Belajar Bersama, Membebaskan Diri dari Kemiskinan

 

ROMBONGAN aktivis dari sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik yang berkunjung ke Kampung Gondolayu, yang berada di tengah Kota Yogyakarta, hampir-hampir tidak percaya dengan pemberian sebutan "miskin" untuk kampung itu. Bukannya empati dan belas kasihan yang tergambar di mata mereka, tetapi justru pujian dan decak kagum.

SAYA telah mengunjungi kampung-kampung miskin di banyak negara, tetapi tidak pernah saya jumpai lingkungan sebagus ini. Rumah di sini bagus-bagus, jalan-jalan bersih sekalipun sempit, sanitasi dan air minum cukup higienis," kata Seario Sarvodaya, aktivis organisasi nonpemerintah dari Sri Lanka.

Komentar serupa juga dikemukakan oleh tamu-tamu lain, yang sore itu bermaksud mengunjungi kelompok ibu-ibu "kaum miskin kota" yang membentuk kelompok tabungan di kampung Gondolayu.

"Rumah-rumah di sini bagus dan bersih meski dibangun dari material yang tidak mahal. Anak-anak di sini juga bersih-bersih," kata Thomas Webster dari Papua Niugini.

KAMPUNG Gondolayu tersembunyi di balik deretan gedung-gedung megah di Jalan Sudirman, Yogyakarta. Akses menuju kampung itu hanyalah lorong sempit-kurang dari dua meter-dengan panjang sekitar 300 meter, terjepit di antara dua bangunan megah. Sisi timur kampung itu dibatasi oleh Kali Code yang membelah kota.

Meski masih banyak rumah berdinding bambu, namun kampung itu tampak asri. Pot-pot bunga berjajar di depan rumah warga. Di beberapa tempat, tanaman rambat menjulur menaungi lorong-lorong sempit rumah penduduk dari sengatan matahari. Kampung yang disebut oleh sejumlah aktivis sebagai "kampung miskin" itu jauh dari suasana kumuh.

Suasana kampung yang bersih dan asri itu terwujud karena kepedulian berbagai pihak, dari lingkungan lurah, ketua rukun wilayah (RW) dan rukun tetangga (RT), serta warga setempat. Tiap Jumat warga turun kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Papan pengumuman didirikan di tiap RT. Kegiatan ibu-ibu PKK berjalan baik. Sesekali petugas kesehatan atau polisi datang memberikan penyuluhan.

Di balik kampung yang asri dan dinamis itu masih ada kegiatan kelompok ibu-ibu yang berinisiatif membentuk kelompok menabung. Kelompok ini dibentuk setahun lalu. Ide dari Ny Sumarni berkat interaksinya dengan seorang aktivis organisasi nonpemerintah. Sumarni kemudian menjual gagasannya kepada sejumlah ibu-ibu di kampungnya. Kelompok yang terdiri atas 10 ibu rumah tangga itu pun sepakat menyisihkan uang belanja sehari-hari untuk ditabung bersama dan dipinjamkan bila ada anggota yang membutuhkan.

Tiap hari, salah satu anggota kelompok berkeliling mendatangi seluruh anggota kelompok, mengumpulkan uang tabungan harian. Jumlah yang disetor per hari tidak seberapa. Setoran selembar uang Rp 500 atau Rp 1.000 pun diterima. Tiap minggu, uang yang terkumpul-antara Rp 75.000 sampai Rp 100.000-disetorkan ke bank.

"Kami harus melakukan cara ini karena tidak mungkin kami menabung Rp 500 langsung ke bank," kata Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan terbentuknya kelompok menabung, mereka juga bisa belajar dan berbagi pengalaman satu sama lain. Dari berkumpul itulah muncul ide berjualan bihun, membuat rempeyek, membuka warung jus, dan kegiatan produktif lainnya.

Ny Elisati (53) merasa terbantu dengan kegiatan kelompok menabung tersebut. Sejak ditinggal suaminya, Elisati harus memenuhi kebutuhannya sendiri bersama seorang putrinya. Tidak ada harta tertinggal saat suaminya meninggal. Elisati membanting tulang menjadi buruh cuci untuk menghidupi keluarganya. Dari penghasilannya yang pas-pasan, ia masih bisa menyisikan uangnya untuk menabung dan mulai membuka warung kecil-kecilan. Dengan modal seadanya ia mulai berjualan sabun, gula, teh, dan kebutuhan rumah tangga sehari-sehari.

"Saya ingin menabung supaya tidak perlu berutang bila ada kebutuhan mendadak. Saya juga ingin cucu saya bisa terus bersekolah," kata Elisati.

KELOMPOK menabung kedengarannya sangat sepele. Akan tetapi, bertolak dari kegiatan semacam inilah proses pembelajaran berkelanjutan terjadi. Tanpa kurikulum, tanpa buku pelajaran, tanpa kehadiran seorang guru, warga masyarakat yang dianggap tidak berpendidikan bisa mencerdaskan dirinya. Ketika mereka mulai berkumpul tiba-tiba hari esok menjadi tidak terbatas.

Dari mengenali masalah yang ada pada diri mereka sendiri, lingkungan rukun tetangga, mereka mulai mengenal hak-hak sebagai seorang warga negara, berbicara tentang hak-hak perempuan, dan lain-lainnya. Mereka pun kemudian mulai bergerak, membuka usaha kecil-kecilan, untuk keluar dari kemiskinan yang mengimpit tanpa harus menunggu uluran tangan dari pemerintah.

Di Yogyakarta setidaknya ada enam kelompok tabungan, yakni Komunitas Gadjah Wong I dan II, Kampung Iromejan, Kampung Gondolayu, Kampung Kepuh, dan Kampung Brandan. Kehadiran kelompok tabungan ibu-ibu ini bersama komunitas pembelajaran yang tumbuh di sejumlah tempat makin menyemarakkan identitas Yogya sebagai kota pelajar.

Berbagai bentuk komunitas pembelajaran yang muncul dalam berbagai jenis organisasi bisa dijumpai di Yogyakarta. Serikat Petani Jamu (SePeJam) lahir dari keinginan untuk melestarikan tanaman obat. Serikat ini memiliki 562 anggota, 85 persen anggotanya perempuan dan 75 persen anggotanya hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah dasar (SD). Mereka mencoba membudidayakan tanaman obat-obatan seperti empon-empon, sere, dan mahkota dewa. Sambil berproduksi mereka saling berdiskusi tentang masalah lingkungan, pertanian organik, dan cara-cara budidaya tanaman obat yang lain.

Kelompok pembelajaran juga muncul di kalangan para pengamen yang tergabung dalam Tim Advokasi Arus Bawah (Taabah). Kelompok ini bermula dari masalah penggarukan yang sering mereka hadapi lantaran tidak memiliki kartu identitas. Berkat pertolongan LBH Yogyakarta, para pengamen, pemulung, dan mereka yang hidup di jalanan bisa mengurus surat keterangan sebagai penduduk musiman. Berangkat dari situ, tujuh pengamen mengontrak rumah di Keparakan Kidul, Yogyakarta, untuk bekerja sama dan belajar bersama.

Di Kampung Nitiprayan, yang terletak di perbatasan selatan Yogyakarta, saat ini menjadi sebuah kampung yang hidup karena berbagai kegiatan pembelajaran. Bermula dari kegiatan anak-anak yang diorganisir melalui Sanggar Anak Alam, kelompok ibu-ibu di kampung itu kini mengelola kelompok bermain, TK PKK, kelompok simpan pinjam, pelatihan pertanian organik, pinjaman untuk renovasi dan kepemilikan rumah sederhana, dan lain-lainnya. Kegiatan kerajinan dan kesenian juga tumbuh di kampung ini.

Tidak ketinggalan pula kelompok pembelajaran di komunitas marginal, seperti pembelajaran di kalangan pekerja seks komersial dalam program "Kamis Sehat". Mereka bertemu dua minggu sekali tiap Kamis untuk mendiskusikan masalah kesehatan reproduksi, alat kontrasepsi, kesehatan reproduksi dan latihan-latihan keterampilan. Untuk pembantu rumah tangga, Rumpun Tjoet Njak Dien membentuk Sekolah PRT dengan mengadakan pertemuan dua minggu sekali. Pertemuan rutin ini dipergunakan untuk latihan keterampilan dan kegiatan diskusi.

PENDIDIKAN merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Pendidikan tidak terbatas pada institusi bernama sekolah dan berlangsung sepanjang hayat, sejak manusia dilahirkan sampai masuk ke liang kubur. Bagi yang beruntung mereka dapat memperoleh pendidikan yang terstruktur: dari taman bermain sampai perguruan tinggi, mengantongi berbagai jenjang ijazah dan sertifikat, terus memperbarui keterampilan dan ilmu pengetahuan melalui berbagai pelatihan, kursus, atau rapat-rapat kerja.

Bagi sebagian besar masyarakat yang berada dalam posisi marginal, pendidikan semacam itu berada di luar jangkauan. Sebagian mereka tidak bisa membaca dan menulis, tidak memperoleh pendidikan dasar yang baik, dan tidak pernah tersentuh oleh pendidikan formal atau nonformal. Betapa pun demikian, mereka tetap berhak memperoleh pembelajaran untuk mengaktualisasikan diri sebagai makhluk belajar dan mencoba membebaskan diri dari belenggu kemiskinan yang mengimpit secara turun-menurun.

Belajar sepanjang hayat atau life long learning yang gencar dikampanyekan oleh Organisasi Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) sebenarnya merupakan nilai yang melekat pada masyarakat sejak dulu. Di Afrika hidup nilai-nilai yang mendorong setiap manusia untuk mencari kebijaksanaan yang dipikirkan secara terus-menerus pada setiap waktu. Agama-agama mendasarkan ajarannya pada kitab suci, yang mengharuskan para pemeluk untuk mempelajarinya terus-menerus sepanjang hayat. Belajar merupakan jendela yang memungkinkan seseorang belajar dari masalah-masalah yang pernah dihadapinya sehingga siap menghadapi masalah-masalah baru yang datang.

"Belajar merupakan sebuah proses yang berlangsung terus-menerus dan bersifat universal. Kita belajar tidak hanya pada seorang guru, tetapi juga pada anak-anak. Kita dituntut rendah hati untuk belajar pada semua orang," kata Admiral Ramdes, seorang aktivis perdamaian dari India.

Pembelajaran sepanjang hayat menjadi esensial bagi masyarakat marginal, yang pada umumnya tidak memiliki akses dan gagal dijangkau oleh pendidikan formal yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah. Liberalisasi dan komersialisasi pendidikan semakin menyisihkan kelompok-kelompok marginal dari peluang mendapatkan pendidikan dasar yang bermutu. Ironinya pendidikan nonformal, apalagi pendidikan informal, yang bisa menjadi jalan pintas bagi mereka yang tersisih dari pelayanan pendidikan formal justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.

Inisiatif mesti datang dari masyarakat sendiri. Diinspirasi oleh pendekatan komunikasi masyarakat yang diperkenalkan oleh Paolo Friere, gerakan pembelajaran di kelompok-kelompok akar rumput berkembang dengan pendekatan yang kreatif. Mereka bergerak dengan suatu keyakinan bahwa tidak benar kalangan marginal, suku-suku terasing, merupakan orang-orang yang kemampuan belajarnya lamban dan kemampuan intelektualnya lebih rendah dari rata-rata. Sekalipun mungkin tak pernah berada dalam ruang kelas, tidak bergaul dengan buku, mereka belajar melalui pengalaman atau melalui cerita turun-temurun.

"Pembelajaran dalam masyarakat tidak perlu menghadirkan orang-orang yang ahli dalam bidang lingkungan, jender, atau suku-suku asli. Kami punya keyakinan bahwa kekuatan ada pada komunitas itu sendiri," kata Nani Zulminarni, Ketua Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta.

Dodo Albasya, pengamen jalanan di Yogya, tidak tamat SD. Namun kemampuan berargumentasi dan kemampuan berorasi Dodo tidak kalah dengan seorang sarjana, pemuka agama, ataupun seorang aktivis politik. Berbekal kemampuan baca tulis yang dimilikinya, Dodo belajar bersama dengan kalangan pengamen dan anak jalanan yang terhimpun dalam komunitas Taabah di Yogyakarta. Ia menciptakan lagu, bermusik, dan memberikan inspirasi pada masyarakat miskin untuk bergerak. Ia berteriak ketika pendidikan menutup diri untuk orang-orang miskin.

Dodo memang tidak pernah berhenti berteriak. "Saat pendidikan makin mahal, orang miskin harus belajar bersama-sama dan bekerja bersama sama," kata Dodo, yang dituangkan dalam syair lagu dan kegiatan nyata komunitas pengamen jalanan Taabah di Keparakan Kidul, Yogyakarta.

Tidak salah bila dikatakan bahwa learning is freedom. Belajar adalah kemerdekaan. (wis)

 

 aktivis dari sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik yang berkunjung ke Kampung Gondolayu, yang berada di tengah Kota Yogyakarta, hampir-hampir tidak percaya dengan pemberian sebutan "miskin" untuk kampung itu. Bukannya empati dan belas kasihan yang tergambar di mata mereka, tetapi justru pujian dan decak kagum.

SAYA telah mengunjungi kampung-kampung miskin di banyak negara, tetapi tidak pernah saya jumpai lingkungan sebagus ini. Rumah di sini bagus-bagus, jalan-jalan bersih sekalipun sempit, sanitasi dan air minum cukup higienis," kata Seario Sarvodaya, aktivis organisasi nonpemerintah dari Sri Lanka.

Komentar serupa juga dikemukakan oleh tamu-tamu lain, yang sore itu bermaksud mengunjungi kelompok ibu-ibu "kaum miskin kota" yang membentuk kelompok tabungan di kampung Gondolayu.

"Rumah-rumah di sini bagus dan bersih meski dibangun dari material yang tidak mahal. Anak-anak di sini juga bersih-bersih," kata Thomas Webster dari Papua Niugini.

KAMPUNG Gondolayu tersembunyi di balik deretan gedung-gedung megah di Jalan Sudirman, Yogyakarta. Akses menuju kampung itu hanyalah lorong sempit-kurang dari dua meter-dengan panjang sekitar 300 meter, terjepit di antara dua bangunan megah. Sisi timur kampung itu dibatasi oleh Kali Code yang membelah kota.

Meski masih banyak rumah berdinding bambu, namun kampung itu tampak asri. Pot-pot bunga berjajar di depan rumah warga. Di beberapa tempat, tanaman rambat menjulur menaungi lorong-lorong sempit rumah penduduk dari sengatan matahari. Kampung yang disebut oleh sejumlah aktivis sebagai "kampung miskin" itu jauh dari suasana kumuh.

Suasana kampung yang bersih dan asri itu terwujud karena kepedulian berbagai pihak, dari lingkungan lurah, ketua rukun wilayah (RW) dan rukun tetangga (RT), serta warga setempat. Tiap Jumat warga turun kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Papan pengumuman didirikan di tiap RT. Kegiatan ibu-ibu PKK berjalan baik. Sesekali petugas kesehatan atau polisi datang memberikan penyuluhan.

Di balik kampung yang asri dan dinamis itu masih ada kegiatan kelompok ibu-ibu yang berinisiatif membentuk kelompok menabung. Kelompok ini dibentuk setahun lalu. Ide dari Ny Sumarni berkat interaksinya dengan seorang aktivis organisasi nonpemerintah. Sumarni kemudian menjual gagasannya kepada sejumlah ibu-ibu di kampungnya. Kelompok yang terdiri atas 10 ibu rumah tangga itu pun sepakat menyisihkan uang belanja sehari-hari untuk ditabung bersama dan dipinjamkan bila ada anggota yang membutuhkan.

Tiap hari, salah satu anggota kelompok berkeliling mendatangi seluruh anggota kelompok, mengumpulkan uang tabungan harian. Jumlah yang disetor per hari tidak seberapa. Setoran selembar uang Rp 500 atau Rp 1.000 pun diterima. Tiap minggu, uang yang terkumpul-antara Rp 75.000 sampai Rp 100.000-disetorkan ke bank.

"Kami harus melakukan cara ini karena tidak mungkin kami menabung Rp 500 langsung ke bank," kata Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan terbentuknya kelompok menabung, mereka juga bisa belajar dan berbagi pengalaman satu sama lain. Dari berkumpul itulah muncul ide berjualan bihun, membuat rempeyek, membuka warung jus, dan kegiatan produktif lainnya.

Ny Elisati (53) merasa terbantu dengan kegiatan kelompok menabung tersebut. Sejak ditinggal suaminya, Elisati harus memenuhi kebutuhannya sendiri bersama seorang putrinya. Tidak ada harta tertinggal saat suaminya meninggal. Elisati membanting tulang menjadi buruh cuci untuk menghidupi keluarganya. Dari penghasilannya yang pas-pasan, ia masih bisa menyisikan uangnya untuk menabung dan mulai membuka warung kecil-kecilan. Dengan modal seadanya ia mulai berjualan sabun, gula, teh, dan kebutuhan rumah tangga sehari-sehari.

"Saya ingin menabung supaya tidak perlu berutang bila ada kebutuhan mendadak. Saya juga ingin cucu saya bisa terus bersekolah," kata Elisati.

KELOMPOK menabung kedengarannya sangat sepele. Akan tetapi, bertolak dari kegiatan semacam inilah proses pembelajaran berkelanjutan terjadi. Tanpa kurikulum, tanpa buku pelajaran, tanpa kehadiran seorang guru, warga masyarakat yang dianggap tidak berpendidikan bisa mencerdaskan dirinya. Ketika mereka mulai berkumpul tiba-tiba hari esok menjadi tidak terbatas.

Dari mengenali masalah yang ada pada diri mereka sendiri, lingkungan rukun tetangga, mereka mulai mengenal hak-hak sebagai seorang warga negara, berbicara tentang hak-hak perempuan, dan lain-lainnya. Mereka pun kemudian mulai bergerak, membuka usaha kecil-kecilan, untuk keluar dari kemiskinan yang mengimpit tanpa harus menunggu uluran tangan dari pemerintah.

Di Yogyakarta setidaknya ada enam kelompok tabungan, yakni Komunitas Gadjah Wong I dan II, Kampung Iromejan, Kampung Gondolayu, Kampung Kepuh, dan Kampung Brandan. Kehadiran kelompok tabungan ibu-ibu ini bersama komunitas pembelajaran yang tumbuh di sejumlah tempat makin menyemarakkan identitas Yogya sebagai kota pelajar.

Berbagai bentuk komunitas pembelajaran yang muncul dalam berbagai jenis organisasi bisa dijumpai di Yogyakarta. Serikat Petani Jamu (SePeJam) lahir dari keinginan untuk melestarikan tanaman obat. Serikat ini memiliki 562 anggota, 85 persen anggotanya perempuan dan 75 persen anggotanya hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah dasar (SD). Mereka mencoba membudidayakan tanaman obat-obatan seperti empon-empon, sere, dan mahkota dewa. Sambil berproduksi mereka saling berdiskusi tentang masalah lingkungan, pertanian organik, dan cara-cara budidaya tanaman obat yang lain.

Kelompok pembelajaran juga muncul di kalangan para pengamen yang tergabung dalam Tim Advokasi Arus Bawah (Taabah). Kelompok ini bermula dari masalah penggarukan yang sering mereka hadapi lantaran tidak memiliki kartu identitas. Berkat pertolongan LBH Yogyakarta, para pengamen, pemulung, dan mereka yang hidup di jalanan bisa mengurus surat keterangan sebagai penduduk musiman. Berangkat dari situ, tujuh pengamen mengontrak rumah di Keparakan Kidul, Yogyakarta, untuk bekerja sama dan belajar bersama.

Di Kampung Nitiprayan, yang terletak di perbatasan selatan Yogyakarta, saat ini menjadi sebuah kampung yang hidup karena berbagai kegiatan pembelajaran. Bermula dari kegiatan anak-anak yang diorganisir melalui Sanggar Anak Alam, kelompok ibu-ibu di kampung itu kini mengelola kelompok bermain, TK PKK, kelompok simpan pinjam, pelatihan pertanian organik, pinjaman untuk renovasi dan kepemilikan rumah sederhana, dan lain-lainnya. Kegiatan kerajinan dan kesenian juga tumbuh di kampung ini.

Tidak ketinggalan pula kelompok pembelajaran di komunitas marginal, seperti pembelajaran di kalangan pekerja seks komersial dalam program "Kamis Sehat". Mereka bertemu dua minggu sekali tiap Kamis untuk mendiskusikan masalah kesehatan reproduksi, alat kontrasepsi, kesehatan reproduksi dan latihan-latihan keterampilan. Untuk pembantu rumah tangga, Rumpun Tjoet Njak Dien membentuk Sekolah PRT dengan mengadakan pertemuan dua minggu sekali. Pertemuan rutin ini dipergunakan untuk latihan keterampilan dan kegiatan diskusi.

PENDIDIKAN merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Pendidikan tidak terbatas pada institusi bernama sekolah dan berlangsung sepanjang hayat, sejak manusia dilahirkan sampai masuk ke liang kubur. Bagi yang beruntung mereka dapat memperoleh pendidikan yang terstruktur: dari taman bermain sampai perguruan tinggi, mengantongi berbagai jenjang ijazah dan sertifikat, terus memperbarui keterampilan dan ilmu pengetahuan melalui berbagai pelatihan, kursus, atau rapat-rapat kerja.

Bagi sebagian besar masyarakat yang berada dalam posisi marginal, pendidikan semacam itu berada di luar jangkauan. Sebagian mereka tidak bisa membaca dan menulis, tidak memperoleh pendidikan dasar yang baik, dan tidak pernah tersentuh oleh pendidikan formal atau nonformal. Betapa pun demikian, mereka tetap berhak memperoleh pembelajaran untuk mengaktualisasikan diri sebagai makhluk belajar dan mencoba membebaskan diri dari belenggu kemiskinan yang mengimpit secara turun-menurun.

Belajar sepanjang hayat atau life long learning yang gencar dikampanyekan oleh Organisasi Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) sebenarnya merupakan nilai yang melekat pada masyarakat sejak dulu. Di Afrika hidup nilai-nilai yang mendorong setiap manusia untuk mencari kebijaksanaan yang dipikirkan secara terus-menerus pada setiap waktu. Agama-agama mendasarkan ajarannya pada kitab suci, yang mengharuskan para pemeluk untuk mempelajarinya terus-menerus sepanjang hayat. Belajar merupakan jendela yang memungkinkan seseorang belajar dari masalah-masalah yang pernah dihadapinya sehingga siap menghadapi masalah-masalah baru yang datang.

"Belajar merupakan sebuah proses yang berlangsung terus-menerus dan bersifat universal. Kita belajar tidak hanya pada seorang guru, tetapi juga pada anak-anak. Kita dituntut rendah hati untuk belajar pada semua orang," kata Admiral Ramdes, seorang aktivis perdamaian dari India.

Pembelajaran sepanjang hayat menjadi esensial bagi masyarakat marginal, yang pada umumnya tidak memiliki akses dan gagal dijangkau oleh pendidikan formal yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah. Liberalisasi dan komersialisasi pendidikan semakin menyisihkan kelompok-kelompok marginal dari peluang mendapatkan pendidikan dasar yang bermutu. Ironinya pendidikan nonformal, apalagi pendidikan informal, yang bisa menjadi jalan pintas bagi mereka yang tersisih dari pelayanan pendidikan formal justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah.

Inisiatif mesti datang dari masyarakat sendiri. Diinspirasi oleh pendekatan komunikasi masyarakat yang diperkenalkan oleh Paolo Friere, gerakan pembelajaran di kelompok-kelompok akar rumput berkembang dengan pendekatan yang kreatif. Mereka bergerak dengan suatu keyakinan bahwa tidak benar kalangan marginal, suku-suku terasing, merupakan orang-orang yang kemampuan belajarnya lamban dan kemampuan intelektualnya lebih rendah dari rata-rata. Sekalipun mungkin tak pernah berada dalam ruang kelas, tidak bergaul dengan buku, mereka belajar melalui pengalaman atau melalui cerita turun-temurun.

"Pembelajaran dalam masyarakat tidak perlu menghadirkan orang-orang yang ahli dalam bidang lingkungan, jender, atau suku-suku asli. Kami punya keyakinan bahwa kekuatan ada pada komunitas itu sendiri," kata Nani Zulminarni, Ketua Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta.

Dodo Albasya, pengamen jalanan di Yogya, tidak tamat SD. Namun kemampuan berargumentasi dan kemampuan berorasi Dodo tidak kalah dengan seorang sarjana, pemuka agama, ataupun seorang aktivis politik. Berbekal kemampuan baca tulis yang dimilikinya, Dodo belajar bersama dengan kalangan pengamen dan anak jalanan yang terhimpun dalam komunitas Taabah di Yogyakarta. Ia menciptakan lagu, bermusik, dan memberikan inspirasi pada masyarakat miskin untuk bergerak. Ia berteriak ketika pendidikan menutup diri untuk orang-orang miskin.

Dodo memang tidak pernah berhenti berteriak. "Saat pendidikan makin mahal, orang miskin harus belajar bersama-sama dan bekerja bersama sama," kata Dodo, yang dituangkan dalam syair lagu dan kegiatan nyata komunitas pengamen jalanan Taabah di Keparakan Kidul, Yogyakarta.

Tidak salah bila dikatakan bahwa learning is freedom. Belajar adalah kemerdekaan. (wis)