Zulminarni, MS: Menumbuhkan Kesadaran Kritis di Kelompok Basis

REALITAS sosial mengajarinya tentang banyak hal. Diskriminasi yang pernah ia terima mengajarkan bagaimana menghormati dan menghargai keberagaman. Ketidakmandirian ibunya secara ekonomi membukakan matanya pada masalah struktural yang mewujud dalam hubungan-hubungan yang tidak seimbang. Kemiskinan dalam arti luas di tingkat basis membuatnya yakin akan daya tahan, kekuatan dan otonomi perempuan.

Maka, pengalaman bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat di tingkat basis dianggapnya lebih berharga daripada ilmu yang didapatkannya di ruang kuliah di Kakultas Perikanan Institut Perlanian Bogor, bahkan di North Carolina State University di Amerika Scrikal, di niana ia menye-lesaikan studinya dan memperoleh gelar Master of Sociology (MS)-nya di bidang Pembangunan Masyarakat.

"bersama merekaka aku selalu memperoleh semangat baru. Mereka mengajariku banyak hal yang tidak aku dapatkun dalam berbagai teori tentang il­mu pengetahuan maupun moral," ujar Zulminami (38). Bisa dipahami kalau Nani begitu ia biasa dipanggil memilih menyelesaikan jabatannya seba­gai Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanila (PPSW) setengah tahun lebih awal dari masa jabatan yang seharusnya enam tahun. Ini supaya tidak terbentuk "tokoh" di dalam organisasi dan supaya lembaga tidak tergantung tokoh.

"Aku sekarang di Yayasan PPSW. tetapi, buat aku PPSW sudah seperti rumahku. Aku di situ, meski aku bisa bekerja untuk siapa saja, asal tetap dengan masyarakat di tingkat akar rumput," ujar ibu iga anak yang baru saja kembali dari Malang. Jawa Timur, untuk membantu teman-temannya mengorganisasikan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bekerja dengan perempuan petani lahan kering.

Melakukan pengorganisasian LSM di tingkat basis sudah ditekuninya sejak bergabung dengan PPSW. Ia mengikuti suluruh gerak dari gerakan ini de­ngan hati; dengan kata lain, ia melakukannya bukan sekadar sebagai pekerjaan, tetapi lebih sebagai panggilan hidup. Proses dari seluruh pekerjaannya bersama para perempuan di ting­kat basis kemudian juga menjadi pro­ses bagi dirinya sendiri.

"Aku merasa ideologiku berubah. Pandanganku tetang posisi perem­puan, tentang relasi social juga berbah," ungkapnya.

BERGABUNG dengan PPSW 14 tahun silam, tujuan Nani waktu itu sederbana saja: bekerja. "Aku baru lu­lus dan lurus hidup." ujar Nani. la menjawab tes lisan mengenai persoalan perempuan, dengan lancar karena menyaksikan pengalaman ibunya sendiri. PPSW menjpakan LSM perempuan yang terbentuk setelah Anisa Swasti di Yogyakarta dan Kalyanamitra di Ja­karta pada awal lahun 1980-an.

Tugas pertamanya di lapangan adalah ke Bagan Sia-iapi Riau. Di tempat itu ia terpesona menyaksikan ketangguhn para perempuan di lokasi transmigrasi. Kemudian ia diserahi tanggung jawab sebagai pendainping lapangan di Bogor. "Dari situ kesadar-anku tumbuh. Dalam diskusi dengan teman-teman setelah menyaksikan situasi di lapangan, aku sadar, ada per­soalan strukturul di balik berbagai per­soalan yang dialami perempuan."

Sebenarnya, sejak SMP, anak kedua dari 10 bersaudara yang dilahirkan di Ketapang, Kalimantan Barat, dari suku Melayu ini mengaku sudah kenal per­soalan relasi dalam rumah tangga. "Setelah anak ketiga. hampir setiap tahun ibu melahirkan. Kasihan sekali, karena kalau hamil varisesnya besar-besar. Ibu-ku tidak pernah pergi ke mana-mana. Keuar ke halaman saja jarang."

la melanjulkan, "Ibu selalu bilang, kami, anak-anak perempuannya, harus sekolah tinggi, harus punya uang sen­diri. la mengajari supaya kami, tujuh anak perempuannva, bisa mandiri. Ketika diterima di IPB tanpa tes, ibu yang mendorong agar aku berangkat."
Perjalanan hidupnya kemudian memberikan keyakinan pemberdayaan ekonomi cukup efektif sebagai cara masuk ke tingkat basis, pada perempuan di kelas sosial paling miskin. "Banyak contoh memperlihatkan bila perempuan man­diri secara ekonomi. mereka lebih berani mengambil kepulusan."

Namun, pemberdayaan ekonomi bukanlah satu-satunya entry point untuk melakukan intervensi. "Banyak teman LSM yang masuk lewat program kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi. Tergantung kelas sosial masyarakat yang akan didampingi," ujarya.

Pada beberapa wilayah kerjanya, PPSW juga masuk melalui program bacatulis. "Di berbagai tempat kami menjumpai banyak perempuan buta huruf. Usia mereka masih 20-an tahun. Karena itu, dalam pelatihan, kami sesedikit mungkin menggunakan bahasa tulisan. Kami pakai gambar, permainan, peerunjukan rakyat dan lain-lain," ujar Nani yang kini duduk dalam Komite Eksekulit Southeast Asia Po­pular Communication Program, jaringan regional untuk pengorganisasian masyarakat basis dengan metode komunikasi populer

PEREMPUAN yang menyebut dirinya feminis ini bukan tipe orang yang suka berbicara soal pencapaian. Dari lebih 5.000-an orang yang pernah ikut pelatihan PPSW dari Jawa Barat. DKI Jakarta, Riau. dan Kalimantan Barat, hanya 200-un yang 'jadi" sepeiti yang
diharapkan. Mereka berani, punya kemampuan memimpin, punya daya kritis yang tajam, diakui, bahkan sering diminta pertimbangannya oleh para pemimpin di tingkat lokal.

"Sebelum reformasi, kami berefleksi. rasanya sudah banyak sekali yang kami kerjakan, tetapi perubabannya kok , sedikit sekali. Kami baru menyadari babwa pembangunan sumberdaya manusia baru kelihatan hasilnya bila kondisi makronya berubah."

PPSW biasanya mulai dengan membangun organisasi mereka. Di situ, para : perempuan di tingkat akar rumput belajar bicara, memimpin, berorganisasi selain mengembangkan kegiatan ekonominya. "Kami mencoba mengeluarkan mereka dari rumah ke balai desa ' sampai ke pertemuan di tingkal nasional. Ini proses pemberdayaan yang lama, telapi benar-benar berdampak un­tuk mereka. Namun, kalau tidak terjadi reformasi, belum tentu mereka akan tampil, karena tetap saja ada kekha-watiran akan risiko kekritisan itu lerhadap keluarganya," sambungnya.

Nani percaya, kesadaran kritis di lingkat masyarakat akar rumput akan membuat mereka menjadi sebuah kekualan dahsyat, khususnya ketika otonomi daerah mulai dijalankan. "Mere­ka adalah bagian terbesar yang selama ini terabaikan. Padahal mereka punya potensi dan kekuatan. Tetapi, semua itu tidak muncul karena mereka tidak dibantu mengorganisir diri, tak ada yang membantu mengembangkan kemampuan mereka. Walaupun mereka sudah kritis, tak ada yang membantu bagaimana cara menyalurkannya."

"Aku percaya kalau bawah bisa mengorganisir diri dengan baik, tuntuan perubahan bisa dipercepat. Kalau sekarang kan perubahannya hanya dirancang kelompok-kelompok tertentu yang bergabung dalam parlai politik. Telapi, rakyatnya mana?"

Dengan otonomi daerah, situasi basis menjadi tanlangan. "Di daerah, pemahaman mengenai otonomi daerah ha­nya otonomi pengelolaan sumber daya saja. Pokoknya soal kekuasaan saja. Padahal sebenarnya potensi dari oto­nomi itu kemandirian. Bukan pemerintah yang menentukan, tetapi rakyal. Mereka yang harus berperan," landasnya lebih jauh.

Kalau dalam desentralisasi rakyat tidak kuat, yang terjadi di pusat akan dipindahkan ke daerah. Semua, termasuk kebobrokannya. "Kita sekarang memperkuat para perempuan di ling­kal basis agar mereka berani bicara. berani kritis mempertanyakan apa saja yang menyangkut kepentingan mereka dan masyarakatnya," Nani menegaskan, "Aku percaya pada kemampuan rakyat, karena bukankah kita sendiri adalah bagian dari rakyat?"
(Nimik MP/Maria H)