Sekelumit Mengenai Perempuan


ImageSelasa kemarin, 24 Agustus 2010, saya dan kawan-kawan dari Asosiasi PPSW menghadiri sebuah acara yang sangat membuat saya berkesan, dan semakin yakin pada jalan saya di pemberdayaan perempuan untuk menghapuskan diskriminasi, penindasan dan kekerasan terhadap perempuan. Anugerah Saparinah Sadli namanya, acara ini sudah dilaksanakan ke 3 kalinya sejak tahun 2004 untuk menghormati seorang tokoh perempuan legendaris yang masih segar bugar dan menjadi pahlawan pergerakan perempuan Indonesia, dan kebetulan kemarin bertepatan dengan ulang tahun ke-83 beliau.

Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh Indonesia, yang sebagian kecil saya tahu namanya, dan sebagian besar tidak tahu, karena mereka pada umumnya adalah kawan seperjuangan Ibu Saparinah. Yang saya yakin dan percaya adalah dari kerutan indah di wajah mereka, mereka memiliki peran yang sangat besar dalam mewujudkan pergerakan pemberdayaan perempuan sampai saat ini.


Banyak sekali hal-hal yang mengesankan dari acara ini, seperti kesan pertama bertemu dengan Ibu Saparinah, meskipun jujur baru kali itu saya tahu dan melihat beliau, dari wajahnya rasanya seperti tergambar semua cerita perjuangan, ide, serta peran beliau di dalam pemberdayaan perempuan, termasuk dalam perannya mendirikan Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Pada malam anugerah tersebut juga dilakukan pemberian Award kepada Perempuan Inspiratif untuk Indonesia, yang berjuang melawan ketidakadilan terhadap perempuan, dan malam itu merupakan malam terindah bagi kami, sebagai anggota Asosiasi PPSW, karena Nani Zulminarni, Wali Amanah kami, yang membawa kesuksesan PPSW dan Pekka selama hampir 20 tahun terakhir ini menjadi penerima Anugerah Saparinah Sadli 2010..(Selamat Ya Bunda…)

Kesan kedua adalah ketika panitia memperkenalkan seorang Ustadz yang akan memberikan tausyiah atau Kultum menjelang berbuka puasa, di tengah riuh rendahnya peserta yang sibuk bersalaman-cipika cipiki karena memeng ini merupakan moment silaturahmi bagi mereka yang sudah lama tidak bertemu. Ustad itu bernama Maman, sosoknya sederhana, panitia memperkenalkan dia sebagai seorang Ustadz atau Kyai yang menjadi korban kerusuhan FPI di Monas pada tahun 2007 yang lalu, saat itu beliau pun menjadi korban kekerasan. Dan memang para Pembela Islam ini tidak pandang bulu dalam sepak terjangnya, yang menjadi pertanyaan saya, Islam tidak dibela pun akan tetap menjadi Agama yang Kaffah, dan Allah Subhanawata’ala tidak dibela pun akan tetap menjadi Tuhan saya dan Tuhan semua umat Muslim di dunia. Jadi apa yang mereka bela??

Kembali ke topik Tausyiah Ustadz Maman, tema nya saat itu adalah ‘Hormat dan doa kepada semua Ummi di dunia”, salah satu isinya adalah mengenai Poligami. Beliau menyatakan dengan lantang, “Saya telah menjalankan sunnah rasulullah karena hanya memiliki 1 isteri”, untuk para pemuka agama dan mereka yang tendensius kepada istilah “Sunnah Rasul” menikah 1-4 kali, mungkin akan menentang ini habis-habisan. “Kenapa begitu?”, Ustadz Maman bertanya. beliau kemudian menceritakan sejarah Rasulullah SAW, beliau menikah dengan Khadijah RA selama 25 tahun, dan beliau amat setia, menjunjung tinggi harkat dan martabat istri tersayangnya itu, dan hanya Khadijah RA lah istrinya, sampai pada saat Khadijah meninggal, saat itu Rasulullah berusia 50 tahun.

Disini adalah kunci mengenai kesetiaan dan bagaimana Rasulullah tidak mengajarkan poligami. Setelah Khadidjah RA meninggal, Rasulullah memang menikah lagi dengan beberapa wanita, yang sebagian besar sudah menginjak usia 60 tahun ke atas, bahkan ada yang berusia 75 tahun, dan sebagian besar mereka adalah orang yang sangat miskin. Lalu apakah rela para penganut poligami yang sedang menjamur di Indonesia ini menikah dengan (maaf) wanita miskin yang berusia 60 tahun ke atas?? Saya rasa tidak…. Dari kisah inilah saya kemudian semakin yakin akan keistiqomahan dan keteguhan iman Rasulullah SAW, yang tidak mungkin menghina, merendahkan, dan menyakiti permepuan…bahwa Islam tidak mengajarkan penindasan, kekerasan, ketidak adilan, dan diskriminasi terhadap sesama, terutama perempuan.

Dan dari sebuah sudut dan sosok yang tidak populer seperti saya, saya hanya bisa memandang kagum dan berharap kalau saya bisa seperti Ibu Nani dan perempuan inspiratif lainnya…(@chiet)