Sistem Perwakilan tak Wakili Suara Perempuan

Jakarta, Kompas. Perempuan di tingkat basis harus mulai memikirkan mekanisme penyaluran suara yang efisien dan efektif, sehingga suara mereka dapat didengar pemerintah yang sebetulnya membutuhkan suara dari tingkat basis sebagai mitra pembangunan. Sistem perwakilan di masa lalu ternyata tidak bisa mewakili kepentingan pihak yang diwakili.

Demikian antara lain ajakan Ibu Negara, Dra Sinta Nuriyah MHum ketika membuka pelatihan Peran Serta Perempuan Basis dalam Pengambilan Keputusan Mewujudkan Demokrasi yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) di Jakarta, Selasa (11/7).

Belajar dari pengalaman masa lalu, kata Nuriyah, salah satu yang harus segera dilakukan adalah menyusun kembali model pembangunan berdasarkan kebutuhan rakyat. Ini dilakukan, antara lain, dengan melakukan penguatan pada masyarakat di tingkat basis (akar rumput). Salah satu simpul penting dari masyarakat basis ini adalah perempuan. Masalahnya adalah bagaimana agar suara perempuan di tingkat basis ini dapat didengar, karena pengalaman masa lalu menunjukkan, sistem politik perwakilan tidak sepenuhnya dapat mewakili kepentingan pihak yang diwakilinya.

Nuriyah memberi contoh program keluarga berencana di mana perempuan hanya menjadi obyek pembangunan. Di masa lalu pembangunan ekonomi yang diarahkan pada pengembangan teknologi canggih ternyata tidak memberi dampak seperti yang diinginkan. Yang terjadi justru sebaliknya. Karena teknologi tinggi memerlukan dana sangat besar, maka dana-dana yang semula diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, seperti dana reboisasi, ikut diserap untuk mengembangkan teknologi itu. Akibatnya, kata Nuriyah, kerusakan lingkungan semakin menjadijadi.

Pembangunan ekonomi di masa lalu yang tidak diletakkan di atas pilar demokrasi juga berakibat menyejahterakan segelintir orang, sementara bagian yang terbesar menderita. Penderitaan paling nyata tampak ketika sebagian rakyat tidak lagi mendapat haknya yang paling dasar, yaitu hak mendapat kesejahteraan, terutama pangan, kesehatan dan pendidikan.

Kendala internal

Dalam seminar, Ketua PPSW Nani Zulminarni mengatakan, perempuan di tingkat basis menghadapi kendala internal dan eksternal untuk berani menyuarakan aspirasinya. Kendala internal, antara lain, tidak percaya diri karena merasa pengetahuannya terbatas, harus melakukan pekerjaan rumah tangga dan mencari nafkah sekaligus yang menghabiskan waktu, serta masih kuatnya nilai-nilai di dalam diri yang menganggap perempuan tidak boleh pergi meninggalkan rumah untuk bertemu dengan sesama perempuan dan mendiskusikan apa yang menjadi kebutuhan bersama mereka.

Kendala dari luar, antara lain, banyak tuntutan terhadap perempuan, yaitu harus mengerjakan urusan rumah tangga sendirian, tuntutan perempuan untuk di rumah saja dan tidak usah mengerti politik, serta terbatasnya iriformasi tentang perkembangan politik.

Erma Lena dari Fatayat NU dalam seminar menganjurkan para perempuan di tingkat basis untuk bekerja sama dengan kelompok perempuan yang punya kemampuan melobi kepada DPR/DPRD. Tetapi, Erma juga mengingatkan, sebelum berangkat menemui anggota Dewan sudah harus jelas aspirasi yang ingin diperjuangkan. (mh/nmp)