Tak Mudah Mengajak Perempuan Mengenali Tubunnya Sendiri

KISAH Anah bukan sebuah melodrama di atas panggung. Di Indonesia, ribuan bahkan mungkin jutaan "Anah" bisa jadi adalah mayoritas bisu yang memiliki pengalaman serupa namun berbeda kadarnya.

ANAH adalah perempuan buruh tani yang saat itu berusia 38 tahun. la menjadi ibu dari empat anak, dua di antaranya masih bersekolah di sekolah dasar. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan di Bogor, kadang juga ke Jakarta. Meski tetangganya tahu suami Anah yang jarang pulang itu adalah laki-laki kasar, sering memaki istrinya dan suka main perempuan, namun Anah selalu menutupi persoalan rumah tangganya.

Kegiatan rutinnya dijalankan dengan sepenuh hati. Pagi hari ia pergi ke sawah, siang hari mengurus rumah dan petang hari ke pengajian. Namun semakin hari, teman-temannya melihat gerak Anah semakin lambat, wajahnya semakin pucat dan ia tampak seperti menahan sakit. Di hadapan teman-temannya, Anah selalu berkata, "Saya baik-baik saja."

Namun kemudian teman-te­mannya tidak melihat Anah keluar rumah selama serninggu. Ternyata Anah terbaring sakit. Tubuhnya tampak sangat kurus, Anak perempuannya menjaga dan merawatnya dengan setia. Suatu hari, jeritan kesakitan Anah membuat tetangganya berdatangan.

Ketika ditanyakan apa yang dirasakan, Anah diam. Dengan wajah sedih anak perempuannya kemudian membukakan selimut yang menutupi badan Anah. Lalu tercium bau busuk. Tetangganya terperangah menyaksikan kenyataan di hadapan mereka: Bau busuk itu berasal dari vagina Anah. Ada benjolan-benjolan yang pecah di sekitar vagina dan selangkangan, meninggalkan lubang yang mengeluarkan darah dan nanah.

"Keadaannya sangat menyedihkan. Ia tidak bisa menelan apa pun," kenang Endang Sri Rahayu, petugas lapangan PPSW. Anah akhirnya memang dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, pihak rumah sakit tidak sanggup menangani penyakit Anah yang ternyata kanker stadium terakhir. Penyakit di bagian rahim dan vagina itu terjadi akibat penyakit menular seksual yang dibawa suaminya. Perempuan miskin asal Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi itu tidak tertolong dan akhirnya meninggal.

Kisah Anah diadaptasi dan dipentaskan pada Jumat petang di hadapan sekitar 100 kelompok perempuan dampingan PPSW dari Jabotabek, Sukabumi, Pandeglang, Karawang, Riau dan Pontianak, dalam acara peluncuran buku Menguak Tabu, Pengalaman Lapangan PPSW Menyoal Hak dan Kesehatan Reproduksi Perempuan, sebuah buku yang penerbitannya dibantu The Ford Foundation, memuat pengalaman para pendamping PPSW di lapangan sejak ta­hun 1995, yang dituliskan oleh aktivis pemberdayaan hak-hak perempuan dan mantan Direktur PPSW, Ir Nani Zulminarni MS. Kemudian ada diskusi yang dipandu aktris dan aktivis Nurul Arifin.

"Saya sedih karena teringat lagi pada Bu Anah," ujar seorang peserta dari Sukabumi. "Kalau dr Ramona mengatakan peristiwa seperti Bu Anah ada­lah sesuatu yang sungguh terjadi, maka saya menjalaninya langsung selama bertahun-tahun," ujar Hj Asmaniah, satu kader PPSW sejak lima tahun lalu dan aktivis di tingkat basis.

TIDAK mudah melakukan pendidikan mengenai kesehat­an reproduksi di tingkat masyarakat basis, karena umumnya mereka rnemiliki keterbatasan dalam pendidikan for­mal, akses informasi dan kesempatan, serta biasanya dipandang "enteng" dan diragukan kemampuannya oleh masyarakat. Karena itu, proses meruntuhkan kungkungan yang selama ini menghalangi keyakinan dirinya menjadi penting. Yang harus dibangun mulai tahap awal adalah ko­munikasi personal dan sosial.

"Pada mulanya mereka tidak berani bicara," ujar Hj Asmaniah. Tetapi melalui metode getok tular yakni komunikasi in­terpersonal antar perempuan dalam persinggungannya sehari-hari, di warung, di pasar, di lingkungan keluarga dan ternpat tinggal, pesan agar perempuan lebih memahami kesehatan dan hak reproduksinya bisa letaih efektif diterima.

Agen perubahan untuk membangun kesadaran kritis di dalam masyarakat basis adalah para kader lokal, karena merekalah yang paling mengerti kondisi masyarakatnya. Kader lokal ini adalah mereka dari berbagai wilayah yang mendapatkan pelatihan mengenai ke­sehatan dan hak reproduksinya. Mereka juga mendapatkan serangkaian pelatihan dan disku­si mengenai komunikasi, keasertifan dan kepemimpinan.

"Kami kemudian juga memfasilitasi pelatihan-pelatihan di penampungan tenaga kerja wanita," ujar Hj Asmaniah. Na­mun yang dirasakan sulit ada­lah ketika ia harus memfasilitasi kelompok yang anggotanya terdiri dari para perempuan gu­ru agama. "Saya mengucap bismillah lalu mulai masuk dari fiqih, jadi enggak langsung. Sampai akhirnya mereka be­rani bicara mengenai masalah pribadinya. Padahal sebelumnya jangankan ke orang lain, ke suaminya saja tidak berani."

PPSW memulai upaya ini sejak tujuh tahun lalu, bahkan jauh sebelum mereka akhirnya mengubah metodenya menjadi lebih holistik dengan pendekatan community development. Mereka tidak terjebak dengan pendekatan mobilisasi seperti yang dilakukan oleh lembaga lain di bidang kegiatan yang lebih kurang sama.

Sampai akhir tahun 2001, PP­SW bekerja sama dengan 151 kelompok perempuan basis ber­usia 16-60 tahun bekerja di sektor informal, dibantu 40 kader lokal terlatih dan 450 pemimpin kelompok perempuan yang potensial. Meskipun begitu, diakui hasilnya masih seperti setetes air di padang pasir.

MENGAPA persoalan kesehatan reproduksi perempuan tidak mudah dibicarakan? Menurut Nani, membicarakan hak dan kesehatan reproduksi berarti membicarakan hal yang sangat pribadi dan intim dalam diri perempuan dan laki-laki dan hubungan di antara kedua jenis kelamin tersebut. Karena itu, keterbukaan, kebebasan dan keyakinan bahwa hal tersebut layak dibicarakan .dan tidak melanggar norma, menjadi sangat penting.

Ini tidak mudah karena nilai budaya dengan segenap turunannya telah menancapkan sejumlah tabu yang turun-temurun sehingga dipercaya sebagai kebenaran dibandingkan kebenaran itu sendiri. Melanggar keyakinan itu secara membabi buta akan memberikan dampak buruk pada proses selanjutnya. Karena itu, ada sejumlah metode dilakukan sebagai upaya memberikan pemahaman mengenai organ reproduksi perempuan dan laki-laki.

"Haid merupakan peristiwa biologis yang harus dialami perempuan dewasa sehubungan dengan fungsi reproduksinya," tegas Ramona. la menegaskan, berhubungan seks saat haid rnemiliki risiko tertular penyakit menular seksual dan penyakit kelamin lainnya.

Sebagian perempuan di tingkat basis mengaku tetap melakukan hubungan seks walaupun dalam keadaan haid karena tidak bisa menolak keinginan suami. Sebagian lagi tidak melakukannya karena dilarang agama, meski mengakui keinginan untuk melakukan hubungan seks pada saat haid sangat tinggi.

Situasi ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada perempuan dengan tingkat pendidikan rendah dan tinggal di desa. Rita (36), mengalami hal serupa. Ibu satu anak ini adalah karyawan perusahaan swasta di Jakarta. Ia berpendidikan tinggi. Namun, ia tidak bisa membicarakan masalah keputihannya yang menahun pada suaminya. la juga tidak bisa menolak keinginan suaminya untuk terus melakukan hubungan seksual pada saat ia menstruasi.

"Selain berisiko tinggi tertular penyakit menular seksual karena sebenarnya saat itu rahim sedang luka, kemungkinan terjadinya emboli atau penyumbatan di jantung," sambung Ramona. Meiwita menambahkan penjelasan mengenai sejumlah tabu dan mitos soal menopause, sunat perem­puan dan secara khusus menjelaskan mengenai aborsi.

Dikatakan adanya image yang dikonstruksi masyarakat seakan perempuan tak punya pilihan lain dalam menghadapi kehamilan tak direncanakan. Pendapat membabi buta bahwa aborsi adalah dosa telah mengabaikan hak perempuan untuk mencari informasi dan pertolongan yang memanfaatkan kemajuan teknologi kese­hatan reproduksi.

Pendapat seperti itu menyebabkan penolakan dan penghakiman yang menggiring perempuan melakukan hal-hal yang malah membahayakan seperti memijat rahim dari perut, memasukkan daun atau ranting ke mulut rahim dan minum jamu agar merangsang keluarnya darah haid.

Meiwita juga mengatakan bahwa hasil interpretasi kontekstual agama, kemajuan ilmu kebidanan dan keberhasilan teknologi kesehatan reproduksi tentang proses reproduksi tidak banyak diperkenalkan kepada perempuan, juga tidak banyak dikuasai mereka yang menjadi panutan dan pemuka agama. "Akibatnya perempuan tidak tahu bahwa proses pematangan pembuahan telur oleh sperma perlu waktu lima sampai tujuh hari setelah hubungan seksual," ujar Meiwita, "Jadi dalam jangka waktu itu masih ada kesempatan melakuka upaya kontrasepsi."

MENURUT Meiwita, kebanyakan perempuan Indonesia suka menipu diri. "Budaya dan interpretasi agama membuat perempuan secara sadar atau tidak sadar melakukan penyangkalan terus-menerus," tegasnya.

Banyak perempuan menganggap suaminya tidak pernah menyeleweng, sehingga tidak mungkin ia menulari istrinya. "Meskipun meraba-raba kemungkinan itu, tetapi kemudian ia menyangkalnya sendiri," papar Meiwita mengenai sikap ambivalen perempuan. "Banyak perempuan tidak menyadari dirinya terkena infeksi penyakit menular seksual menahun. Padahal luka di dalam organ reproduksi perempuan kemungkinannya 9-11 kali tertular infeksi lain, termasuk HIV/AIDS," sambungnya.

Ramona dengan bahasa yang sangat sederhana meminta agar perempuan berani mencium keputihan yang menempel di celananya, karena bau yang ditimbulkannya berkaitan dengan salah satu gejala penyakit. "Ibu-ibu yang menopause jangan pakai krim tangan atau kaki untuk dioleskan ke vagina kalau mau hubungan seks, karena ada unsur minyak dalam krim itu yang menyebabkan terjadinya luka. Ada jelly khusus untuk itu, atau kalau kepepet, lebih baik dengan ludah," jelas Ramona menanggapi penggunaan hand and body lotion di organ reproduksi oleh sebagian responden.

Meiwita berpesan, "Sebagai perempuan kita harus menghargai organ reproduksi kita, karena dengan itu juga berarti menghargai diri kita sendiri.Kita harus berani mencari in-
formasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi kita."

Dengan pesan itu Meiwita menohok ke inti persoalan: otonomi perempuan atas tubuhnya sendiri. Memberikan pemahaman mengenai hal ini bukan sesuatu yang mudah karena di dalamnya bermain sejumlah faktor, yang sebagian besar menjadi fondasi dari cara berpikir masyarakat. Padahal persis di sinilah inti dari seluruh persoalan mengenai ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang dialami perempuan di berbagai bidang kehidupan.

Situasi ini pula yang digunakan rezim developmentalisme untuk meminggirkan perempuan. Dalam Program Keluarga Berencana misalnya, perempuan dilihat sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pertumbuhan penduduk.

Mengikuti logika kuantitatif dan tindakan memecah belah dari ilmu pengetahuan modern serta patriarki kapitalis sebagai pengontrol jumlah pendu­duk dan kaum developmentalis, manusia dikonsepkan terpisah dari basis sumber dayanya dan perempuan sebagai sesuatu yang terpisah dari organ-organ reproduksinya.

Kalau hal ini dikaitkan dengan paradigma reduksionis dalam teknologi reproduksi pe­rempuan, maka perempuan hanya sebagai kumpulan uterus dan "perpetrator" yang menyebabkan meledaknya jumlah penduduk. Pandangan ini mengesampingkan relasi sosial di antara manusia, antara perempuan dan laki-laki, dengan hakekat sebagai produser dan reproduser.

Pemisahan ini difasilitasi oleh patriarki kapitalis yang memandang produser sebagai bentuk terpisah dan superior, sedangkan perempuan sebagai reproduser dilihat sebagai sesuatu yang pasif, dan teralienasi dari tubuhnya sendiri; dari kapasitas prokreasinya dan dari setiap subyektivitas.

Dari sinilah seluruh pemaparan dokter, filsuf dan feminis asat India, Vandana Shiva, memberikan penjelasan komprehensif mengapa perempuan enggan berbicara mengenai sesuatu yang menyangkut organ reproduksinya. Bagian tubuh itu pula yang selalu menjadi bulan-bulanan dalam rezim "pembangunan", dan dalam suatu sistem pemerintahan dan tatanan masyarakat yang patriarki. (MH)