Menguak Tabu: Pengalaman Lapangan PPSW Menyoal Hak dan Kesehatan Reproduksi Perempuan

Pada tanggal 28 Juni 2002 yang lalu, Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), Jakarta mengadakan acara peluncuran buku yang berjudul Menguak Tabu: Pengalaman Lapang PPSW Menyoal Hak dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Selain peluncuran buku juga pemutaran video tentang kesehatan reproduksi perempuan dan pementasan drama “Ode buat Anah.

Pada acara bedah buku, Nani Zulminarni selaku direktur PPSW dan penulis buku mengutarakan bahwa buku ini merupakan bentuk sosialisasi pentingnya hak-hak kespro perempuan. Buku ini memuat pengalaman lapangan PPSW bersama para kader lokal dalam proses penyadaran kesehatan reproduksi. Buku ini juga memuat modul sederhana yang dapat digunakan sebagai alat bantu oleh para kader lokal dalam pendampingan kesehatan reproduksi.

dr. Ramonasari selaku pembicara mengatakan bahwa buku ini suatu kunci yang dapat dipakai oleh siapapun yang peduli dengan kesehatan reproduksi perempuan, kasus-kasus dalam buku ini memang merupakan gambaran nyata yang benar-benar terjadi.

Pembicara lainnya adalah Dr. Meiwita Budiharsana dari Ford Foundation mengatakan yang tertulis di bab 1 & 2 membesarkan hatinya karena memuat refleksi perjalanan organisasi PPSW secara transparan. PPSW menyentuh persoalan dasar yang seringkali justru disepelekan: (a) melihat persoalan dalam konteks keseluruhan atau secara sistematik; (b) menentukan skala prioritas (berpikir kritis); (c) dan mendorong masyarakat untuk menjadi “pelaku perubahan” itu sendiri. Perlu dicermati temuan PPWS bahwa perempuan tahu tentang kata hak tapi tidak bisa mengungkap maknanya. Juga bahwa perempuan mudah mengekspresikan arti sehat dan sakit, tidak terbatas pada arti sakit fisik tetapi juga dalam batasan mental (psikis atau kejiwaan), dan sosial.

Dr Meiwita menambahkan bahwa buku ini juga mengemukakan bahwa ketika diajak lebih mendalami masalah kesehatan terutama kesehatan reproduksi, budaya tabu menghalangi dan memperlambat proses penyadaran. Cara menerangkan secara benar bahwa hal tabu atau mitos seperti keharusan khitan perempuan, pendapat darah kotor waktu haid, dosa berhubungan seksual saat haid, serta kematian kegairahan seksual setelah menopause, lebih merupakan mitos belaka
Buku ini merupakan kesan dan pengalaman berharga PPSW. Setelah tabu dikuak, perlu diamati apakah perempuan mampu melangkah melalaui tahap “tahu” dan memasuki tahap melakukan perubahan diri.

Terakhi Nurul Arifin selaku moderator menyimpulkan bahwa belajar banyak membaca yang mendidik dapat membuka dan menambah cakrawala pengetahuan kita dan setelah menguak tabu dan menjadi tahu, kita bisa belajar untuk melakukan, dan ini merupakan langkah pemberdayaan terhadap perempuan. Pemberdayaan terhadap perempuan berarti juga pemberdayaan terhadap laki-laki (widi)