun 2000 Cholilah mengorganisir tetangganya untuk mendapat sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan di kawasan itu. Tindakan itu didasari oleh kesadaran akan rentannya status hunian di kawasan padat. dengan sekitar 200 orang di atas tanah sekitar 500 meter persegi di RT 14, bahkan lebih padat di RT lainnya.

“Yang punya rumah di sini hanya 21 orang, tetapi ada 100 KK lebih. Banyak kamar yang dikontrakkan,” kata Cholilah.

Makin ke dalam, jalanan becek dan makin menyempit, seperti labirin. Aromanya menyengat karena sirkulasi udara terhambat. Juga gelap karena sinar matahari tak bisa menembus kepadatan bangunan. Seperti halnya wilayah serupa di Jakarta, wilayah itu rawan digusur dengan cara apa saja, apalagi letaknya strategis karena menyelip di pusat bisnis di kawasan Jakarta Utara.

“Ada 36 rumah di RT 14 dan di RT lain sekarang punya sertifikat kepemilikan. Itu penting” tegas Cholilah.

Ibu tiga anak itu tampaknya menjadi tokoh di kawasan itu. Kata-katanya didengarkan. Ajakannya diterima. Dialah tokoh LKM Kelompok Sumber Rejeki yang kini anggotanya mencapui 311 orang, menyebar sampai wilayah lain, dan mungkin satu-satunya kelompok dengan 25 persen anggota laki-laki.

Sejak tahun 1992

Kelompok itu mengenal PPSW yang menjadi konsultan untuk bantuan dana dari Australia pada tahun 1992. PPSW mendampingi secara intens selama tiga tahun, melatih para perempuan itu mengelola dana.

Sebelum menerima bantuan, dibentuk kelompok swadaya, yang mengumpulkan modal awal. “Mula-mula anggota kami hanya 16. Setahun kemudian jadi 57.” kenang Cholilah.

Bantuan dari Australia berjumlah Rp 7 juta dibagi empat kelompok. “Pertama kami dapat Rp 2 juta, bisa cepat dikembalikan, lalu dapat lagi, sampai kami bisa berjalan. Kalau kurang lagi. kami pinjam ke PPSW.” lanjutnya.

Anggota baru direkrut berdasarkan kepercayaan dan tanggung jawab anggota lama yang membawanya. Sistemnya mirip tanggung renteng. Semua warga boleh menjadi anggota. sekalipun dianggap penduduk musiman. “Lha, musimannya sudah puluhan tahun di sini.” sergah Cholilah. Kepala keluarga yang aktif di RT 14 itu sekitar 40 KK.

Pinjaman untuk usaha ekonomi produktif, menurut Sumiyatun, diberikan dengan bunga tiga persen per bulan. “Lima puluh lima persen dari bunga itu kembali ke anggota. Untuk dana cadangan 20 persen, dana pengurus 15 persen, dana pendidikan 5 persen dan dana sosial 5 persen.” jelas Sumiyatun.

“Makanya ada yang dapat sampai Rp 2 juta waktu pembagian sisa hasil usaha.” sambungnya. Pinjaman di bawah Rp 500.000 harus lunas di bawah tiga bulan, di atas Rp 500.000 bisa sampai lima bulan. Untuk pinjaman yang lebih besar, maksimum angsuran 10 bulan. “Yang pinjam Rp 10 juta harus punya tabungan tiga sampai empat juta di LKM kami,” lanjutnya.

Saat ini Sumber Rejeki memiliki modal kerja sekitar Rp 900 juta. Dibantu PPSW, kegiatan kelompok ini meluas ke bidang kesehatan, pendidikan hak asasi manusia (HAM), dan politik dalam arti luas. “Baru kemarin kami diminta lagi memberi pelatihan kesehatan reproduksi.” ujar Wirda.

LKM seperti ini banyak membantu keluarga miskin di sekitarnya. Reni (41) dapat mengentaskan anaknya menjadi sarjana keperawatan dan sekarang sudah bekerja di sebuah rumah sakit. Satu lagi anaknya masuk perguruan tinggi juga dengan uang masuk dari LKM. “Kalau tak ada bantuan, dari mana bisa menyekolahkan anak. Suami saya hanya tukang ojek.”
Cara peminjaman yang tidak berbelit sangat membantu warga. Inilah yang membedakan dengan “bantuan” resmi dari pemerintah. “Dari dulu sampai sekarang ngaa ada bedanya.” ujar Cholilah.

Menjelang puasa tahun lalu, pihaknya mendapat informasi dari Kantor Koperasi Jakarta Utara mengenai pinjaman Rp 5 juta-7 juta untuk kelompok tanpa agunan. “Kami mengajukan proposal, diterima, tetapi tak pernah ada realisasinya. Ketika ditanya, mereka bilang. “Kalau cari orang miskin kenapa sampai Penjaringan, di Priok saja banyak”. Sejak itu kami tak mau tanya lagi.”

Cholilah juga telah memberi contoh bahwa hantuan apa pun terpulang pada kehendakindividu mengubah nasibnya. Warsi adalah contoh yang berbeda. Ibu tiga anak itu dilahirkan dari keluarga tukang becak, menikah pada usia 15 tahun dengan laki-laki buruh. Anak sulungnya juga menikah pada usia 15 tahun, punya satu anak dengan situasi perkawinan dijurang perpecahan.

Anak itu kembali ke rumah kakeknya, tempat ayah ibunya tinggal, di ruangan seluas tiga kali empat meter, dengan “kamar atas” yang luasnya sama. Hunian di pojok labirin itu dijejali oleh tujuh anggota keluarga.

Swadaya, swadaya…

Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) berdiri pada tahun 1986 dengan perhatian pada perempuan miskin. Pada awalnya, kegiatan organisasi itu terfokus pada pemberdayaan ekonomi. Namun, dalam perkembangannya memasuki cakupan yang lebih serius, yakni pendidikan penyadaran kritis warga, dengan pintu masuk pemberdayaan ekonomi.

Karena itu kegiatannya beragam, mulai dari usaha kecil, pengembangan koperasi, kesehat­an, termasuk kesehatan reproduksi, pendidikan HAM, khususnya hak sebagai warga negara, lingkungan hidup, dan lain-lain. Semuanya dengan perspektif perempuan.

PPSW menggunakan pendekatan swadaya masyarakat, dengan sedikit bantuan bila diperlukan. Karena itu, uang untuk dana bergulir (revolving funds) di lebih dari 50 desa miskin tersebar di 10 provinsi, termasuk Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara, hanya Rp 206 juta. Tetapi yang pernah diakses berjumlah Rp 1 miliar.

“Itu hanya dana tambahan yang diakses kelompok-kelompok kecil,” ujar Tri Endang Sulistyawati, koordinator wilayah Jabotabek. Kelompok yang lebih besar dan lebih kuat didorong untuk menibentuk lembaga keuangan mikro dan koperasi-koperasi primer berbadan hukum. PPSW memfasilitasi berdirinya Koperasi Permata Hati (Kopperti), koperasi sekunder. untuk membantu koperasi-koperasi primer.

Sampai pertengahan bulan Juni 2005, terbentuk lebih kurang 430 kelompok swadaya perempuan dan 30 koperasi primer dengan sekitar 12.000 anggota. Tingkat pengembalian mencapai 98 persen.